by

Aktivis Pontianak Laporkan Peretasan dan Teror Digital ke Mapolda Kalbar

Kabar Damai I Rabu, 9 Januari 2021

Pontianak I Kabardamai.id I Seorang pegiat Aksi Kamisan Pontianak dan bagian dari Gerakan Rakyat Antikorupsi (Gertak) Kalimantan Barat, YS, yang menjadi korban peretasan, teror dan doxing melaporkan tindakan tersebut ke Mapolda Kalimantan Barat pada Senin (7/6/2021). Peretasan, teror digital, dan doxing terjadi kepada setidaknya 6 orang dari aliansi Gertak pasca aksi penyampaian pendapat menolak pelemahan KPK pada Kamis (3/6/2021), dan menjelang serta pasca aksi nonton bareng dan diskusi film karya Watchdoc berjudul the End Game, Sabtu (5/6/2021).

Ketika melapor, YS (26) didampingi 4 kuasa hukumnya dari Tim Advokasi Antikorupsi menyerahkan laporan tersebut dan diterima oleh Brigpol Fahrul Anggara Putera sebagai petugas yang bertugas, dan diberi nomor STTP/152/VI/2021/Ditreskrimsus. Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan penyampaian keterangan oleh YS dengan menyampaikan bahwa sejak Kamis (3/6/2021) akun grab-nya diretas, bahkan digunakan untuk melakukan pesanan palsu dan food bombing kepada YS.

Baca Juga: Optimalisasi Pemenuhan Hak Bagi Disabilitas

Selain itu, YS juga mendapatkan upaya peretasan akun WhatsApp-nya sehingga terpaksa mengganti nomor pada Jumat (4/6/2021) malam. Akan tetapi YS merasa bahwa sejak mengganti nomor akun WhatsAppnya, nomor yang lama nampak masih aktif sehingga YS meyakini nomor itu telah diretas. Hal itu dikuatkan dengan bukti chat dari satu anggota Gertak, yang menyatakan bahwa pada Sabtu (5/6) pagi mendapati nomor tersebut masih aktif dan dapat menerima pesan WhatsApp.

Dalam pemeriksaan terungkap, polisi menerima laporan bahwa nomor akun WhatsApp YS yang lama dan telah diretas tersebut sempat menyebarkan berita bohong dan berbau SARA dan ancaman kepada Sekolah Tinggi Khatolik Negeri (STAKatN) Pontianak. Terhadap hal tersebut, YS menyatakan kepada polisi bahwa bukan dia yang melakukannya, dan tidak mungkin dia menyebarkan hal tersebut kepada institusi Khatolik, karena YS adalah penganut agama Khatolik. YS juga menuturkan bahwa teman-temannya tidak pernah mendapat pesan siaran (broadcast massage) seperti itu darinya.

Selain peretasan, YS juga mendapat teror berupa panggilan dan pesan singkat yang berulang dan masif dari nomor-nomor tidak dikenal. Hal demikian membuat YS merasa terganggu dan merasa diteror. Sehingga YS memilih untuk mengganti nomor gawai dan sementara waktu menonaktifkan gawai, serta tidak tinggal di kediamannya lantaran merasa tidak aman.

Dalam laporan ke Kepolisian tersebut, selain meminta keterangan YS, dijadwalkan polisi juga akan meminta keterangan tiga saksi yang merupakan teman YS, terkait penggantian nomor telpon dan pesanan palsu dan food bombing.

Kami dari aliansi Gertak meyakini serangan-serangan ini berkaitan erat dengan isu pelemahan KPK yang kami suarakan dan hanya dapat dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki akses dan kemampuan. Terlebih hal itu berkaitan dengan pesan siaran yang disebar setelah peretasan itu jelas merupakan tuduhan yang keji hanya untuk melemahkan gerakan rakyat, gerakan anti korupsi, serta berusaha membenturkan sesama rakyat. Apalagi sejak Minggu (6/6/2021) akun Instagram Watchdoc sebagai rumah produksi film the End Game yang menceritakan pelemahan KPK juga turut diretas.

Maka kami, meminta Kepolisian mengungkap pelaku peretasan, sebagai upaya penegakan hukum demi perlindungan keamanan terhadap masyarakat di dunia digital.

Tertanda:

  1. Gerakan Rakyat Anti Korupsi (GERTAK) Kalimantan Barat
  2. Aksi Kamisan Pontianak
  3.  Jurnalis Perempuan Khatulistiwa
  4. Indonesia Corruption Watch (ICW)
  5. Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk)
  6. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)
  7. Satu Dalam Perbedaan (SADAP) Indonesia

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed