by

Afganistan dan Pembaharuan Islam

-Opini-16 views

Oleh Mukti Ali Qusyairi

Afghanistan sedang viral di dunia. Bahkan trendhing topik di pemberitaan setelah Taliban kembali hadir merebut Kabul, ibu kota Afghanistan. Afghanistan menjadi pusat perhatian mata dunia. Presiden Asraf Ghani beserta para mentri terbang ke luar negeri. Taliban memasuki istana yang ditinggalkannya.

Kepada Afghanistan, mengingatkan saya pada nama Jamaluddin al-Afghani, seorang pembaharu Islam dan pejuang yang gigih melawan penjajahan. Ia lahir di Kunar Afghanistan. Karenanya ia disebut al-Afghani. Selain itu, mungkin bisa kita tarik fenomena Taliban dan Islamisme di Afghanistan ke ide dan gerakan Jamaluddin al-Afghani. Sependek yang saya tahu perspektif ini belum ada yang menyinggung dalam tulisan.

Ide dan gagasan Jamaluddin al-Afghani diterbitkan dalam majalah al-‘Urwatu-l-Wutsqa. Jamaluddin al-Afghani banyak mengkritisi kolonialisme dan pentingnya persatuan umat Islam dalam melawan kolonial. Ia penggerak gagasan Pan Islamisme yang mengedepankan Islam sebagai perekat persatuan umat dalam merespon berbagai persoalan khususnya soal kolonialisme. Akan tetapi ada sebagian tokoh pejuang dan anti kolonial yang menggerakkan gagasan Pan Arabisme, yang lebih mengedepankan tanah air sebagai pemersatu masyarakat dalam merespon berbagai persoalan khususnya kolonialisme.

Ke depannya pasca negara-negara dunia ketiga merdeka, Pan Islamisme dan Pan Arabisme bertransformasi menjadi Isme atau ideologi yang di sebagian besar negara-negara Arab berseberangan. Jika Pan Islamisme dan Pan Arabisme di masa kolonial tidak begitu tajam perbedaannya dan tidak terjadi konflik fisik, lantaran keduanya bersama-sama menghadapi kolonialisme. Energi dan pikiran keduanya terkuras habis untuk merespon dan melawan kolonial. Pasca merdeka, keduanya baru terlihat perbedaan orientasi dan ideologinya. Pan Islamisme mengusung ideologi Islamisme–meski pada saat itu Jamaluddin al-Afhgani sudah wafat pada 9 Maret 1897 dan bermunculan tokoh-tokoh baru dalam memperjuangkan Islamisme—dan Pan Arabisme mengusung ideologi nasionalisme. Tokoh-tokoh pejuang nasionalisme di antaranya Jamal Abdul Nasir, Farah Anton, dan yang lain.

Baca Juga: BIN Antisipasi Gerakan Radikal di Indonesia Pasca Taliban Kuasai Afganistan

Akan tetapi ada yang menarik diamati tentang kritik Muhammad Abduh, seorang pembaharu besar Islam, kepada Jamaluddin al-Afghani. Abduh tidak bersetuju kepada pembaharuan Jamaluddin al-Afghani yang hanya seputar tentang politik, Islam sebagai ideologi politik, politik perlawanan dan anti kolonial.

Karenanya Abduh lebih memilih pembaharuan pemikiran, teologi, dan pendidikan. Sebab menurut Abduh bahwa pembaharuan pemikiran dan pendidikan lebih permanen, berjangka panjang, dan berorientasi pada kemajuan. Pembaharuan pemikiran sama dengan pembaharuan epistemologis dan perspektif. Sedangkan pembaharuan dalam politik bersifat terbatas, temporal, jangka pendek, kulit luar, dan kurang substansial.

Abduh akhirnya menyatakan bahwa “aku berlindung dari godaan politik yang terkutuk, dari kalimat dan huruf-huruf kata politik”. Jamaluddin al-Afghani lebih mengedepankan gairah Islamisme, yang kemudian hari bermunculan tokoh-tokoh seperti Hasan al-Banna, Abul Ala al-Maududi, Sayid Qutub, dan yang lain. Sedangkan Abduh mengedepankan pembaharuan pemikiran yang lebih substansial. Akan tetapi ada kekuatan ketiga yaitu masyarakat muslim yang mempertahankan tradisi dan rujukan turats/khazanah klasik sembari mengokohkan pandangan keagamaannya yang melahirkan pandangan moderat dan nasionalis, seperti Al-Azhar di Mesir, NU di Indonesia, ulama Syekh Wahbah al-Zukhaili dan Syekh Ramadhan al-Buthi di Suriyah, dan yang lain.

 

Seperti Apa Keislaman Taliban?

Lalu bagaimana dengan Taliban dan umumnya umat muslim Afghanistan? Apakah mengikuti gaya seniornya yaitu Jamaluddin al-Afghani yang mengedepankan artivisial Islamisme, atau pembaharuan pemikiran Islam gaya Muhammad Abduh, atau mempertahankan rujukan khazanah klasik/turats perspektif moderat?

Sejatinya Taliban memiliki modal pengetahuan klasik madzhab Hanafi, teologi Maturidi, dan bahkan sufisme. Madzhab Hanafi terkenal sebagai ahli al-rayi (komunitas rasional). Jika Taliban konsisten saja dengan Mazhab Hanafi, maka ia bisa menjadi moderat dalam perspektif fikih. Taliban bisa memberi ruang publik untuk keragaman, memberi kebebasan bagi perempuan untuk sekolah dan bekerja. Ditambahkah dengan teologi Maturidi yang

lebih condong ke rasional Muktazilah serta sufisme yang membangun paradigma pluralis.

Sebagaimana kalangan NU yang mengulik dari kekayaan khazanah klasik yang berhasil melahirkan pemikiran yang moderat, toleran, memberi ruang bagi perempuan, menghargai perbedaan, dan menerima Pancasila, NKRI. NU saja yang berlandaskan pada mazhab Syafii dan teologi Asy’ari saja berhasil menciptakan pandangan moderat dan toleran. Mestinya dengan modal mazhab Hanafi dan teologi Maturidi, Taliban bisa lebih progresif lagi.

Akan tetapi jika Taliban lebih cenderung mengusung Islamisme sebagai ideologi dan tanpa mengulik pemikiran moderat dari khazanah klasik Hanafi dan Maturidi, maka yang terjadi adalah penyeragaman, intoleran, domestifikasi perempuan, dan boleh jadi kekerasan serta barbar.

Saat ini geo politik global sudah semakin terang. Negara mana saja yang “merapat” ke pihak Taliban, negara mana saja yang antipati terhadap Taliban, dan negara mana saja yang bersikap netral. Peta politiknya sudah hampir terang benerang. Negara-negara yang merapat ke Taliban, di mana keduanya sudah mengadakan diplomasi dan kopdar, di antaranya yaitu Qatar, Pakistan, Rusia, China, dan belakangan Iran.

Hampir semua negara yang merapat ke Taliban merupakan negara-negara yang selama ini sedang mengalami perang dagang seperti China versus USA, perang urat syaraf dan kontestasi kekuatan tempur Rusia versus USA, USA versus Iran. Jelasnya negara-negara yang selama ini sebagai rival USA saat ini merapat ke Taliban atau boleh dibilang sedang “berbulan madu”.

Tentu saja tak ada makan siang gratis. Setidaknya ada tiga titik temu kepentingan antara Taliban, Rusia, China, Qatar, Pakistan, dan Iran, yaitu: keamanan kawasan agar Taliban bisa diandalkan untuk memerangi ISIS yang berpotensi mengancam, kepentingan ekonomi, dan kepentingan politik yakni menambah sekutu yang secara politis rival USA. Meskipun mereka secara ideologis berseberangan.

Bahkan jauh-jauh hari malahan Qatar secara terang-terangan memberi dukungan kepada Taliban, sehingga Taliban diberi fasilitas kantor representasi Taliban di Ibu Kota Doha, Qatar. Qatar pun pro aktif memfasilitasi pertemuan, diplomasi, dan perjanjian-perjanjian Taliban, pemerintah Afghanistan, dan USA.

Indonesia sebagai representasi negara muslim terbesar, yang konsisten dengan sikap politik non blok bebas aktif, dan berorientasi kepada terwujudnya perdamaian dunia ikut terlibat memediasi antara kepemerintahan Afghanistan Asraf Ghani dan pihak Taliban.

Meski Taliban sudah menguasai Kabul. Ada kelompok-kelompok perlawanan yang masih eksis yang berseberangan dengan Taliban, di antaranya kelompok Ahmad Sah Masood yang terkenal sebagai pemimpin mujahiddin yang pengalaman berperang melawan mundur Uni Soviet. Kelompok perlawanan Ahmad Sah Masood saat ini bermarkas di lembah Pansyir. Selain itu kalangan militer Afghanistan–dan juga konon memiliki pasukan khusus yang dilatih pasukan USA dan NATO–yang juga masih eksis.

Sejumlah pertanyaan; apakah Afghanistan akan damai atau akan terus bergejolak dan bergolak? Bagaimana dengan posisi USA pasca penarikan pasukannya dari Afghanistan? Bagaimana Taliban dalam menyikapi pihak-pihak yang berseberangan dengannya, dengan pendekatan kekerasan atau diplomasi serta rekonsiliasi? Bagaimana Taliban menciptakan janji-janjinya yang akan mewujudkan kepemerintahan inklusiv? Bagaimana pandangan keagamaan Taliban apakah menerima perubahan dan dinamisasi atau tidak?

 

Mukti Ali Qusyairi, Ketua LBM PWNU DKI Jakarta dan Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed