by

Ajaran Kongzi dan Kejujuran dalam Menulis Sejarah

Oleh: Xs. Budi S. Tanuwibowo (Ketua Umum Dewan Rohaniwan Matakin)

Merasa masa hidupnya menjelang akhir, Kongzi, Confucius, bergegas menyelesaikan penulisan Chun Qiu Jing (Kitab Sejarah Musim Semi dan Rontok). Di sini Kongzi mencatat dan memberi pandangan tentang aneka pemerintahan dan persitiwa di zaman sebelumnya, dengan maksud agar generasi mendatang bisa mengambil hikmah dari sejarah apa adanya. Bila ada kebaikan dan nilai yang berharga, bisa diambil dan diterapkan dilanjutkan. Bila ada yang keliru atau kurang baik, bisa dijadikan bahan pelajaran mengapa terjadi dan berhati-hatilah agar tidak terulangi. Tak ada gunanya berlarut-larut menyalahkan, karena mubazir. Yang terbaik adalah mengambil hikmah untuk bahan pelajaran ke depan.

Apa yang dipikirkan Kongzi tentu sangat dipahami dan diyakini para Sejarahwan. Juga oleh orang-orang besar seperti Bung Karno sendiri. Ungkapan beliau “Jas Merah”, jangan sekali-kali melupakan sejarah adalah bukti bahwa beliau memahami pentingnya sejarah. Darinya kita bisa belajar banyak hal dalam konteks ruang dan waktu, sehingga akan memperkecil peluang mengulangi kesalahan yang sama di satu sisi, dan sekaligus memperbesar peluang untuk sukses lancar dan selamat dalam melangkah.

Namun apa yang diharap belum tentu akan terwujud. Apa yang digagas belum pasti terbayar lunas. Sejarah ironisnya mencatat, kita sering mengabaikan sejarah, meskipun menganggapnya penting. Banyak faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, baik yang terjadi di luar negeri, maupun di dalam negeri kita sendiri.

Baca Juga: Kesaksian Abraham

Pertama, masih rendahnya budaya menulis. Daya literasi kita rendah. Hampir setiap sekolah memang mempunyai perpustakaan, meskipun mungkin masih sederhana dan terbatas. Namun yang kebanyakan dibaca adalah bacaan ringan semata. Meski kini kita hidup di zaman yang super kaya informasi, tapi mayoritasnya lebih mengejar dan menggemari hoaks atau berita miring.

Kedua, penulisan sejarah masih belum digarap secara serius. Jangankan catatan dan dokumen masa lalu yang masih berserak di luar negeri -terutama Belanda, latar belakang peristiwa pasca kemerdekaan pun masih banyak yang kabur dan kontroversial. Saatnya penulisan sejarah digarap serius agar kita bisa mendapatkan cermin yang jujur dan terang, tanpa perlu terlalu menyalahkan peristiwa masa lalu yang sudah terjadi.

Ketiga, penyajian penulisan sejarah masih terkesan kering. Kebanyakan hanya menggambarkan apa, kapan dan di mana. Soal mengapa terjadi, apa latar belakang di baliknya dan bagaimana dinamika dan pergulatan prosesnya, kurang dipaparkan secara lengkap. Bahkan soal siapanya pun seringkali kabur karena berbagai faktor penyebab. Bisa karena tidak dikaji mendalam, kurang komprehensif, budaya ‘ewuh-pakewuh’, ketidakberanian dan atau ketidakjujuran dalam mengungkap fakta, dan sebagainya.

Keempat, belum adanya kesadaran mendalam bahwa hidup dan kehidupan bukanlah persoalan hitam-putih, dalam artian yang hitam akan selalu hitam dan yang putih akan selalu putih. Hidup, kehidupan dan manusia itu sendiri, semuanya terikat ruang dan waktu, yang tak lepas dari prinsip Yin-Yang. Yang putih ada hitamnya, dan yang hitam ada putihnya. Selalu berpadu, selalu berpasangan, bahkan dalam proporsi yang selalu berubah. Dinamis. Tak lepas dari konteks ruang dan waktu. Hanya perubahan yang abadi. Maka para Sejarahwan -termasuk juga para negarawan, perlu kiranya menambah porsi kejujuran dan wawasan ketika mau menuliskan sejarah, agar hasilnya benar-benar -atau setidak-tidaknya, faktual apa adanya. Dengan demikian baru sejarah bisa menjadi bahan kajian yang sahih dan tidak membiaskan pemahaman yang seharusnya.

Kontroversi yang tidak produktif dan tidak kondusif bagi pemulihan keutuhan bangsa yang sempat retak oleh berbagai peristiwa politik ini saatnya untuk diakhiri dengan belajar menulis sejarah yang komprehensif, proporsional, dan apa adanya, serta dibarengi sikap arif bijak dan dewasa dalam memahami sejarah sebagai catatan yang bersifat Yin-Yang terkait konteks ruang dan waktu. Tanpa kesadaran ini, kita tak pernah mendapatkan cermin yang bening, jujur, yang bisa menjadi alarm introspeksi, koreksi dan belajar yang benar-benar mampu membawa kita ke kemajuan. Saatnya kita memahami nasihat Bung Karno soal “Jas Merah” yang benar-benar bening apa adanya. Kalau dulu kita mengkritik pengaburan peran tokoh tertentu, janganlah kita kemudian sampai terjebak pada persoalan yang sama.

Sebagai penutup saya ingin menyampaikan dua nasihat Kongzi yang amat berharga, “Jangan lakukan apa yang diri sendiri tidak mau diperlakukan” dan “Bila diri ingin tegak, bantulah orang lain tegak”. Negara Kesatuan Republik Indonesia ada dan lestari sampai kondisinya yang sekarang, tak bisa lepas dari peran Soekarno-Hatta, Sudirman, Soeharto, Sri Sultan Hamengku Buwono X, BJ Habibie, Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, dan juga tokoh-tokoh bangsa lainnya.

Semoga kita benar-benar bisa belajar secara benar dari sejarah. Shanzai.

Xs. Budi S. Tanuwibowo (Ketua Umum Dewan Rohaniwan Matakin)

Sumber: https://kemenag.go.id/read/ajaran-kongzi-dan-kejujuran-dalam-menulis-sejarah-bgeae

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed