by

Agama Bahá’í dan Perkembangannya di Indonesia

-Religipedia-260 views

Kabar Damai | Kamis, 18 Maret 2021

 

Riaz Muzaffar

 

Dalam setiap masa dari sejarah bangsa-bangsa di bumi telah selalu diingat oleh Tuhan, dan Realitas Yang Tak Bisa Dikenali itu telah membuka pintu gerbang-pintu gerbang Rahmat kepada dunia dengan mengirimkan Utusan yang ditugaskan untuk memberikan stimulus moral dan rohani bahwa umat manusia harus bekerjasama dan maju. Masing-masing dari para visioner rohani dan sosial ini, cermin-cermin kebajikan yang tak ternoda ini, mengeluarkan ajaran-ajaran dan kebenaran-kebenaran yang menjawab kebutuhan-kebutuhan mendesak dari zamannya.

Saat dunia sekarang menghadapi tantangan-tantangan yang paling mendesak, orang-orang Bahá’í mengakui Baha’u’llah, yang lahir dua ratus tahun yang lalu, sebagai Sosok seperti itu, yang ajaran-ajaran-Nya mengarahkan umat manusia pada masa yang telah lama dijanjikan ketika seluruh umat manusia akan hidup berdampingan dalam kedamaian dan persatuan.

Bahá’u’lláh membawa misi ilahiah dari Tuhan tentang tibanya Zaman Baru dihadapan umat manusia. Dia mengajarkan bahwa saat ini umat manusia secara kolektif telah berada di ambang masa kedewasaannya, suatu zaman yang secara bertahap tetapi secara pasti akan menyaksikan persatuan umat manusia.

Bahá’u’lláh, merupakan sebuah gelar yang berarti Kemuliaan Tuhan. Beliau lahir di Persia pada tahun 1817 dan mengumumkan misi-Nya pada 1863.  Dalam perjalanan-Nya di sebagian besar Kesultanan Utsmaniyah Bahá’u’lláh banyak menulis wahyu yang diterima-Nya ke dalam beratus-ratus jilid kitab suci dan menjelaskan secara luas tentang prinsip-prinsip dan landasan-landasan yang diperlukan oleh umat manusia agar perdamaian yang diidamkan dapat tercapai.

Dia meletakan tiga pilat utama kesatuan yakni, keesaan Tuhan, sumber surgawi yang tunggal dari semua agama dan kesatuan umat manusia. Sebuah konsepsi “kesatuan dalam keberagaman”. Dalam salah satu tulisan-Nya, Bahá’u’lláh menjelaskan bahwa “Tiada keraguan apa pun bahwa orang-orang di dunia, dari agama atau bangsa apa pun, memperoleh ilham mereka dari satu Sumber Surgawi, dan merupakan hamba dari satu Tuhan.”

Beberapa ajaran yang berporos pada ketiga pilar tersebut adalah:

  1. Penghilangan Segala Bentuk Prasangka: Agama, Rasa, Kebangsaan, dan Kelas Sosial;
  2. Pencarian Kebenaran Secara Mandiri;
  3. Pendidikan Diwajibkan bagi Semua;
  4. Keseteraan Laki-laki dan Perempuan;
  5. Musyawarah dalam Segala Hal;
  6. Keselarasan Antara Agama dan Ilmu Pengetahuan;
  7. Penyelesaian Masalah Ekonomi Secara Rohani;
  8. Kesetiaan Pada Pemerintah.

Sejak masa mudanya Bahá’u’lláh dianggap membawa jejak takdir oleh orang-orang yang mengenal-Nya. Diberkati dengan karakter suci dan kebijakan yang tidak biasa, Dia tampak tersentuh oleh cahaya kasih dari surga.

Namun, Dia dibuat menanggung empat puluh tahun penderitaan, termasuk pembuangan dan penahanan yang berturut-turut atas keputusan dua raja, propaganda untuk menjelekkan nama-Nya dan mengutuk para pengikut-Nya, kekerasan pada Diri-Nya, usaha-usaha yang memalukan untuk menghilangkan nyawa-Nya—yang kesemuanya itu, demi cinta yang tak terbatas untuk kemanusiaan, ditanggung-Nya dengan sukarela, dengan kegembiraan dan kesabaran, dan dengan belas kasih pada para penyiksa-Nya. Bahkan pengambilalihan semua harta milik-Nya tidak membuat Dia terganggu.

Para pengamat mungkin bertanya-tanya mengapa Orang yang cinta-Nya pada orang lain begitu sempurna harus menjadi sasaran permusuhan seperti itu, mengingat Dia seharusnya menjadi objek pujian dan kekaguman universal, yang terkenal karena kebajikan-Nya dan pikiran-Nya yang luhur, dan telah menolak mencari kekuasaan politik. Bagi mereka yang terbiasa dengan pola sejarah, alasan dari cobaan-cobaan-Nya, tentu, sangatlah jelas.

Munculnya Utusan Tuhan di dunia ini selalu memunculkan perlawanan-perlawanan ganas dari

para pemilik kekuasaan. Tapi cahaya kebenaran tidak akan padam. Jadi, dalam kehidupan Wujud-wujud transenden ini kita menemukan pengorbanan, kepahlawanan dan, dalam keadaan apa pun, perbuatan-perbuatan yang menjadi contoh dari kata-kata Mereka. Hal yang sama juga terlihat di setiap fase kehidupan Bahá’u’lláh. Meskipun dalam segala macam kesulitan, Dia tidak pernah bungkam, dan kata-kata-Nya menyimpan kekuatan yang meyakinkan.

Beratus-ratus tahun kemudian setelah pengumuman misi-Nya, para pengikut Bahá’u’lláh saat ini dikenal sebagai orang-orang yang meyakini Agama Bahá’í. Secara geografis, Agama Bahá’í adalah agama kedua yang paling tersebar di dunia—berada di lebih dari 120.000 tempat di seluruh dunia. Adapun statistik mengenai Agama Baha’i, sebagai berikut;

Baca juga: Konsep Ketuhanan dalam Aliran Kebatinan Perjalanan

Agama Bahá’í masuk ke Indonesia pada tahun 1885 oleh dua saudagar, yaitu Jamal Effendi dan Mustafa Rumi. Mereka pertama kali tiba di Batavia (Jakarta), dimana mereka ditempatkan di pemukiman Arab, Pakhojan. Mereka hanya diijinkan untuk mengunjungi kota-kota pelabuhan di Indonesia oleh pemerintah Belanda. Setelah itu mereka berkunjung ke Surabaya, dan sepanjang garis pantai, mereka juga singgah di pulau Bali dan kemudian Lombok. Disini, melalui kepala bea cukai, mereka diatur untuk bertemu dan disambut oleh Raja yang beragama Buddha dan permaisurinya yang beragama Islam, dan mereka berbicara mengenai hal-hal kerohanian dengan Raja dan permaisurinya. Pemberhentian mereka selanjutnya adalah Makassar, di pulau Sulawesi.

Menggunakan sebuah kapal kecil mereka berlayar ke pelabuhan Pare-Pare. Mereka disambut oleh Raja Fatta Arongmatua Aron Rafan dan anak perempuannya, Fatta Sima Tana. Fatta Sima Tana, belakangan, menyiapkan surat-surat adopsi untuk dua orang anak asli Bugis, bernama Nair dan Bashir, untuk membantu dan mengabdi di rumah di Akka. Sang Raja juga sangat tertarik dengan agama baru ini. Lalu mereka melanjutkan perjalanan ke Sedendring, Padalia dan Fammana.

Dengan menggunakan sampan, mereka melanjutkan perjalanan sepanjang sungai sampai mereka tiba dengan selamat di Bone. Disini, Raja Bone, seorang lelaki muda dan terpelajar, meminta mereka untuk menyiapkan suatu buku panduan untuk administrasi kerajaan dan Sayyid Mustafa Rumi melaporkan bahwa mereka telah menulisnya sejalan dengan ajaran-ajaran Bahá’i.

Karena batas kunjungan empat bulan yang secara tegas diberikan oleh Gubernur Belanda di Makassar, mereka meninggalkan Sulawesi menuju ke Surabaya dan kemudian kembali ke Batavia. Setelah itu kembali ke Singapura dan ke bagian-bagian lain di Asia Tenggara. Bashir, salah satu anak laki-laki Bugis itu, berhasil mencapai Akka dan bekerja di rumah Bahá’u’lláh.

Saat ini Agama Bahá’í telah tersebar di 28 provinsi di Indonesia, dan pada tahun 2014 lalu Badan Litbang dan Diklat, Kementerian Agama telah melakukan penelitian terhadap Agama Baha’i dan melaui hasil penelitian tersebut disampaikan bahwa Agama Bahá’í adalah agama yang independen, bukan sekte atau aliran dari agama lain.

Lebih lanjut dinyatakan pula Agama Bahá’í termasuk agama yang dilindungi berdasarkan peraturan perundang-undangan, mendapat jaminan penuh dari negara sebagaimana, serta dibiarkan adanya sepanjang tidak melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dalam mewujudkan misi persatuan yang dibawa oleh Bahá’u’lláh, orang-orang Bahá’í senantiasa berupaya dan belajar untuk membuka dan melibatkan diri dalam berbagai kegiatan masyarakat, berkolaborasi dengan berbagi orang dari latar belakang sosial yang beragam. Karena masyarakat Baha’i yakin bahwa transformasi yang divisikan oleh Bahá’u’lláh tidak akan terjadi melalui usaha-usaha dari mereka sendiri. Lebih lanjut Bahá’u’lláh bersabda demikian:

Semua manusia diciptakan untuk memajukan perbadan yang terus berkembang. Kebajikan-kebajikan yang sesuai dengan harkat manusia adalah kesabaran, belas kasihan, kemurahan hati dan cinta kasihterhadap semua kaum dan umat di bumi.

Pada masa-masa yang sulit seperti pandemi saat ini, Balai Keadilan Sedunia pada perayaan Hari Raya Naw-Ruz tahun 2020 lalu menyampaikan sebuah surat yang menghimbau agar masyarakat Baha’i dapat bersatu dengan masyarakat di sekitarnya – menyesuaikan diri dengan keadaan saat ini dan menggunakan cara-cara kreatif untuk menumbuhkan harapan bersama, bersatu dalam doa dan upaya bersama, memperkokoh rasa persaudaran dan persatuan, serta meningkatkan pengetahuan dan pengertian.

Hari Raya Naw-Ruz adalah hari yang menandakan tahun baru dalam kalender Baháʼí. Menurut penanggalan kalender tersebut, satu tahun terbagi dalam 19 bulan, di mana setiap bulannya berjumlah 19 hari. Hari Raya Naw-Ruz sebelumnya diawali dengan masa-masa puasa selama satu bulan penuh, 19 hari. Naw-Ruz jatuh pada tanggal 20 ataupun 21 Maret pada kalender masehi, yang bertepatan dengan equinox musim semi di belahan bumi utara dan dirayakan oleh umat Bahá’í di seluruh dunia pada tanggal yang sama setiap tahunnya.

Beberapa upaya di tingkat nasional telah mulai dilakukan. Berkat kerjasama dan bantuan dari lembaga agama lintas iman, doa bersama lintas iman telah dilaksanakan secara rutin, dimana pembacaan ayat-ayat suci dari berbagai agama diharapkan dapat memberikan rasa persaudaraan yang semakin kokoh dan semangat cinta kasih, saling mendukung dan menguatkan di tengah situasi yang sulit sekarang ini.

Selain itu melaui bantuan dari Jaringan Lintas Iman Tanggap COVID-19 (JIC), masyarakat Baha’i menyatukan diri dengan lembaga-lembaga agama lainnya untuk membantu orang-orang yang terkena dampak dari pandemi.  [ ]

 

Riaz Muzaffar, Tim kantor Humas Majelis Rohani Nasional Baha’I Indonesia

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed