by

Ajarkan Berbagi, Umat Katolik Berbagi Buka Puasa Untuk Umat Muslim

Kabar Damai | Jumat, 23 April 2021

 

Jakarta I Kabardamai.id I Agustinus Pujo Irwantoro, koordinator kegiatan berbagi takjil gratis oleh Gereja Katolik Santo Paulus Miki Salatiga, menjelaskan gerejanya menyiapkan takjil untuk dibagikan kepada masyarakat secara gratis selama bulan puasa berlangsung.

Agustinus mengatakan tradisi berbagi takjil menjelang waktu berbuka puasa oleh umat nasrani di gerejanya telah berlangsung lama. Kegiatan itu, adalah upaya merajut toleransi antar umat beragama di Kota Salatiga.

“Berbagi takjil ini sudah kami lakukan sejak tahun 2014. Ketika pandemi melanda Indonesia bertepatan bulan Ramadan tahun lalu, kegiatan sosial berbagi takjil tetap kami lakukan,” terangnya. Dilansir dari Jawapos.com, di sela-sela berbagi takjil di depan Gereja Katolik Paulus Miki Salatiga, Rabu (21/4/2021)

Menurut Agustinus, semula ide membagikan takjil secara gratis itu sempat diliputi rasa khawatir akan adanya penolakan dari masyarakat. Tapi, dalam perjalanannya, banyak dukungan dan apresiasi sehingga kegiatan tersebut dijadikan tradisi setiap tahun pada bulan puasa.

Ia bercerita, menu takjil yang terdiri dari kolak, es dawet, bubur ketela, es buah dan lainnya merupakan hasil masakan jemaah gereja kemudian disumbangkan kepada panitia untuk dibagikan.

“Kami membebaskan jemaah mau menyumbang apa. Karena tujuannya sosial, tidak ada kewajiban khusus, tapi puji Tuhan selama ini semuanya mendukung,” katanya.

Dia menerangkan, sumbangan juga datang dari beberapa donatur yang beragama Islam. Mereka tertarik ambil bagian karena sesuai ajaran agama berbagi di bulan Ramadan pahalanya berlipat.

Agustinus mengaku dalam sehari terkumpul sekira 200-250 bungkus takjil siap untuk dibagikan. Hanya saja, karena situasi masih dalam pandemi serta keterbatasan tenaga sementara dibatasi maksimal 100 bungkus.

“Dulu sebelum pandemi kami biasa bagikan 200-250 bungkus takjil sebelum ada pandemi. Sekarang, terpaksa kami batasi karena panitia juga tidak boleh lebih dari 10 orang,” ujarnya.

Baca Juga : Umat Kristiani (Katolik) dan Umat Muslim:  Saksi-Saksi untuk Sebuah Harapan

Pihaknya mengungkapkan, pada masa awal pandemi masuk ke Indonesia tidak berselang lama Ramadan tiba tradisi membagikan takjil gratis sempat diganti sembako. Itu karena, adanya larangan berkerumun guna memutus rantai penularan Covid-19. Sumbangan yang diterima panitia waktu itu pun terbatas pada beras, mie telur, dan minyak.

Dirinya menyatakan, panitia menerapkan aturan tersebut bukan tanpa alasan tetapi lebih karena faktor kesehatan penerima bingkisan.

“Kami terpaksa menolak sumbangan mie instan karena secara kesehatan menurut tim medis kami kurang bagus dikonsumsi. Tapi tahun ini kami sudah kembali ke tradisi awal berupa jajanan pembuka (takjil),” jelasnya.

Warung Kasih di Jember

Tak hanya di Salatiga, umat Katolik yang ada di Jember, juga membagikan menu berbuka gratis bagi umat Islam dari kelompok menengah ke bawah. Tidak sekadar berbagi, tradisi yang dibalut forum Warung Kasih ini bahkan sudah rutin digelar selama 18 tahun terakhir. Hanya sekali tradisi ini absen, yakni pada bulan puasa tahun lalu, akibat pandemi yang sedang meninggi di Jember.

“Kami tahun ini kembali menggelar Warung Kasih untuk memenuhi keinginan para tukang becak di sekitar sini. Mereka bertanya mengapa Warung Kasih tahun ini masih tutup,” ujar Valentina Indarti, Ketua Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang Jember yang menjadi penyelenggara rutin Warung Kasih.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, jika biasanya menu berbuka dijual dengan harga amat murah untuk kaum dhuafa seperti tukang becak dan pedagang asongan, kali ini panitia memutuskan untuk menggratiskan seluruh menu berbuka. Selain itu, penempatan menu juga mengikuti protokol kesehatan.

“Karena pandemi, kita gratiskan saja semuanya. Selain itu, kalau tahun lalu, mereka biasa mengambil di piring, kali ini kita bungkus dalam nasi bungkus dan dimakan di rumah. Jadi potensi berkerumun bisa diminimalisir,” papar Valentina.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Warung Kasih juga digelar di halaman Panti Siwi, yayasan sosial milik Gereja Katolik Santo Yusuf yang terletak di samping Gereja Katolik Santo Yusuf. Lokasinya juga berdampingan dengan Masjid Jami’ al-Baitul Amien dan Alun-Alun Jember yang menjadi sentral aktivitas warga Jember.

“Kita buka Senin sampai Kamis setiap minggunya. Dalam sehari, kita sediakan 200 nasi bungkus secara gratis beserta minumnya. Kita tidak tahu, berapa nominalnya, karena ini semua atas keikhlasan para donatur,” tutup Valentina.

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Sumber: Merdeka I Jawapos.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

  1. Luar biasa inlah sejatinya Indonesia,kita rukun bersatau tanpa sekat. Mari kita jalin kesatuan dan persatuan untuk Indonesia Raya. seperti yang dicita-citakan Gus Dur, almarhum dan para Pemimpin bangsa bahwa Indonesia jadi percontohan kerukunan umat beragama. Mari kita galang Khebhinekaan dan kita tunjukkan bahwa Indonesia itu kuat dan Raya.

News Feed