Ahmad Nurcholish: Keberadaan Museum Holocaust Memiliki Banyak Manfaat

Kabar Utama1120 Views

Kabar Damai | 01 Maret 2022

Jakarta | kabardamai.id | Komunitas Yahudi di Tondano, Minahasa Sulawesi Utara mendirikan museum Holocaust sebagai upaya mengenang keluarga yang telah meninggal akibat pembantaian oleh Nazi terhadap Yahudi dimasa lalu.

Museum yang dibangun sejak Oktober 2021 dan diresmikan pada Januari 2022 ini kini telah beroperasi dan menjadi sarana edukasi mengenai Yahudi serta upaya sadar tentang pentingnya menolak intoleransi serta sebagai sebagai tempat perjumpaan yang terbuka bagi semua kalangan yang hendak berkunjung.

Dibangun dengan tujuan yang baik, faktanya ada saja kalangan yang mempermasalahkan keberadaan museum tersebut kini, menariknya museum yang juga dibangun atas dukungan masyarakat Minahasa, pemerintah Sulut hingga pemerintahan Jerman ini dianggap kurang tepat dibangun di Indonesia oleh salah satu organisasi masyarakat muslim yang keberadaannya justru berada jauh dari Sulut.

Melalui peace forum yang diselenggarakan melalui zoom virtual meeting, Ahmad Nurcholish dari Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) memaparkan tentang pentingnya keberadaan museum Holocaust ini.

Diawal pemaparannya, ia mengungkapkan alasan mengapa masyarakat sebagian khususunya yang beragama muslim menolak museum Holocaust, hal ini biasanya karena mereka selalu mengaitkan antara Yahudi dan Isreal. Menurutnya, ini menjadi sesuatu yang bias karena Yahudi dan Israel adalah dua hal yang berbeda. Hal ini juga karena adanya perilaku Israel kepada Palestina yang sudah sejak lama terjadi dan menjadi acuan banyak orang dalam penolakan yang ada.

Baca Juga: Dr. Bambang Nursena: Keberadaan Museum Holocaust Bentuk Menghormati Kebebasan Beragama

“Yahudi di Indonesia ditolak karena anggapan bahwa Israel menganut Yahudi, walaupun pada dasarnya tidak semua orang Israel menganut Yahudi. Ketika di Indonesia ada museum  Holocaust, yang terersit dibenak mereka adalah tentang bahaya Yahudi ada didepan mata,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa sebagian umat khususnya muslim meyakini bahwa ini adalah upaya atau pintu masuk Yahudi di Indonesia. Perihal penolakan ini, Ahmad Nurcholist amat menyayangkan mengingat Memang menurut konstitusi menjadi hal yang sah ketika terdapat komunitas yang ingin menyebarkan sebuah keyakinannya.

Lebih jauh, Ahmad Nurcholish juga memaparkan tentang pentingnya keberadaan museum Holocaust.

“Keberadan museum ini menjadi penting mengingat banyak hal yang samar dari pengetahuan kita semua tentang Yahudi. Data-data yang ada didalamnya dapat kita jadikan sebagai sarana edukasi formal tentang Yahudi,” terangnya.

Menurutnya pula, museum ini juga dapat dijadikna sebagai ruang perjumpaan mengingat banyaknya ketertarikan dan antusian masyarakat untuk berkunjung ke museum ini, tidak hanya dari Yahudi namun juga dari banyak agama lainnya yang memungkinkan adanya dialog didalamnya.

Manfaat lain dalam konteks kebinekaan, keberadaan museum Holocaust di Minahasa juga sebagai bukti  yang meneguhkan bahwa Minahasa sebagai kota yang toleran.

“Saya melihat masyarakat Minahasa yang tingkat tolerasinya sangat baik, apalagi dengan adanya museum yang tidak hanya didukung oleh masyarakat namun juga pemerintah adalah merupakan hal yang luar biasa,” tambahnya.

Terakhir, keberadaan museum Holocaust sejatinya dapat menjadi sebuah inspirasi bagi masyarakat didaerah lain, bukan untuk mendirikan museum serupa, bukan dalam artian agar mendirikan museum serupa namun  sebagai bentuk penerimanaan terhadap keberagaman suku dan agama agar Indonesia semakin toleran.

Penulis: Rio Pratama

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *