by

Agama Baha’i: Berkembang di Indonesia dengan Keyakinan Tiga Pilar Utama

-Kabar Utama-203 views

Kabar Damai | Kamis, 29 Juli 2021

Jakarta | kabardamai.id | Ucapan Selamat Hari Raya Naw Ruz 178 EB kepada Komunitas Bahai dari Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, memantik beragam reaksi. Keberadaan Agama Bahai di Indonesia pun mengundang rasa penasaran masyarakat.

Sebelumnya pada tahun 2014, Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin menegaskan eksistensi dari agama Baha’i di Indonesia. Dia menyebut, Baha’i merupakan agama yang berdiri sendiri dan bukan sempalan atau sekte dari Islam maupun aliran sesat.

“Berdasar UU 1/PNPS/1965 dinyatakan agama Baha’i merupakan agama di luar Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Khonghucu yg mendapat jaminan dari negara dan dibiarkan adanya sepanjang tidak melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan. Saya berpendapat umat Baha’i sebagai warga negara Indonesia berhak mendapat pelayanan kependudukan, hukum, dll dari Pemerintah,” tulis Lukman waktu itu.

Baca Juga: Tokoh Muda Bahai: Anak Muda Menciptakan Ruang Dialog dan Kolaborasi Perdamaian

Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas sendiri juga menggunakan UU PNPS No. 1 Tahun 1965 saat menjelaskan mengapa dirinya sebagai pejabat publik – menteri yang menaungi semua umat – mengucapkan selamat hari raya kepada agama Baha’i.

Hingga kini, tak banyak yang mengetahui bahwa Baha’i sudah lama berada di Indonesia. Agama dari Negeri Persia ini, telah menyebar sejak lama dan dianut para pengikutnya. Keberadaan agama Bahai biasanya dikenal oleh mereka yang bergiat di komunitas lintas agama. Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) adalah salah satunya.

Di lemabaga yang berdiri tahun 2000 silam itu sejumlah pemeluk agama Bahai aktiv menjadi pengurus di dalamnya.

Awal Mula Masuk Indonesia

Masuknya Agama Baha’i ke Indonesia dipelopori Jamal Effendi yang melakukan perjalanan ke India dan tiba tahun 1875. Dia juga mengunjungi Sri Lanka, dan didampingi Sayyid Mustafa Rumi.

Dilansir dari laman resmi Komunitas Baha’i, Jamal Effendi juga berdagang. Kemudian melakukan perjalanan ke Burma (Myanmar), Dhaka (Bangladesh), Madras, Batavia (Jakarta). Yang diteruskan dengan kunjunganke kota-kota pelabuhan di nusantara.

Dari sini mereka berkunjung ke Surabaya, dan sepanjang garis pantai, mereka juga singgah di pulau Bali dan kemudian Lombok.

Pemberhentian mereka selanjutnya adalah Makassar, di pulau Sulawesi. Menggunakan sebuah kapal kecil mereka berlayar ke pelabuhan Pare-Pare. Dengan menggunakan sampan, mereka melanjutkan perjalanan sepanjang sungai sampai mereka tiba dengan selamat di Bone.

Karena batas kunjungan empat bulan yang secara tegas diberikan oleh Gubernur Belanda di Makassar, mereka meninggalkan Sulawesi menuju ke Surabaya dan kemudian kembali ke Batavia. Setelah itu kembali ke Singapura dan ke bagian-bagian lain di Asia Tenggara.

Muncul Pertama Kali di Iran

Laman resmi komunitas Baha’I menyebut, agama ini pertama kali muncul dan berkembang di Iran pada 1844. Agama ini bermula dari ajaran perdamaian Sayyid ‘Ali Muhammad atau yang dianggap sang Bab. Agama ini sempat dianggap sebagai sempalan Islam-Syiah. Sebelum revolusi Iran, agama ini pun sempat diakui walaupun selanjutnya tidak diakui.

Sumber lain menyebutkan, agama Baha’i berasal dari Irak dan dikenalkan pada pertengahan abad ke-19 oleh Mírzá Ḥusayn-`Alí Núrí, yang dikenal sebagai Bahāʾ Allāh, yang dalam bahasa Arab berarti “Kemuliaan Tuhan”.

Dilansir Britannica, landasan kepercayaan Bahāʾī adalah keyakinan bahwa Bahāʾ Allāh dan pendahulunya, yang dikenal sebagai Bāb, dalam bahasa Persia berarti “Gerbang”, adalah manifestasi Tuhan, yang esensinya tidak dapat diketahui.

Prinsip utama Bahāʾī adalah kesatuan esensial semua agama dan kesatuan umat manusia. Bahāʾī percaya bahwa semua pendiri agama-agama besar dunia telah menjadi manifestasi Tuhan dan agen dari rencana ilahi untuk umat manusia.

Terlepas dari perbedaan nyata mereka, agama-agama besar dunia, menurut Bahāʾī, mengajarkan kebenaran yang identik. Fungsi khusus Bahāʾ Allāh adalah untuk mengatasi perpecahan agama dan membangun iman universal.

Bahāʾī percaya pada kesatuan umat manusia dan mengabdikan diri pada penghapusan prasangka rasial, kelas, dan agama. Sebagian besar ajaran Bahāʾī berkaitan dengan etika sosial. Iman tidak memiliki imamat dan tidak menjalankan bentuk-bentuk ritual dalam ibadahnya.

Ada tiga prinsip ajaran dan doktrin Baha’i, yaitu kesatuan Tuhan, kesatuan agama, dan kesatuan kemanusiaan. Kitab Suci agama Baha’i berasal dari tulisan Baha’ullah pada Kitab i-Aqdas.

Kitab itu mendefinisikan banyak hukum dan praktik bagi individu dan masyarakat, beriringan dengan Kitab i-Iqan yang secara harafiah adalah kitab kesepahaman sebagai dasar selanjutnya.

Peter Smith, seorang peneliti terkemuka dalam kajian Baha’i pada bukunya berjudul A Concise Encyclopedia of the Baha’i Faith menyebut dalam Baha’i, Tuhan secara berkala mengungkapkan kehendaknya melalui utusan ilahi, yang tujuannya adalah untuk mentransformasikan karakter manusia.

Dengan demikian, agama dilihat secara tertib, terpadu dan progresif dari zaman ke zaman. Pandangan iman Baha’i terhadap Tuhan sendiri adalah Tuhan yang tunggal, mahatahu, mahakuasa, tidak dapat binasa, tanpa awal dan akhir, merupakan pencipta segala sesuatu yang ada di alam semesta.

Tuhan tetap dipandang sadar akan ciptaannya, dengan kehendak dan tujuan yang diungkapkan melalui utusannya yang disebut Manifestasi Tuhan. Karena gagasan wahyu agama yang progresif, maka Baha’i menerima keabsahan agama-agama besar lainnya yang pendirinya dianggap bagian dari Manifestasi Tuhan.

Apakah Agama Baha’i Telah Diakui di Indonesia?

Pertanyaan ini muncul setelah Menag Yaqut membuat video ucapan selamat hari raya Naw-Ruz 178 EB yang dianut oleh masyarakat Agama Baha’i.

Seperti dikutip dari laman Kemenag, penegasan eksistensi agama Baha’i sebagai sebuah agama independen ini tertuang dalam Seminar Hasil Penelitian yang diselenggarakan oleh Puslitbang Kehidupan Keagamaan pada 22 September 2014. Agama Baha’i ini diketahui merupakan agama baru yang bukan percabangan agama lain.

Dalam video yang viral itu, Menag Yaqut memberikan penjelasan lebih lanjut. Dia menerangkan, dalam konstitusi Indonesia, tak dikenal istilah agama ‘diakui’.

“Konstitusi kita tidak mengenal istilah agama ‘diakui’ atau ‘tidak diakui’, juga tidak mengenal istilah ‘mayoritas’ dan ‘minoritas’. Hal ini bisa dirujuk pada UU PNPS tahun 1965 tersebut,” kata Yaqut lewat pesan singkat.

Yaqut menegaskan kehadirannya di acara komunitas Baha’i semata-mata dalam konteks untuk memastikan negara menjamin kehidupan warganya. Hal itu ditegaskan Yaqut sesuai dengan konstitusi dan peraturan perundang-undangan.

“Negara harus menjamin kehidupan seluruh warganya. Apa pun agamanya, apa pun keyakinannya,” ujar Gus Menteri.

Ajaran dan Kiblatnya Berbeda dengan Islam

Melansir radarcirebon.com, konsep ajaran agama Baha’i memiliki ciri khas yang berbeda dengan konsep keagamaan di dalam Islam. Begitu pula dalam tata cara peribadatan.

Meskipun tampaknya memiliki kesamaan dengan peribadatan Islam (seperti sembahyang, puasa, ziarah, dan lainnya), pada praktiknya tata cara peribadatan yang mereka lakukan sama sekali berbeda.

Para penganut Baha’i mengerjakan sembahyang sebanyak tiga kali dalam sehari. Kiblat yang dijadikan sebagai arah sembahyang pun berbeda dengan umat Islam.

Umat Islam menghadap ke arah Ka’bah, sedangkan umat Baha’i bersembahyang menghadap barat laut (Kota Akka-Haifa). Hari raya umat Baha’i juga berbeda dengan Islam.

Kendati demikian, sejarah lahirnya ajaran Baha’i tidak dapat dipisahkan dari agama Islam. Pendiri ajaran Baha’i, yaitu Baha’ullah, merupakan penganut agama Islam sebelum ia menisbatkan diri sebagai utusan Tuhan.

Sementara di Indonesia, tidak tercatat ada Rumah Ibadah Agama Bahai. Kendati di sejumlah kota di dunia telah memiliki tempat ibadah tersebut.

Rumah ibadah tersebut merupakan tempat untuk berdoa dan bermeditasi bagi individu dan masyarakat, tidak dibatasi hanya untuk umat Bahá’í saja.

Bahá’u’lláh mengajarkan bahwa doa dan sembahyang merupakan percakapan antara manusia dan penciptanya yang bersifat rohani dan tidak harus dilaksanakan di rumah ibadah khusus.

Saat ini, rumah ibadah Bahá’í sudah ada di setiap benua di dunia, yang berlokasi di: Santiago, Chili yang dibuka tahun 2016, New Delhi India dibuka tahun 1986, Apia Samoa pada tahun 1984.

Kemudian Panama City pada tahun 1972, Frankfurt Jerman pada 1972, Sydney Australia pada 1961, Kampala Uganda pada 1961 dan Wilmette Illinois Amerika Serikat 1953.

Tiga Pilar Utama

Dikutip dari bahai.id, Bahá’u’lláh mengajarkan berbagai prinsip dan konsepsi rohani yang diperlukan umat manusia agar perdamaian dunia yang diidamkan dapat tercapai.

Dia meletakkan tiga pilar utama kesatuan yakni, keesaan Tuhan, kesatuan sumber surgawi dari semua agama, dan kesatuan umat manusia. Sebuah konsepsi “kesatuan dalam keanekaragaman”.

  1. Ke-Esaan Tuhan

Bahá’u’lláh mengajarkan bahwa hanya ada satu Tuhan Yang Maha Agung, yakni Tuhan Yang Maha Esa yang telah mengirim para Utusan Tuhan untuk membimbing manusia. Oleh karena itu, semua agama yang bersumber dari satu Tuhan ini, haruslah menunjukkan rasa saling menghormati, mencintai, dan niat baik antara satu dengan yang lain.

“Utusan-utusan Ilahi telah diturunkan, dan Kitab-kitab mereka diwahyukan, dengan maksud untuk meningkatkan pengetahuan tentang Tuhan, serta menegakkan persatuan dan persahabatan di antara manusia.” — Bahá’u’lláh.

  1. Kesatuan Sumber Surgawi dari Semua Agama

Tuhan bersifat tidak terbatas, tak terhingga dan Maha Kuasa. Hakikat Tuhan tidak dapat dipahami, dan manusia tidak bisa memahami realita Keilahian-Nya. Oleh karena itu, Tuhan telah memilih untuk membuat Diri-Nya dikenal manusia melalui para Utusan Tuhan, diantaranya Ibrahim, Musa, Krishna, Zoroaster, Budha, Isa, Muhammad, Sang Báb dan Bahá’u’lláh. Para Utusan Tuhan yang suci itu bagaikan cermin yang memantulkan sifat-sifat dan kesempurnaan Tuhan yang satu.

“Asas-asas dan hukum-hukkum semua agama, sistem-sistem-Nya yang teguh dan agung, berasal dari satu sumber dan merupakan sinar-sinar dari satu cahaya”— Bahá’u’lláh

  1. Kesatuan Umat Manusia

Bahá’u’lláh menyatakan bahwa semua manusia adalah satu dan setara dihadapan Tuhan dan mereka harus diperlakukan dengan baik, harus saling menghargai dan menghormati. Bahá’u’lláh mengajarkan bahwa semua orang adalah anggota dari satu keluarga manusia yang tunggal, yang justru diperkaya karena kebhinekaannya.

“Orang-orang yang dianugerahi dengan keikhlasan dan iman, seharusnya bergaul dengan semua kaum dan bangsa di dunia dengan perasaan gembira dan hati yang cemerlang, oleh karena bergaul dengan semua orang telah memajukan dan akan terus memajukan persatuan dan kerukunan, yang pada gilirannya akan membantu memelihara ketenteraman di dunia serta memperbarui bangsa-bangsa.” — Bahá’u’lláh. [dari berbagai sumber]

 

Penyunting: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed