by

Active Against Radicalism by Peace Education

-Opini-35 views

Oleh: Muhammad Riza Fathu Anas

Isu perdamaian merupakan isu abadi. Bukan hanya dalam konteks perang atau chaos saja, tetapi juga dalam hal menjaga sikap damai disekitar yang tentunya diharapkan akan membentuk masyarakat yang damai dan saling menghormati perbedaan. Selalu ada sesuatu yang membuat isu perdamaian bermakna dalam masyarakat.

Dengan kata lain, proses untuk mencapai hal tersebut tidaklah mudah dan membutuhkan jalan yang panjang. Maka agar sikap ini terus mengakar di hati dan pikiran kita semua, diperlukan kemampuan untuk mencerdaskan masyarakat dan generasi penerus.

Untuk itu “Pendidikan Damai Agama” sebuah mata kuliah prodi Studi Agama-Agama di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya didedikasikan secara khusus dalam membantu membangun perdamaian antar komunitas menggunakan kearifan lokal.

Kurangnya pemahaman tentang agama dan budaya universal akan memicu mengarah pada sikap intoleransi dan radikalisme. Radikalisme tidak selalu berkaitan dengan agama. Harus diakui memang ada Muslim pelaku aksi radikal dan ekstremis. Namun munculnya anggapan bahwa radikalisme itu sama atau selalu dikaitkan dengan Islam, tentu saja tidak terjadi dalam semalam.

Selain mereka yang beragama Islam atau penjahat yang diketahui menggunakan alat-alat Islami seperti sorban dan melakukan tindakan radikalisme ekstremis, media (internasional) juga dapat mengekspresikan pandangan radikal, sehingga berperan besar dalam penyebaran berita dan memiliki pengaruh yang besar sehingga seolah-olah (hanya) dilakukan oleh Muslim.

Selain itu media sosial seperti Twitter, facebook, dan Telegram digunakan oleh kelompok radikal atau teroris untuk menyebarkan ideologi mereka. Mereka biasanya memulai dengan berbicara tentang keprihatinan mereka tentang pemerintah. Ketika anak muda memasuki tahap pencarian jati diri, mereka dapat dengan mudah terjerumus ke dalam cerita-cerita yang mengarah pada doktrin-doktrin yang merusak nilai-nilai kebangsaan.

Misalnya, Pancasila menganggap itu tagut yang mendorong orang untuk membenci demokrasi, dan paling buruk merekrut mereka dengan dalih jihad.

Faktanya, pola penggunaan media sosial oleh kelompok radikalisme tidak hanya terjadi di Indonesia. Jadi, tidak heran jika kita menemukan anggota kelompok ISIS dari berbagai daerah. Sebelumnya, Yeni Wahid, direktur Wahid Institute, menerbitkan survei yang menemukan bahwa sekitar 58% siswa rohis yang bersekolah ingin berpartisipasi dalam jihad di negara-negara rawan konflik. Anak-anak dalam penelitian ini bukanlah anak sembarangan. Tapi mereka adalah anak terpintar di sekolah.

Menurut Endang Turmudi dan Riza Sihbudi, radikalisme sebenarnya tidak menjadi masalah jika hanya muncul dalam bentuk ide-ide ideologis para penganutnya. Namun, ketika radikalisme ideologis merambah ranah suatu gerakan, maka hal lain yang dapat menimbulkan kekerasan.

Baca Juga: Peace Education Sebagai Upaya Menciptakan Generasi yang Inklusif dan Humanis

Sedangkan kekerasan terjadi dimulai dari persepsi yang keliru. Pada ajaran agama Buddha mengajarkan untuk mengetahui kebenaran terlebih dahulu sebelum menghakimi tanpa tahu sebabnya.

Terorisme bermula dari paham radikaslisme, salah satu faktor yang menjadi penyebab radikalisme adalah pemahaman agama yang sempit. Oleh karena itu, perlunya edukasi dan memperluas ilmu agama itu sangat penting. Adanya terorisme sudah pasti karena radiklasime, namun radikalsime belum tentu terorisme.

Karena pelaku teror itu paham agama, yang malah lebih paham agama ketimbang orang awam umunya, namun hal itu terjadi karena tidak luas belajar agamanya, jadi hanya bersihkukuh atau melihat pada satu sudut pandang sehingga cendurung close-minded.

Menurut Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan bertujuan mewujudkan pemahaman dalam menciptakan proses pembelajaran agar peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki spiritualitas keagamaan, pengendalian diri, budi pekerti, akhlak mulia, kecerdasan, dan keterampilan yang diperlukan bagi diri sendiri, masyarakat, dan negara.

Hal tersebut jelas, pendidikan merupakan kunci untuk memerangi radikalisme. Pendidikan merupakan proses yang sangat penting bagi kelangsungan hidup dan kehidupan manusia. Karena pendidikan merupakan institusi penting dan memberikan investasi jangka panjang bagi setiap negara di dunia.

Selain itu, pendidikan dapat dikatakan sebagai salah satu indikator perkembangan peradaban suatu bangsa. Oleh karena itu, sangat penting bagi generasi muda, khususnya pemuda muslim, untuk melawan kepentingan-kepentingan yang bertentangan dengan syariah.

Hal ini dikarenakan pendidikan dapat dikatakan sebagai salah satu indikator perkembangan peradaban suatu bangsa. Kekhawatiran muncul di semua pihak, sebab praktik keagamaan merusak keragaman dan perdamaian.

Selain pendidikan, radikalisme juga dapat dilawan melalui lingkungan. Keterlibatan masyarakat dalam mencegah infiltrasi ekstremisme agama juga sangat penting. Komunikasi antar masyarakat memungkinkan generasi muda untuk berpartisipasi dan merasakan minat masyarakat yang besar melalui komunikasi dan kerjasama yang baik dalam berbagai bidang kegiatan sosial, seperti kerja bakti, mengikuti karang taruna dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial masyarakat sekitar. Sehingga, komunikasi antar masyarakat tidak hanya berlangsung dalam rangka memberikan solusi atas permasalahan yang muncul, tetapi juga harus dilakukan dengan tujuan untuk memprediksi atau mencegah munculnya permasalahan dalam hal radikalisme.

Pendidikan memiliki peranan penting dalam memerangi radikalisme di Indonesia. Sekolah atau madrasah seharusya dapat mengajarkan pendidikan perdamian, karena pendidikan perdamaian adalah tentang memahami perspektif siswa tentang bagaimana mereka memperlakukan orang lain.

Dengan kata lain, diharapkan dapat membangun suatu citra interaksi sosial yang positif dikalangan peserta didik dan dapat menciptakan dunia yang penuh dengan keadilan, menjunjung tinggi hak asasi manusia, tanpa konflik, tanpa kekerasan tanpa eksploitasi satu sama lain, dan membina kehidupan yang penuh damai. Mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mendela mengatakan, “Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan pendidikan, Anda dapat mengubah dunia”.

 

Muhammad Riza Fathu Anas,Mahasiswa Studi Agama-Agama UIN Sunan Ampel Surabaya

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed