by

Agama Asli: Eksistensi dan Tantangan Masa Kini

Kabar Damai I Jumat, 21 Januari 2022

Jakarta I Kabardamai.id I Indonesia dikenal sebagai negara yang beragam, tidak hanya terdiri dari berbagai suku dan ras serta golongan namun juga agama. Kini, ada enam agama yang dianggap sebagai agama mayoritas sehingga sebagian besar masyarakat menyebutnya agama resmi. Namun, jauh sebelumnya telah ada agama asli yang hadir jauh sebelum enam agama yang ada kini ada.

Walaupun sudah ada sejak lama, namun agama asli berkembang dengan terseok-seok dengan tanpa pengakuan. Oleh karenanya pula, agama asli mengalami banyak tantangan hingga saat ini.

Melalui kanal youtube Katolikana, pembahasan tentang eksistensi dan tantangan dari agama lokal diperbincangkan.

Andri Hernandi, Presidium Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan yang Maha Esa Indonesia (MLKI) Bandung dalam pembahasannya menyatakan bahwa  terkait dengan pemahaman dari istilah perihal agama asli atau agama lokal atau agama nusantara sebenarnya bertumpu pada sistem keyakinan yang ada di Indonesia, para leluhur atau pendahulu secara sistem keyakinan sudah ada hanya saja memang karena ada pemahaman secara akademis yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia sebelum adanya enam agama kini disebut dengan animism dan dinamisme.

Menurutnya pula, konteks dua pemahaman ini terdapat dalam ranah akademis, namun secara realitasnya sebenarnya keyakinan yang ada dalam masyarakat Indonesia sudah ada sejak dahulu yang artinya bahwa peradaban pengetahuan akan sistem keyakinan sudah ada dari banyak bukti peninggalan yang ada.

Baca Juga: Toleransi Kunci Keberagaman Indonesia

“Jika dilihat dari aspek sejarah, ini menyangkut pada permasalahan hegemoni yang menjelaskan bahwa setiap babad dalam sejarah memiliki pengaruh yang cukup besar sejak dulu,” ungkapnya.

Lebih jauh menurutnya, Indonesia membagi atribut menjadi dua yaitu agama dan kepercayaan, sejarah itu cukup panjang. Munculnya atribut kepercayaan memang sudah ada didalam undanh-undang dan juga terdapat perdebatan yang panjang yang bahkan masuk dalam konstituante.

Anggun Purnamasari, Pengreksa Utama Kejawen Maneges Kebumen juga turut unjuk suara pada program tersebut. Ia menjelaskan dan mengenalkan apa itu Kejawen Maneges kepada para pendengar.

“Kejawen Maneges adalah kepercayaan yang ada sejak zaman Kerajaan Majapahit, bahkan sebelum Majapahit dinamakan dengan Jawadipa. Setalah tahun 1525 berubah menjadi Kejawen dan terakhir tahun 1927 menjadi Kejawen Maneges dan sekarang sudah terdaftar di Kemenkumham,” tuturnya.

Kejawen Maneges adalah Jawa yang tidak terkontaminasi oleh ajaran asing apapun dan kini sudah eksis pada delapan provinsi dari Lampung hingga Bali dan sudah ada di 48 kabupaten di Indonesia.

Ia juga menambahkan bahwa Kejawen Maneges mengamalkan delapan ajaran Jawa, yaitu merupakan ajaran Jawadipha yang turun temurun. Adapun delapan ajaran Jawa tersebut seperti tidak boleh menyakiti siapapun, Tidak boleh merusak alam semesta, Tidak boleh berbohong, Harus belajar dari siapapun dan lainnya.

Perkembangan Kejawen Maneges selama sepuluh tahun terakhir sangat bagus, sudah diakui juga pada tahun 2016 sudah legal di Kemenkumham. Perihal diskriminasi secara pribadi Anggun tidak mendapatkannya, walaupun sempat mendapat cemooh namun karena kepercayaan diri serta kemauan untuk belajar dan menyebarkan positifitas dari Kejawen Maneges sehingga lama kelamaan tidak ia dapatkan lagi hal serupa.

Ira Indrawardana,S.Sos,M.Si, Dosen Antropologi Universitas Padjajaran Bandung dalam sesinya menjelaskan tentang Sunda Wiwitan. Menurutnya, berbicara Sunda Wiwitan ada dua hal yang harus dipahami, yaitu Sunda dan Wiwitan. Berbicara Sunda dalam konteks Sunda Wiwitan bukan sebatas pada konsep etnisitas atau kesukuan tetapi juga dapat secara konsep kewilayahan atau geografik yang dikenal dengan Sunda Besar dan Sunda Kecil.

“Konsep Sunda Besar dan Sunda Kecil ini bukan semata-mata tentang pengakuan atau klaim sekelompok tapi juga sejarah masa lalu bahkan dalam data-data geografik ilmiah yang dikenal dengan Sunda Archipelago,” jelasnya.

Wiwitan itu asal mula ada kaitan dalam Sunda dalam kaitan filosofis yang artinya hal-hal yang berkaitan dengan kebaikan, keindahan dan nilai-nilai yang mengagungkan sesuatu yang bersifat suci, sakral dan sebagainya sehingga berkaitan dalam konteks Wiwitan yang kemudian Sunda Wiwitan menjadi sistem kepercayaan yang sesungguhnya memulyakan ajaran leluhur yang ada di nusatara.

Pemaknaan dari Sunda Wiwitan ialah manakala kelompok-kelompok yang oleh negara dijadikan sebagai kelompok penghayat kepercayaan bahkan secara diskriminatif digolongkan dalam kelompok aliran kepercayaan, agama tidak resmi dan sebagainya maka sebaiknya difikirkan ulang karena istilah agama bukan milik orang-orang dari luar.

Agama dalam Sunda, Jawa dan bahkan Indonesia adalah yang berkaitan dengan nilai-nilai, pondasi yang berkaitan dengan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam dan hubungan manusia dengan Tuhannya.

Penulis: Rio Pratama

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed