by

Ahmadiyah dan Komitmen Menyebarkan Islam Melalui Kedamaian

Kabar Damai I Jumat, 24 Desember 2021

Pontianak I Kabardamai.id I Licinnya jalanan Pontianak karena baru saja terguyur hujan sore itu tidak menyurutkan rombongan anak-anak muda di Pontianak untuk berkunjung ke Masjid Ahmadiyah. Rombongan ini selain guna bersilaturahmi juga ingin mengetahui apa itu Ahmadiyah.

Rustandi, Mubaligh Ahmadiyah beserta jemaat yang lain menyambut kedatangan rombongan dengan hangat. Tidak hanya minuman dan makanan ringan yang tersaji, bakso malang juga turut ia siapkan sembari menikmati cuaca yang dingin.

Dalam kesempatan tersebut, Kang Rus biasa ia disapa menjelaskan apa itu Ahmadiyah. Ia mengungkapkan bahwa jemaat Ahmadiyah adalah salah satu organisasi yang ada dalam Islam, Ahmadiyah itu didirikan oleh Hadrad Mirza Ghulam Ahmad pada tanggal 23 Maret 1889. Visi dan Misi jemaat Ahmadiyah itu visinya menegakkan kembali tauhid pada Allah SWT dan juga menyebarkan Islam yang damai.

Adapun ada kepercayaan di Jemaat Ahmadiyah itu sendiri bahwa jemaat Ahmadiyah sudah mengimani tentang kedatangan Imam Mahdi dan juga Al-Masih yang kedatanganya dijanjikan oleh Nabi Muhammad. Itu saja sebenarnya perbedaannya dengan Islam pada umumnya.

Diluaran, Ahmadiyah kerap dianggap berbahaya dan radikal serta tidak mencintai NKRI. Menanggapi hal tersebut, Rustandi menepis dan mengatakan bahwa Ahmadiyah senantiasa menebarkan kedamaian bagi semua.

“Itu tidak benar sekali, kalau berbicara radikal justru sebaliknya. Ahmadiyah yang menjadi bulan-bulanan radikal teman-teman yang lainya. Hingga saat ini Ahmadiyah berada dan Ahmadiyah sudah ada di 228 negara dan misi Ahmadiyah itu menyampaikan cinta untuk semua, tidak ada kebencian untuk siapapun,”.

Baca Juga: Keunikan Sosok ‘Isa Alaihis Salam dalam Ahmadiyah

“Jadi sudah jelas, apabila ada yang menyangkutpautkan Ahmadiyah itu radikal justru Ahmadiyah mencintai semuanya,” tuturnya.

Menurutnya, doa dan kebaikan senantiasa jemaat Ahmadiyah berikan kepada siapapun, termasuk mereka golongan intoleran yang telah melakukan tindakan tidak baik pada Ahmadiyah itu sendiri.

“Dalam artian mencintai disini, memang tanpa memandang siapapun. Bahkan jika ada yang membencipun, kita mencintai mereka dan membalas segala yang mereka lakukan yang sifatnya tidak baik kepada kita dibalas dengan kebaikan dan juga dengan doa,” tambahnya.

Ahmadiyah dan Aksi-Aksi Kemanusiaan

Kontribusi dan peranan Ahmadiyah dalam memberikan hal baik serta bermanfaat selalu dilakukan. Rustandi menyatakan bahwa jemaat Ahmadiyah sebenarnya punya sayap organisasi, seperti Humanity First.

“Di Ahmadiyah ini beberapa kali melihat situasi dan kondisi disuatu negara misalnya beberapa bulan yang lalu mengadakan kegiatan kemanusiaan di Sintang yang terkena banjir berupa sembako, kemudian juga di Semeru yang baru-baru ini juga Ahmadiyah terlibat dikegiatan sosial tersebut,” ungkapnya.

Hal lain yang konsiten dilakukan juga melalui donor mata yang bahkan telah mendapatkan penghargaan didalamnya.

“Ahmadiyah juga menjadi organisasi yan bahkan kami dari jemaat Ahmadiyah juga mendapatkan MURI dalam kegiatan donor mata. Jadi setiap Ahmadi, sejak lama sudah diberikan formulir apabila nanti meninggal maka matanya akan didonorkan dan ini Ahmadiyah menjadi organisasi yang paling banyak menyerahkan kornea mata untuk orang-orang yang tidak bisa melihat,” terangnya.

Selain itu, donor darah serta clean the city juga rutin dilakukan oleh Ahmadiyah hingga saat ini.

“Kemudian kegiatan donor darah juga senantiasa kita ramaikan melalui Gerakan Donor Darah Nasional yang biasanya dilakukan dua bulan sekali secara serentak. Misal sudah diinstruksikan dari pusat maka akan langsung dilakukan,”

“Kegiatan yang lain juga biasanya kita lakukan clean the city, itu kita membersihkan kota terutama saat momentum-momentum hari besar, ada pula seperti membersihkan pantai dan lain sebagainya,” bebernya.

Komitmen guna menyebarkan Islam secara damai serta terus melakukan hal baik selalu dilakukan oleh Ahmadiyah dimanapun berada. Termasuk JAI yang ada di Kalimantan Barat.

“Ahmadiyah di Kalbar itu ada di Pontianak, pertama kali ada sejak tahun 1930-an. Kemudian tahun 2000-an berkembang dan ada di Landak, berikutnya di Entikong, Bengkayang dan Sintang. Semuanya mendukung gerakan-gerakan tadi dan juga melaksanakannya,” pungkasnya.

 

Penulis: Rio Pratama

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed