by

ADP dan Upaya Wujudkan Indonesia Unggul di Tengah Keragaman

Kabar Damai  | Senin, 30 Agustus 2021

Jakarta | kabardamai.id | Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengatakan dosen atau tenaga pendidik di perguruan tinggi merupakan komponen penting dan modal utama pembangunan bangsa. Pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan kualitas dan daya saing SDM yang sehat, cerdas, adaptif, inovatif, terampil, dan berkarakter.

Hal itu ia sampaikan ketika memberikan arahan pada Rapat Kerja Nasional (Rakennas) I sekaligus mengukuhkan pengurus Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP) yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII), Jumat, 27 Agustus di Universitas Negeri Jakarta.

“Dosen yang tergabung dalam ADP memiliki posisi sangat strategis dalam mewujudkan Indonesia unggul menyongsong Indonesia Emas 2045 yang penuh dengan tantangan di tengah keragaman,” kata Menag dalam acara yang mengusung tema ‘Mewujudkan SDM Dosen Unggul menuju Indonesia Emas’ ini digelar secara luring dan daring.

“Apalagi, para Dosen ADP memiliki paham, nilai-nilai dan tradisi ahlussunnah wal jamaah yang peaceful dan moderat. Tentu sangat dibutuhkan oleh Indonesia di tengah maraknya fenomena berkembangnya paham, sikap, dan perilaku ekstrem,” sambungnya, dikutip dari kemenag.go.id (28/8).

Menurut Menag, ADP harus hadir menjadi kekuatan untuk membangun tata dunia global yang humanis, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan di satu sisi dan ikut membangun Indonesia yang kuat, berkarakter dan moderat.

Kementerian Agama, lanjut Menag, telah berkomitmen untuk senantiasa meningkatkan kualitas pendidikan karakter keagamaan dan mengintegrasikannya melalui nilai-nilai kebangsaan, kemandirian, dan gotong royong.

Baca Juga:  Berkarya Lewat Sitkom, Aluh Kita Official Edukasi Masyarakat Tentang SOGIESC dan Keragaman

Melansir laman Kementerian Agama RI, salah satu tawaran untuk meningkatkan kualitas pendidikan karakter adalah melalui pendekatan keagamaan bercorak Aswaja, yaitu sebuah paham keagamaan yang terbuka (inklusif) dan ramah terhadap kearifan lokal.

“Keywords Aswaja dan kearifan lokal saya yakin menjadi bagian dari domain kepakaran ADP, sehingga perlu dieksplorasi lebih mendalam dan luas. Aswaja jangan hanya berhenti pada tatanan konsep (diskursus), tapi harus mengejawantah dalam sikap dan perilaku individu, bermasyarakat dan bangsa,” tandas Gus Yaqut.

 

Smart, Adaptif dan Terampil

Gus Menteri menambahkan dalam menghadapi revolusi industri 4.0, ADP juga harus hadir di garda terdepan untuk membentuk SDM yang tidak hanya smart, tetapi juga adaptif serta terampil. Sentuhan tangan dingin para dosen ADP, yang umumnya berlatarbelakang pesantren sangatlah penting sebagai pendidik sekaligus para mentor peradaban melalui peningkatan kualitas perguruan tinggi.

Dipaparkan Menag saat ini telah tumbuh ratusan perguruan tinggi di bawah Nahdlatul Ulama. Pada saat yang sama, PTKIN sedang melakukan transformasi kelembagaan dari STAIN ke IAIN dan dari IAIN menuju UIN sehingga dibutuhkan sumber daya manusia yang cerdas, unggul dan berkarakter.

“Saya berharap ADP dapat menjadi mitra penting pemerintah, khususnya Kementerian Agama untuk menyiapkan kader dosen dan tenaga kependidikan yang mumpuni. Pada saat yang sama juga perlu perluasan jejaring ADP di perguruan tinggi umum di Indonesia,” ujarnya.

Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP) lahir dan dibentuk oleh Ikatan Alumni PMII (IKA PMII) yang berasal dari kalangan akademisi, tenaga pengajar dari pelbagai perguruan tinggi baik negeri dan swasta di Indonesia.

Rektor UNJ, Prof Komarudin, menyambut baik dengan tema SDM dosen unggul menuju Indonesia Emas dalam rakernas pertama ADP.

“Tantangan bangsa kita sangat luar biasa sekarang ini. Oleh karena itu pergerakan dosen-dosen yang tergabung dalam ADP ini harus dalam segala bidang. UNJ siap melakukan workshop dan simposium dalam rangka melahirkan pemikiran-pemikiran besar bagi kemajuan Indonesia,” katanya, Jumat, 27 Agustus 2021.

Hadir dalam Rakernas baik daring dan luring Ketua Umum IKA PMII KH. Ahmad Muqowam, para ketua Majlis Penasehat, Majlis Pertimbangan, dan Majlis Pakar PMII, Ketua Umum Asosiasi Dosen Pergerakan, Prof. H.Abdurrahman Masúd, para pengurus IKA PMII dan pengurus ADP.

 

Pengukuhan ADP Alumni PMII

Sebelumnya, Ikatan Alumni PMII (IKA PMII) yang berasal dari kalangan akademisi, tenaga pengajar dari pelbagai perguruan tinggi (umum/agama/negeri/swasta) bersepakat membentuk Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP). Asosiasi ini dimaksudkan untuk peningkatan kapasitas dan penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, profesional, dan berakhlakul karimah.

Melansir monitor.co.id (24/8), Ketua Umum Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP), Prof. H. Abdurrahman Mas’ud, Ph.D, mengatakan pembentukan ADP merupakan tindaklanjut pertemuan Muktamar Pemikiran alumni PMII yang digelar pada awal April 2021 lalu di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Jawa Timur.

Menurut Abdurrahman Mas’ud, lahirnya ADP sangat momentum, sesuai dengan prediksi para pakar bahwa setelah abad 21 dari lingkungan kaum pesantren akan panen kaum cerdik pandai, educated yang mendunia.

“Kalau abad lalu lahirnya doktor di lingkungan NU bisa dihitung jari, malah sering susah cari SDM doktor NU. Tapi di abad 21 ini, tidak hanya doktor dalam dan luar negeri dari kaum Pesantren tumbuh subur, fakta saat ini adalah pengukuhan para Profesor santri (PMII) menghiasi berita-berita negeri daring dan luring,” katanya sela-sela persiapan peluncuran dan rakernas I ADP, Senin, 23 Agustus 2021 di Jakarta.

“Dalam muktamar menyimpulkan terdapat tiga kunci kontribusi dosen-dosen bagi Indonesia Emas, yaitu database dosen yang solid, pengembangan kapasitas sesuai kebutuhan profesi dosen, dan diversifikasi keilmuan,” papar Abdurrahman, alumni UCLA, AS dan peraih beasiswa Fulbright AS empat kali itu.

Lebih lanjut menurut guru besar UIN Walisongo Semarang ini, keberadaan ADP dimaksudkan sebagai wadah profesi dosen seluruh Indonesia untuk memberi ruang dalam peran dan pengembangan SDM. Asosiasi Dosen Pergerakan lahir dalam rangka menjawab dinamika sosial yang terjadi di masyarakat.

“ADP ini diharapkan menjadi ruang artikulasi para dosen dan wadah untuk pengembangan SDM dosen di Indonesia,” harapnya.

Mantan Kepala Balitbang dan Diklat Kementerian Agama (Kemenag) RI (2014-2020) ini dalam Muktamar Pemikiran Dosen Alumni PMII di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulung Agung, terdapat sembilan rekomendasi yang harus ditindaklanjuti oleh ADP.

“Sembilan rekomendasi Muktamar Pemikiran PMII itu kita terjemahkan melalui program kerja yang akan dibahas dalam kegiatan Rakernas ini,” tandas dia.

Sembilan rekomendasi Muktamar Pemikiran PMII tersebut di antaranya pengembangan perspektif Islam Indonesia yang bersendikan kearifan lokal, membangun hubungan antara keilmuan dan pembangunan nasional/internasional, distribusi dosen secara adil dan proporsional di lingkungan Kemendikbud dan Kemenag, peningkatan kapasitas pengembangan dan distribusi pengetahuan melalui publikasi ilmiah, peningkatan kapasitas kepemimpinan, dan manajemen pengetahuan.

Di samping itu, ADP diharapkan bisa mengawal pengembangan serta penguatan jejaring akademik-kepemimpinan untuk memperkokoh Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU), distribusi program beasiswa S-2 dan S-3 yang adil dan merata serta langkah afirmatif khususnya bagi dosen yang berasal dari perguruan tinggi yang berkembang, terbentuknya jejaring kajian, pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat di kalangan dosen dan lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU). ADP mendorong pemerintah untuk menginisiasi dan mereplikasi program studi vokasional yang berorientasi pemenuhan tuntutan pasar kerja global. [kemenag/monitor]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed