by

Ahmadi Talk: Menjawab Bagaimana Khalifah Ahmadiyah Dipilih?

Kabar Damai I Sabtu, 01 Januari 2022

Jakarta I Kabardamai.id I Mln. Luthfi Julian Putra melalui kanal Ahmadi Talk menjawab tentang bagaimana seorang Khalifah Ahmadiyah dipilih. Ia menyatakan bahwa sejatinya khalifah adalah sosok pengganti sekaligus penerus misi dari seorang nabi.

Seorang nabi mendakwakan diri bahwa ia adalah utusan Tuhan kemudian akan banyak orang yang mengikutinya dan seiring dengan menjalankan misi kenabian tersebut karena nabi juga merupakan manusia dan akan wafat, setelah kewafatan nabi maka dipilihlah atau ditunjuklah seorang pengganti atau penerus dari nabi atau utusan Tuhan yang wafat itu.

Melihat dizaman Rasulullah, ketika beliau wafat maka para sahabat berkumpul dan memilih seorang khalifah bernama Abu Bakar Assidiq (r.a). Begitu juga pada masa khalifah kedua Hazrat Umar Bin Khatab (r.a) menjelang kewafatan beliau, ia membentuk sebuah komite pemilihan khalifah dan menunjuk beberapa sahabat untuk menjadi bagian dari komite tersebut. Kemudian terpilihlah Hazrat Usman dan seterusnya sampai Hazrat Ali.

Begitu juga dengan pemilihan khalifah Ahmadiyah, menurut Mln. Luthfi Julian Putra ketika Hadrad Mirza Ghulam Ahmad yang mendakwakan diri sebagai Isa Al-Masih yang dijanjikan dikalangan muslim wafat maka para Ahmadi berkumpul dan menghasilkan satu keputusan yang bulat pemilihan yang satu yaitu kepada Hazrat Hakeem Nooruddin yang menjadi Khalifatul Masih yang pertama.

Kemudian dimasa Khalifatul Masih yang kedua, Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad juga demikian. Beliau membentuk satu komite yang didalamnya terdiri dari beberapa orang pilihan yang didalamnya juga dapat dipilih menjadi seorang khalifah dan kita saksikan sampai saat ini pemilihan khalifah demikian berlangsung.

Baca Juga: Ahmadiyah dan Aksi-Aksi Untuk Kemanusiaan

“Satu hal yang penting dan perlu garis bawahi bahwa kita yakin bahwa sejatinya Allah yang memilih atau menunjuk seorang khalifah. Memang secara lahiriahnya para Ahmadi berkumpul untuk sama-sama berdoa agar diberi petunjuk Allah. Pada hakikatnya Allah-lah yang menunjuk khalifah tersebut, membimbing para Ahmadi yang hadir untuk memilih pilihannya,” terangnya.

Selain itu, cara lain ialah ada juga fenomena melalui mimpi dimana Ahmadi bermimpi bahwa khalifah yang selanjutnya adalah seseorang yang tidak disebutkan hanya disimpan dalam hati dan ketika sudah terpilih khalifah tersebut maka benar saja seperti apa yang dilihatnya didalam mimpi. Inilah salah satu cara bagaimana Allah membimbing para Ahmadi dalam memperlihatkan pilihannya.

Kemudian yang tidak kalah pentingnya dari fenomena khalifah Ahmadiyah ini bahwa kita yakin sebagaimana kita yakin bahwa khalifah adalah pilihan Allah kita saksikan dalam sejarah jemaat Ahmadiyah dari yang pertama sampai sekarang ialah bagaimana penindasan, penganiayaan yang dilontarkan dari para penentang Ahmadiyah namun para Ahmadi diseluruh dunia dibawah bimbingan khalifah tetap sabar dan tidak keluar satu langkahpun dari ajaran Islam.

Selain itu, terbukti sampai saat ini para Ahmadi dan para khalifahnya terjaga dari melakukan tindakan-tindakan atau respon-respon balasan yang tentunya bertentangan dengan ajaran Islam dan sampai saat ini Ahmadiyah justru selalu dan semakin berkembang diseluruh pelosok dunia walaupun dengan seiring perkembangannya selalu ada saja penentangan.

“Ini menjadi bukti dari kebenaran khilafah Ahmadiyah dimana Allah senantiasa membimbing khalifah Ahmadiyah dalam langkah beliau yang menghasilkan kebaikan-kebaikan dan keberkahan bagi Ahmadiyah pada khususnya dan umat manusia secara umum,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed