by

Ahdar : Yang Membedakan Laki-Laki dan Perempuan Adalah Amal Solehnya

-Kabar Puan-45 views

Kabar Damai | Sabtu, 24 April 2021

Parepare I Kabardamai.id I Masyarakat Indonesia baru saja memperingati Hari Kartini setiap tanggal 21 April setiap tahunnya.

Semangat dan optimisme Kartini dalam mencapai kesetaraan dan merubah kaumnya turut mengilhami Himpunan Mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam (HMPS-SPI) IAIN Parpare menyelenggarakan Ngaji Sejarah dengan tema Menilik Perjuangan R.A Kartini Sebagai Pelopor Kebangkitan Perempuan Pribumi. Dilaksanakan via goole meeting. Kamis, (22/4/2021).

Dr. Ahdar, dosen sekaligus pemateri dalam kegiatan ini membuka pemaparan dengan mengaitkan antara gender dan sex. Menurutnya keduanya memiliki perbedaan karena berhubungan dengan kodrat dan juga sisi biologis.

Dikatakan, ketidaktuntasan dalam memahami hal diatas membuat perempuan kerap mendapatkan streotip yang kurang baik dalam masyarakat.

“Banyak stereotipe yang melabeli perempuan hingga menyebabkan kekerasan kepada perempuan bahkan hingga saat ini. Perempuan tidak boleh melakukan ini dan itu karena dianggap tidak mampu padahal sejak masa Kartini, perempuan sudahun membuktikan bahwa mereka bisa,” ungkapnya

Menurutnya, sudah sejak lama pula perempuan direpresentasikan sebagai setengah manusia dan setengah iblis. Ini dilihat dari peristiwa turunnya Adam dan Hawa ke bumi yaitu saat Adam tidak dapat dirayu iblim namun mengalah setelah Hawa yang memintanya. Selain itu, saat Adam dan Hawa bertemu di bumi dan secara biologis Hawa mengalami menstrusi dianggap sebagai kutukan sehingga harus ditempatkan didalam goa.

Ahdar menyatakan, bersyukur hingga akhirnya ada Al-Quran yang kemudian mengangkat derajat perempuan.

“Oleh karena itu, ketika islam masuk salah satu yang paling berterimakasih adalah perempuan karena derajatnya diangkat oleh Allah,” tuturnya

Oleh karenanya, stereotip buruk tentang perempuan harus diakhiri sehingga perlu adanya Kartini milenial saat ini.

“Dilihat dari konsep Islam dan dilihat dari perjuangan Kartini, perlu hadir Kartini milenial yang mana perempuan itu bisa turut andil dalam masyarakat, kedua perempuan bisa menjadi nafkah, dan ketiga konsep Kartini milenial itu harus sportif dan berakhlak mulia,” jelasnya

Ia juga menyatakan bahwa tidak ada batasan antara laki-laki dan perempuan, karena dimata Tuhan yang membedakan adalah amal solehnya.

“Memaknai perjuangan Kartini ialah mendapatkan kesetaraan, menghilangkan streotip bahwa perempuan tidak bisa, lalu membuka kesempatan untuk berkarya. Tidak ada pembeda antara laki-laki dan perempuan, yang membedaan laki-laki dan perempuan adalah amal solehnya,” jelasnya lebih jauh

Perihal kesetaraan, menurut Ahdar perempuan bisa melakukan apa saja, baik ranah domestic maupun publik.

Baca Juga : Deklarasi Rembang: Respon Isu Gender dan Anak saat Pandemi

“Konsep keadilan sama sama mencari hak dan kewajibannya yang diatur dalam Islam. Perempuan bisa berkarir secara domestik namun juga dalam bidang publik. Asalkan mampu memegang koridornya sebagai perempuan muslimah dan perempunan solehah,” jelasnya

Terakhir, perihal ketimpangan porsi laki-laki dan perempuan dalam parlemen. Menurutnya salah satunya karena banyak perempuan yang tidak percaya diri. Ia juga berpesan agar perempuan lebih percaya diri dan meningkatkan prestasi.

“Kuota yang ada di Indonesia dalam parlemen masih dibawah rata-rata hanya 30%. Masih banyak anggapan bahwa batasan perempuan dalam keluarga bukan berkarya. Ini menunjukkan bahwa perempuan Indonesia masih banyak yang belum meningkatkan self confident dan merasa tidak mampu. Sehingga tuntutan yang menunjukkan kemampuannya untuk berprestasi dan berkarya harus ada saat ini,” tutupnya.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed