by

Aktualisasi Pancasila dalam Dunia Pendidikan

Kabar Damai I Selasa, 22 Juni 2021

Klaten I kabardamai.id I Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Antonius Benny Susetyo, menyatakan pendidik harus menjadi teladan pengamalan Pancasila untuk anak peserta didik, dalam acara Seminar “Pancasila Dalam Tindakan, peran Pendidik dalam Pandemi Covid-19” yang dilaksanakan di Aula SMPN 2 Klaten Jawa Tengah, 17 Juni 2021.

Dilansir dari laman BPIP, acara ini dihadiri juga oleh Direktur Evaluasi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Edi Subowo, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Klaten, Wardhani Sugianto, dan moderator oleh Yunanta, Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Klaten, serta dihadiri secara daring dan luring oleh kurang lebih 1.260 peserta yang terdiri dari guru-guru dan pendidik dalam lingkungan Kabupaten Klaten.

Dalam kata sambutannya, Edi Subowo mengajak untuk seluruh elemen bangsa, tetutama peserta, untuk bersatu menghadapi permasalahan COVID-19.

Baca Juga: Ini Penjelasan BKN atas Pertanyaan Alquran atau Pancasila

Dalam sesi pemaparan, Benny memaparkan bahwa Indonesia memiliki kesadaran Bhinneka Tunggal Ika.

“Sudah menjadi sebuah kebiasaan bahwa Indonesia hidup majemuk. Nilai inilah yang sudah ada dari dulu,” ujarnya.

Namun, menurutnya bangsa Indonesia kehilangan bintang penuntun untuk tujuan hidup, dan hal itu didasari karena pendidikan Pancasila dihilangkan setelah zaman Reformasi.

“Pancasila hilang dalam wacana publik, karena trauma akibat disalahgunakan oleh rezim,” tegasnya.

Padahal, nilai Pancasila adalah nilai dasar hidup yang tidak boleh disalahgunakan oleh pihak manapun.

Permasalahan berikutnya untuk bangsa Indonesia adalah, menurutnya, tidak ada keteladanan. Oleh karena itu, Pancasila harus diajarkan dalam pendidikan untuk menjadi tujuan hidup dan keteladanan.

“Pancasila harus masuk dalam ekosistem pendidikan, masuk dalam materi pelajaran. Dalam dunia pendidikan, Pancasila harus masuk dan dikaitkan,” tandasnya.

Agar Orang Miliki Mental Sehat

Berkembangnya paham yang tidak berasal dari Indonesia, menurutnya, juga adalah permasalahan. Radikalisme, individualisme, kosmopolitan, adalah beberapa hal yang beredar. Pendidikan Pancasila, lanjutnya, hanya menjadi selera politik.

“Internalisasi Pancasila tidak berjalan jika seperti ini. Pendidik menjadi kebingungan,” ungkapnya.

Padahal, anak-anak membutuhkan pemahaman nilai yang satu kata dan mendalam, sehingga pendalaman nilai Pancasila tidak terjadi.

“Pendidikan Pancasila menjadi penting agar orang memiliki mental sehat, dengan ideologi milik sendiri, yaitu Pancasila,” terang Romo Benny.

Pancasila dibutuhkan untuk diajarkan kepada anak-anak peserta didik agar mereka merasa memiliki Pancasila.

“Pendidikan lebih kreatif, lebih inovatif, dalam pengajaran Pancasila. Bagaimana membangun kesadaran Pancasila adalah miliknya, bukan milik pihak lainnya,” ujarnya.

Keberhasilan pendidikan adalah saat anak-anak dapat mengamalkan nilai Pancasila dalam tindakan, paparnya.

“Nilai kemanusiaan, kebangsaan, persatuan, akan dapat diamalkan oleh anak-anak secara langsung dan menjadi sebuah kebiasaan,” katanya.

Dalam penutupannya, dia pun meminta guru-guru untuk melahirkan semangat Pancasila dalam hati anak-anak, dan karena itu, peserta juga butuh untuk memahami dan mengamalkan nilai Pancasila untuk dapat menjadi teladan.

Wardani Sugianto menyatakan bahwa anak-anak memiliki nilai-nilai Pancasila yang terpancar dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan menggunakan nilai-nilai seperti nilai kemandirian, kreatif, gotong-royong, dan kebhinekaan global.

“Semua nilai-nilai ini dibutuhkan. Kita harus kuat mengajarkan hal-hal ini, sehingga anak-anak dapat meneladaninya,” tutupnya.

“Pancasila bukan dihapal, tetapi diaplikasikan secara langsung, seperti menyanyikan lagu perjuangan sebelum kelas dimulai,” tambah moderator sebagai penutup sesi pemaparan.

Cegah Ekstremisme di Kalangan Pelajar

Sebelumnya, terpisah, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan, Anindito Aditomo menekankan Pancasila adalah pemikiran luar biasa para pendiri bangsa. Nilai-nilai Pancasila perlu diwariskan dan perlu diperkuat, agar siswa-siswa tidak hanya hafal, namun dapat mengamalkan nilai-nilai Pancasila.

“Menghayati akhlak mulia kepada agama, negara, alam, serta menghayati kemanusiaan, nilai-nilai demokrasi untuk mufakat, menghayati keadilan sosial, serta keberpihakan kepada yang lemah dan dipinggirkan,” tutur Anindito melalui keterangan tertulis, Kamis, 3 Juni 2021.

Anindito menilai upaya memunculkan nilai-nilai Pancasila di sekolah salah satunya dapat dilakukan dengan model pembelajaran yang lebih aplikatif. Yaitu, dengan perbaikan isi pembelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan.

“Proyek-proyek yang menerapkan pengalaman langsung, serta difusi dengan mata pelajaran (mapel) lainnya,” ungkapnya, dikutip dari medcom.id (3/6).

Asesmen Nasional merupakan upaya berikutnya yang tidak hanya mengukur aspek kognitif. Namun, mengukur aspek lingkungan belajar yang meliputi juga nilai kebhinekaan di sekolah, termasuk toleransi serta iklim kebinekaan dan inklusivitas.

Ia menambahkan, pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan di lingkungan pendidikan bukan saja tanggung jawab guru, tetapi juga keluarga. Oleh karena itu, sinergi tri pusat pendidikan perlu dikuatkan.

“Ekstremisme timbul karena kurangnya pemahaman kebangsaan dan kenegaraan,” tegasnya.

Anindito melanjutkan pembinaan kesadaran bela negara merupakan sebuah kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Penguatan sikap toleransi dan menghargai kebinekaan merupakan salah satu benteng pencegahan radikalisme dan ekstremisme di kalangan masyarakat, terutama pada generasi muda.

“Memperkokoh sikap toleransi dan inklusif terhadap perbedaan adalah mutlak,” ujar dia.

Menurut dia, pendidikan yang hanya menekankan pada pentingnya keseragaman dan mengabaikan keragaman bukan saja mematikan kreativitas, tetapi juga dapat melahirkan konflik sosial. Membangun satuan pendidikan yang menghargai pluralisme merupakan langkah strategis untuk memupuk kedewasaan berbangsa dan beragama.

Pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan di dunia pendidikan, kata Anindito, adalah upaya agar pelajar punya wawasan tentang kecerdasan emosi dan sosial serta pengetahuan tentang ekstremisme berbasis kekerasan.

“Ini juga agar siswa bisa menghindarkan diri dari pengaruh pemikiran, sikap, dan tindakan tersebut,” pungkasnya. [bpip/medcom.id]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed