by

Ajaran Tat Twam Asi dan Kerukunan Generasi Milenial

Oleh: Ni Made Swani

Om Swasty Astu. Om Awighnam Astu Namo Sidhham, Om Annobadrahkrtavoyantu visvatah. “Semoga tiada suatu halangan yang melintang dan segala pikiran yang baik datang dari segala penjuru”.

Dharma Wacana pekan ini membahas “Tat Twam Asi dan Kerukunan Generasi Milenial”. Seperti kita ketahui bersama, sekarang ini banyak manusia yang lebih suka mempertontonkan keangkuhan, kesombongan, iri hati, dengki, dan pamer. Sebaliknya,  sedikit sekali kisah keseharian dari hidup kita yang mencerminkan rasa simpati, empati, dan rasa senasib sepenanggungan. Kalaupun ada, frekuensinya relatif sangat sedikit.

Apalagi, sekarang ini pikiran manusia semakin berkembang sehingga dapat membuat teknologi yang sangat canggih. Bisa kita bayangkan pada masa yang akan datang, manusia akan semakin santai akibat dari perkembangan teknologi yang tak ter elakan. Mengapa demikian? Karena segala aktivitas manusia akan dibantu dengan kecanggihan teknologi. Akibatnya berdampak pada lahirnya generasi yang acuh, masa bodoh dan cenderung malas. Bahasa kekiniannya dikenal dengan sebutan generasi micin. Betul?

Sekarang, manusia maunya hidup praktis, ekonomis, dan gratis. Pokoknya yang penting tis. Betul tidak? Contohnya, ketika saat ini kita memesan makanan tidak perlu ke restoran atau ke lesehan, cukup bermodalkan HP Android, kuota internet dan aplikasi, lalu klik makanan yang disuka. Tanpa menunggu lama, makanan akan datang dengan sendirinya ke  tempat kita berada.

Kondisi ini tentu sangat berbeda pada 5-10 tahun lalu. Saat itu, ketika ingin membeli makanan, kita harus pergi ke tempat penjual makanan, dan tentu membutuhkan banyak waktu, tenaga, bahkan perasaan. Mungkin saja pada 5-10 tahun ke depan semua yang kita perlukan akan berbasis teknologi.

Tentu ini ada dampak positif dan negatifnya, salah satunya adalah kurangnya kepekaan dalam menjalin hubungan sosial antar sesama umat manusia. Akibatnya, kerukunan dan keharmonisan antar umat manusia semakin memudar dan bahkan hilang tanpa bekas. Demikian lah sekilas bayangan akan ngerinya perubahan peradaban pada masa mendatang, kalau tidak kita bentengi dengan ajaran agama yang selektif.

Dalam Kitab Katha Upanisad V.31 dinyatakan. “Nitho nityanam cetanas cetananam, eko bahunam yo vidadhati kaman tam pitha-gam ye ‘nupasyanti dhiras tesam santih sasvati netaresam”.

Baca Juga: Cap Go Meh dan Gotong Tao Pe Kong

Artinya: “Di antara kepribadian yang kekal dan yang berkesadaran, ada satu kepribadian yang menyediakan keperluan dari kepribadian-kepribadian yang lainnya. Orang bijaksana yang memuja kepribadian yang satu ini, yang bertempat tinggal di alamNya yang rohani akan mampu mencapai kedamaian sejati sedangkan yang lain, yang tidak memujaNya tidak akan mencapai kedamaian”.

Dari sloka ini, dapat kita simpulkan bahwa Tat Twam Asi berarti ”kamu (semua makhluk hidup) dan dia Ida Sang Hyang Widhi Wasa adalah sama. Kata ”sama” di sini hendaknya tidak disalahartikan. Ini tidak berarti bahwa kita sepenuhnya sama dengan Tuhan, namun kita mempunyai sifat yang sama dengan Tuhan dalam jumlah yang kecil.

Begitupula dalam kitab Brhad Aranyaka Upanisad disebutkan Aham Brahman Asmi yang artinya aku adalah Brahman. Artinya, di dalam diri kita ini adalah Brahman, di semua makhluk hidup ada Brahman. Jadi tidak ada pembeda di antara kita karena kita adalah satu, satu pencipta, satu kepercayaan, dan satu tujuan hidup, yaitu Moksa. Hanya saja tebal tipis selubung maya yang membedakan kita.

Artinya apa? Ajaran Tat Twam Asi merupakan dasar utama bagi kita untuk dapat mewujudkan masyarakat yang damai (santih). Sehingga patut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga tercipta hubungan yang rukun dan harmonis di antara kita.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Bhagavad Gita V.18:

“Widya winaya sampanne. Brahmanegawi hastini. Suni caiwa swa pake ca. Panditah sama darsinah”. Artinya: Orang bijak melihat dengan pandangan yang sama. Baik seorang Brahman terpelajar dan rendah hati. Seekor sapi, seekor gajah atau seekor anjing. Seorang yang berkelahiran hina.

Berdasarkan kutipan sloka tersebut dapat kita pahami bersama bahwa di dalam diri kita sudah tertanam bibit kasih sayang dan kedamaian. Perjalanan latihan bergerak semakin sempurna ketika manusia dalam kesehariannya rajin menyirami bibit kasih sayang dan perdamaian serta berhenti menyirami bibit kebecian dan kemarahan. Maka satu-satunya cara adalah dengan mempraktikan akan damainya cinta kasih ini melalui ajaran Tat Twam Asih. Maka Ia dapat seteguh karang dan semenyentuh embun pagi yang sejuk dan menyegarkan.

Kesimpulan yang dapat kita petik dari wacana dharma ini adalah mengimplementasikan ajaran Tat Twam Asi guna membangun kerukunan dan kepedulian terhadap sesama generasi milenial ini sangatlah penting untuk membiasakan diri kita melakukan perbuatan yang baik/Subha Karma serta membentengi diri kita dari perbuatan buruk/Asubha Karma. Om Santi-Santi-Santi Om

Ni Made Swani

Sumber: https://kemenag.go.id/read/ajaran-tat-twam-asi-dan-kerukunan-generasi-milenial-kdmk6

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed