by

Alissa Wahid: Asal Mula Gusdurian

Kabar Damai I Minggu, 23 Januari 2022

Jakarta I Kabardamai.id I Kiprah Gusdur terkenal tidak hanya karena ia pernah menjabat sebagai presiden Indonesia. Namun, lebih dari itu melalui ilmu dan pemikiran-pemikiran baiknya turut mengantarkan Gus Dur menjadi sosok yang tak terlupakan hingga kini walaupun ia telah lama wafat.

Gus Dur juga dikenal sebagai tokoh toleransi dan kemanusiaan. Ia merangkul semua golongan dan latarbelakang tanpa membeda-bedakan satu sama lain. Gus Dur adalah sosok yang sangat plural dan toleran yang diimplementasikan melalui banyak hal yang ia dapat lakukan.

Walaupun telah wafat, nilai kedamaian dan pluralisme Gus Dur tak begitu saja luntur. Justru, semangat itu terus ada dan terus besar dengan memberikan dampak-dampak baiknya yang dilanjutkan oleh para murid-murid Gus Dur hingga kini.

Gusdurian menjadi organisasi yang hingga kini menebarkan semangat baik Gus Dur. Melalui kanal IDN Times, Alissa Wahid yang merupakan putri dari Gus Dur sekaligus koordinator nasional Gusdurian menjelaskan awal terbentuknya organisasi ini dan semangat pergerakan yang dilakukan dibanyak daerah hingga kini.

Baca Juga: Belajar Menjadi Pemimpin yang Inklusif dan Pluralis bersama Alissa Wahid

Alissa Wahid mengungkapkan bahwa Gusdurian baru ada setelah Gus Dur wafat, banyak kelompok-kelompok yang selama ini dilemahkan misalnya kelompok petani, kelompok minoritas agama dan memberikan pertanyaan yang sama yaitu tentang pembelaan Gus Dur semasa hidup dan kini Gus Dur telah wafat sehingga khawatir tidak ada yang membela lagi.

“Karena itu kita membuat Jaringan Gusdurian tahun 2010 bersama murid-murid Gus Dur dari berbagai tempat. Sekarang Gusdurian ada di 130 kota dan bottom up sehingga dimiliki oleh komunitas Gusdurian ditingkat lokal,” ungkapnya.

Salah satu hal yang diingat Alissa yang menjadi konsen dan diadvokasi oleh Gusdurian lokal adalah perihal Salim Kancil yang masih menjadi perbincangan khalayak hingga kini.

Dari daerah, justru sesuatu justru semakin terlihat. Alissa mencontohkab, suatu ketika di kota kecil Lumajang ada sebuah desa yang mendadak viral karena ada dua orang warga desa yang dipukuli didepan play grup karena melawan lurah yang memanfaatkan lahan desa untuk pertambangan liar. Mereka berkumpul dan dua orang tersebut dianggap sebagai profokator sehingga centeng lurah dan menyebabkan satu meninggal dan satunya kritis.

Dari peristiwa tersebut, karena ada jaringan lokal sehingga Gusdurian dapat melakukan aksi dan fokus pada masalah yang terjadi.

“Saat itu, kami cepat faham karena ada Gusdurian. Kami dengar cerita-cerita langsung dari lapangan, pojokan-pojokan sudut Indonesia. Dari situ kami melihat Gusdurian punya satu tugas untuk menjawab situasi di lapangan,” terangnya.

Terakhir, Alissa sangat berharap bahwa gerakan Gusdurian yang ada dibanyak daerah kini dapat terus meneruskan semangat Gus Dur dan memberikan manfaat bagi siapapun yang membutuhkan.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed