by

Kasus KPI, Kasus Ahmadiyah, dan Kasus Coki Pardede, Alangkah Banyak Masalahnya Negeri Ini

-Opini-20 views

Oleh: Ai Siti Rahayu

 

Coki Pardede memenuhi linimasa media sosial. Bukan, bukan karena jokes-nya yang tidak pernah lucu itu menyinggung orang-orang, tapi karena kasus narkoba.

Coki terjerat kasus narkoba, dan pada saat yang kurang lebih sama, negara ini sedang diguncang isu pegawai KPI yang melakukan bullying dan pelecehan seksual. Lalu, kasus perusakan masjid Ahmadiyah di Sintang Kalimantan Barat, oh iya belum lagi bebasnya Saipul Jamil yang justru disambut bak Pahlawan.

Kasus kekerasan seksual yang terjadi di KPI sejak 2012 dan baru kemarin lalu terkuak menjadi sekian contoh betapa bobroknya sistem negara kita sehingga sosial media menjadi pilihan yang paling rasional.

Berdasarkan cerita penyintas, ia sudah mencoba mengadukan kasusnya sebanyak empat kali ke Komnas HAM, atasannya sendiri, hingga ke Polisi. Jangan berpikiran bahwa sang korban tidak melaporkan kasusnya ke polisi, bahkan hingga dua kali. Apakah penyintas mendapatkan keadilan yang ia inginkan? Tidak juga.

Ketika melaporkan kasusnya ke Komnas HAM, lembaga tersebut pun sudah melabeli kasus tersebut merupakan suatu tindak pidana. Namun, mau dilabeli apa pun oleh Komnas HAM, lembaga yang selalu terdepan dalam membela hak asasi manusia tadi tidak bisa berbuat banyak apalagi hingga menangkap para pelaku bejat.

Mencoba peruntungan dengan melaporkan kasusnya pertama kali ke polisi pada 2019, alih-alih mendapat tanggapan positif seperti akan di-BAP atau langsung dicari sang pelaku. Penyintas justru diminta untuk mengadukan kasusnya ke atasannya langsung.

Baca Juga: Saipul Jamil Bukan Korban, dan Mengapa Media Mengutamakan Sensasi?

Sejak kapan urusan kejahatan menjadi ranah internal institusi? Sejak kapan urusan kejahatan hanya dianggap urusan remeh temeh gesekan antarkaryawan atau maladministrasi yang bisa selesai dengan diadukan ke atasan?

Melaporkan kasusnya ke atasannya langsung pun tidak membuahkan keadilan yang berpihak pada korban. Bukannya langsung menindak para pelaku misalkan dengan mengadakan sidang etik atau tindakan pemecatan. Berbalik dari solusi yang ideal, justru solusi jitu dari atasan tadi hanyalah memindahkan korban ke divisi yang lain.

 

Masyarakat yang Toxic Masculinity

Di balik ribet nan susahnya memproses kasus sang korban, masih ada satu hal yang terpatri dalam pemikiran masyarakat Indonesia termasuk Pak Polisi dan Atasan korban tadi. Masih adanya stigma bahwa korban kekerasan seksual hanyalah seorang perempuan. Realitasnya, laki-laki pun bisa mengalaminya, itulah yang dialami sang korban kali ini.

Stigma tadi menjadi momok yang sangat menakutkan bagi saya melihat penanganan kasus kekerasan seksual. Belum selesai kekhawatiran atas lemahnya regulasi dan malasnya penegak hukum mengurus kasus kekerasan seksual. Korban kekerasan seksual terutama laki-laki harus berhadapan dengan stigma tersebut. Seakan-akan laki-laki tidak bisa mengalami pelecehan.

Saya pikir masyarakat kita terlalu banyak mengonsumsi toxic masculinity sejak dini, sehingga lelaki menangis atau sakit hatinya dianggap sebagai hal yang kurang jantan. Apalagi jadi korban pelecehan?

 

Media yang Hanya Cari Sensasi

Hal ini juga terjadi karena pengaruh media massa. Kekeliruan perspektif media massa dalam kasus pelecehan seksual menjadi kultur tersendiri dalam media massa di Indonesia. Ada faktor yang membudaya dan kental dengan budaya patriarki.

Kita dapat melihat bagaimana media membiasakan kita untuk melihat tayangan olahraga misalnya, dengan menjadikan perempuan sebagai pemanis, dengan pemberitaan cantik atau seksi bukan prestasinya.

Dari pemberitaan Saipul Jamil yang seolah dijadikan pahlawan dan korban, padahal dia adalah pelaku pelecehan seksual.  Kita sadar bagaimana ketidakadilan itu dipampang secara gamblang oleh media. Media yang seharusnya independen justru melakukan kapitalisasi terhadap sensasi.

Lalu peristiwa perusakan dan pembakaran masjid Jamaah Ahmadiyah Indonesia di Sintang Kalimantan Barat. Peristiwa itu adalah bentuk nyata dari bahaya terhadap eskalasi dari prasangka dan stigma, sehingga menggerakkan orang untuk melakukan tindak kekerasan terhadap kelompok yang dianggap berbeda.

 

Tindak Kekerasan di Negeri Majemuk

Kekerasan yang dialami oleh jemaah Ahmadiyah merupakan tindakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan hukum. Termasuk di dalamnya adalah pelarangan beribadah sampai perusakan masjid dan harta benda lainnya adalah bentuk pelanggaran HAM,

Massa menggunakan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyebut Ahmadiyah merupakan aliran sesat sebagai dalih melakukan tindakan persekusi itu.

Seharusnya MUI segera mencabut fatwa tentang Ahmadiyah. Karena selama ini fatwa tersebut selalu dijadikan dasar bagi sekelompok orang untuk melakukan tindak kekerasan terhadap Ahmadiyah di berbagai tempat. Fatwa tersebut sangat tidak cocok dengan konteks Indonesia yang mejemuk dalam hal agamamaupun pandangan dalam keyakinan keagamaan.

Ada apa dengan masyarakat Indonesia? setelah terjebak dengan toxic masculinity, masyarakat juga tidak menghargai perbedaan di negeri nan majemuk ini.

Masyarakat Indonesia seharusnya senantiasa menjaga keharmonisan dan kedamaian dalam bermasyarakat dan beragama dengan menghormati dan menghargai setiap perbedaan yang ada di antara kita. Tidak menjadikan perbedaan sebagai persoalan, melainkan menjadi rahmat bagi kita semua.

Lalu pemerintah juga lebih senang mencoba memperbaiki masalah, ketimbang mencegah masalah terjadi. Pun ketika pemerintah berusaha mencegah masalah, pelaksanaannya setengah-setengah. Coba, liat berapa poin RUU PKS yang diakui Baleg DPR RI? Empat dari 15 poin! Kita liat PPKM. Bantuan nggak merata, sasarannya cuman pedagang kecil.

Selain kasus diatas sudah berapa banyak kasus keluar minggu ini? Data PeduliLindungi yang bocor, Coki Pardede, KPI, kasus korupsi Bupati Probolinggo. Banyak netizen yang memberikan cuitan di twitter dan mengklaim kasus Coki Pardede adalah pengalihan isu karena jaraknya yang berdekatan.

Namun daripada memikirkan itu, sudah saatnya kita berusaha melihat dengan sudut yang lain, bahwa negara ini memang penuh potensi masalah yang tidak segera ditindaklanjuti. Yang perlu kita yakini ya memang negara ini tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Masalah baru akan muncul, mungkin dalam waktu dekat. Alangkah banyak masalahnya negeri ini. Hadeuh -_-

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed