by

Afghanistan, Taliban dan Berakhirnya Mimpi Perempuan

Kabar Damai I Kamis, 02 September 2021

Jakarta I kabardamai.id I Afghanistan adalah sebuah negara yang sangat cantik dia berada di lokasi land lock di antara negara-negara tetangga yang menambah kompleksitas dan kerentanan negara tersebut.

Terletak di wilayah yang sangat strategis, pada persimpangan Asia dan Eropa dan interseksi tiga wilayah utama Asia Tengah, Asia Selatan, Timur Tengah, dan juga terhubung dengan Timur Jauh. Sehingga setengah jalur sutra melewati Afgahanistan.

Musdah Mulia, Ketua Umum Indonesian Conference  on Religion and Peace, menerangkan pengalamannya ketika berkunjung ke Afghanistan yang begitu indah dengan pemandangan pegunungan tinggi tertutupi salju putih. Keindahan itu terlihat berbeda ketika ia mendarat di negara tersebut.

“Ketika saya mendarat saya benar-benar  merasa kosong rasanya dari sebuah negara yang cantik megah surganya dunia yang diturunkan Tuhan ke bumi, tapi tiba-tiba saya berada di sebuah negara yang miskin yang betul-betul menyedihkan dimana semua infrastrukutur rusak akibat perang ,” ungkapnya dalam diskusi Taliban Menang Apa Dampaknya Bagi Indonesia, Rabu (01/09/2021).

Afganistan secara kesejarahan berada dalam satu zona perlawanan, kekuatan-kekuatan besar selama dua abad lampau. Pertengahan abad ke-19 Afghanistan menjadi perseteruan besar  antara Kerajaan Tsar Rusia dan kerajaan Britania Raya , sehingga sedari dulu memang Afganistan  menjadi rebutan.

Afganistan negeri yang bergunung-gunung, walau ada dataran di Utara, dan barat daya. Titik tertingginya Noshaq (7485 m). Sebagian besar negara ini kering dan pasokan air bersih terbatas. Afganistan juga memiliki cuaca yang ekstrem. Sehingga dapat kita bayangkan bagaimana panasnya perempuan Afghanistan ketika menggunakan burqa.

Afghanistan memiliki iklim tanah, dengan  musim yang panas, salju yang dingin, juga sering menjadi pusat gempa bumi. Ketika terjadi gempa bumi pada 2013, UNICEF badan dunia yang membawa bantuan untuk para korban yang mengalami gempa bumi, dihadang oleh Taliban sehingga mereka dibiarkan mati kelaparan.

Baca Juga: FPI Bisa Lebih Sadis dari Taliban?

Di Afghanistan sendiri suku-suku sangat dominan dan sangat powerfull. Meskipun mayoritas adalah suku pashtun sebanyak 40%, di dalam Pastun itu sendiri masih ada Pashtun Selatan dan Utara.

Menurut Musdah, salah satu  permasalahan Afganistan adalah fanatisme kesukuan sehingga perlu ada upaya menghapuskan jahiliyah kesukuan yang membabi buta.

“Bangsa Afghanistan tidak memiliki loyalitas kebangsaan yang ada hanya loyalitas kesukuan. Sehingga yang terpenting bagi mereka adalah keselamatan suku,  bukan bangsa,  Suku-suku ini berperang dari dulu sampai sekarang adalah perang suku satu sama lain. Kehadiran kepala-kepala suku ini juga membuat Taliban tidak sesolid yang dia bayangkan karena setiap kepala suku juga memiliki kepentigan,” terang Musdah.

 

Politik Afganistan selalu berdarah

  • Dimulai dari Dinasti Abbasiyah, lalu Dinasti Ghaznawiyah, Dinasti Mughal, Dinasti Barakzai, Afghanistan memulai periode berdarah sejak 1900-1929 dimana ada 11 raja berkuasa. Pergantian kekuasaan selalu ditandai dengan pertumpahan darah.  Mulai 1900 adalah  kondisi yang berdarah-darah perebutan kekuasaan di antara raja-raja kecil dan tentu saja kepala kepala suku
  • Lalu berlanjut pada masa rivalitas Inggris dan Rusia seiring rejim Tsar di Rusia dan pemapanan pemerintahan Bolshevick pada 1917. Periode damai di Afghanistan (1929-1973), Mohamed Nadir (1929-1933), Raja Zahir Shah (1933-1973)
  • Tahun 1973 terjadi kudeta terhadap Raja Zahir Shah oleh Sardar Mohammed Daud. Tahun 1978 Daud dan seluruh kelurganya dibunuh ketika Partai Rakyat Demokratik Komuni Afghanistan melancarkan kudeta yang dikenal sebagai Revolusi Saur Besar dan mengambil alih pemerintahan dengan bantuan Uni Soviet. Kudeta oleh Muhammad Daud dan mendirikan mendirikan partai rakyat demokratik dan mulai memperkenalkan sebuah pemerintahan yang demokratis ternyata juga tidak bisa selesai hingga masuklah invasi Uni Soviet.
  •  Tahun 1979-1989: Invasi Uni Soviet
  • Tahun 1984: Mujahidin dengan dukungan Amerika Serikat/NATO, Saudi Arabia, Pakistan dan sejumlah nbegara non-komunis lainnya (termasuk Indonesia) melakukan perlawana militer sampai soviet jatuh (1989). Di masa itulkah terbentuk terorisme (Al Qaeda)

Salah satu hal yang sangat disayangkan oleh Musdah adalah ketika, banyak orang  Indonesia yang berangkat ke Afghanstan untuk jihad, mereka yang disebut Mujahidin.

“Mereka para mujahidin tidak sadar bahwa ketika mereka mengatakan kita berperang melawan kafir yang dimaksud dengan kafir Uni Soviet, tapi tidak sadar bahwa peperangan itu di desain oleh  Amerika dan sekutunya untuk memenangkan kepentingan mereka sendiri. Jadi sebetulnya para Mujahidin itu berperang melawan kafir untuk kepentingan orang kafir juga,”

“Jadi pertanyaan saya di mana islamnya?  kenapa kita tidak bisa membaca peta politik, kita harus sadar dan jangan menjadi mainan orang-orang besar untuk kepentingan mereka,”tegas Musdah.

Karena itu Musdah berpesan untuk   membangun  generasi yang  sadar literasi. Sehingga, tidak menjadi orang orang dungu yang hanya menjadi pion.

  • Tahun 1996-2001: taliban Mullah Omar (1994) mendeklarasikan “Emirat Islam Afghanistan”
  • Tahun 2001-2021: Meski Amerika Serikat berhasil menggulingkan pemerintah Taliban, mereka tidak melemah. Bahkan melakukan perang gerilya

Ketika Amerika berhasil menduduki atau membantu pemerintah Afghanistan. Meskipun Afghanistan itu bisa dikuasai oleh Amerika dan sekutunya lalu Hamid karzai terpilih, gangguan taliban tetap tak ada henti-hentinya.

“Pagi bom meledak mengincar pegawai yang akan berangkat ke kantor, siang hari sekitar jam 2 meledak lagi bom  mengincar anak sekolah yang pulang, Dan malam mengincar duia hiburan, karena tidak boleh ada musik dan hiburan hanya boleh memikirkan akhirat,” beber Musdah.

Pemerintah  Afghanistan tidak pernah mempunyai waktu untuk membangun negaranya.

  •  Agustus 2021: taliban kembali berkuasa dan Pasukan Amerika Serikat mundur

 

Sejumlah Faktor Kerentanan Afghanistan

  1. Ketiadaan satu kekuatan pusat dan stabil,
  2. Keterpecahan sosial dan budaya
  3. Jalinan ikatan-ikatan etnik dan sektarian lintas batas
  4. Lokus geografi
  5. Rivalitas kekuasaan adi daya dan faksionalisme dinasti lokal
  6. Munculnya ‘warlords’  (tuan perang), yang mengelola kekuatan individu dengan kemmapuan bertahan dan distributif.

Warlords adalah mereka yang bekerjasebagai penembak, mereka yang sudah dilatih oleh CIA. Dimana mereka akan kehilangan pekerjaan ketika negara damai.  Karenanya mereka senang dengan konflik dan perang untuk kepentingan bisnis.

 

Mengapa menolak Taliban

  1. Taliban mengukuhkan tindakan kekerasan dan tidak manusiawi dan bertentangan dengan ajaran islam rahmatan lil alamin
  2. Taliban mengukuhkan interpretasi keislaman yang tidak kompatibel dengan nilai-nilai kemanusiaan universal
  3. Taliban mendukukng pelaksanaan hudu, seperti eksekusi rajam dan cambuk untuk kasus pembunuhan, perzinaan serta potong tangan bagi pencuri
  4. Taliban mengukuhkan pandangan misoginis terhadap perempuan, serta melarang anak-anak perempoua  mengikuti pendidikan di sekolah
  5. Taliban mewajibkan para lelaki memakai baju panjang dan emmelihara juanggut.
  6. Taliban melarang televisi, musik, bioskop serta semua pertunnjukan seni

 

Kondisi Perempuan dalam Kekuasaan Taliban

Sejak Taliban berkuasa, perempuan haram diruang publik. Meski Taliban tak lagi berkuasa (2001-2020) namun perempuan tak berani banyak berubah karena mereka diteror oleh pemuka agama.

Setelah Taliban tidak berkuasa, Musdah menerangkan bahwa konstitusi baru Afghanistan menggariskan persamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Pendidikan dasar kini menjadi incaran orang tua. Empat miliar dolar Amerika Serikat dikucurkan untuk memperbaiki situasi kaum perempuan sejak 2001. Oxfam mencatat setidaknya empat juta anak perempuan berhasil duduk di bangku sekolah.

“Berbagai upaya dilakukan untuk memperbaiki kualitas pendidikan, khususnya bagi anak-anak perempuan. Namun tekanan sosial terhadap perempuan tidak banyak berubah. Kondisi ini tetap berlangsung meskipun Afghanistan mengaku sebagai negara demokrasi. Tidak banyak berubah di Afghanistan semenjak demokrasi berjejak pada tahun 2001,” beber Musdah.

Upaya perubahan kondisi perempuan tidak datang dari kesadaran internal masyuarakatnya, khususnya dari kalangan agama yang menjadi penghalang terbesar, melainkan hanya disuntikan dari luar.

Musdah juga merasa sedih dengan kembalinya Taliban, karena membuat semua mimpi perempuan untuk maju berakhir sudah.

 

Perilaku tidak manusiawi Taliban

  1. Mengedepankan fanatik kesukuan (Ta’assub Jahiliyah), budaya kompetitif dan konflik, budaya permusuhan dan kebencioan
  2. Penghancuran Buddha Bamiyan tahun 2001 (patung Buddha terbesar di dunia), peninggalan abad pertama Pra-Islam Afghanistan
  3. Memberi stigma pada muslim yang tidak sepham disebut kafir
  4. Mengharamkan bantuan kemanusiaan untuk warga yang terkena bencana alam
  5. Memaksa lelaki berjanggut dan berbaju islami
  6. Melarang perempuan aktif di publik termasuk bekerja mencari nafkah
  7. Melarang anak perempuan mendapatkan pendidikan
  8. Memaksa perempuan menjadi mesin reproduksi

 

Terakhir Musdah menekankan pentingnya kedaulatan di tanah Afghanistan.  Afghanistan modern tumbuh bersandar pada bantuan asing, terbukti menjadikan negara itu acap terguncang dan berdarah. Dengan adanya kedaulatan, Afghanistan bisa memperbaiki negaranya dan membangun kemandirian ekonomi.

“Perlu juga kita tanamkan  nasionalisme, persatuan dan kesatuan bangsa. Menerapkan keadilan, kesetaraan, dan memenuhi hak semua warga negara. Tentunya perlu juga literasi agama dan kebudayaan yang kuat untuk menciptakan perdamaian,” pungkasnya.

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed