by

Abu Zayd Al-Balkhi: Ulama Psikologi yang Jarang Diketahui

Oleh: Murniyati Djufri

Saat membahas psikologi, kita lebih cenderung mengetahui tokoh-tokoh psikologi dari Barat, padahal banyak pemikir psikologi sebelumnya dari kalangan muslim dan itu belum banyak diketahui oleh generasi saat ini. Salah satunya adalah Abu Zayd Al-Balkhi (850-934 M).

Al-Balkhi memiliki nama lengkap Abu Zayd Ahmad bin Sahl Al-Balkhi. Ulama muslim yang lahir di Afghanistan ini sudah menulis lebih dari 60 buku dalam berbagai bidang. Salah satu buku beliau yang paling terkenal di bidang kedokteran yang berkaitan dengan psikologi adalah Masalih Al-Abdan wa Al-Anfus. Buku ini kemudian diterjemahkan oleh Prof. Malik Badri ke dalam bahasa Inggris dengan judul Abu Zayd al-Balkhi ’s Sustenance of The Soul: The Cognitive Behavior Therapy of Ninth Century PhysicianBuku ini banyak membahas keterkaitan antara aspek fisik dan psikis atau jiwa manusia.

Ulasan Tokoh dan Relevansinya di Masa Pandemi

Menurut Al-Balkhi, tidak ada seorang pun manusia yang tidak pernah merasakan kesedihan, kecemasan, kekhawatiran, dsb. Hal-hal seperti itu pasti pernah dirasakan. Manusia tidak akan mengenyam hal itu jika ia telah berada di surga nanti. So, its okay to be not okay. Itu adalah suatu hal lumrah yang terjadi pada manusia, dinamika ragam emosi yang ada dalam diri. Yang terpenting adalah bagaimana manusia mampu menyikapinya.

Ihwal tersebut berkaitan dengan kondisi yang sedang kita hadapi saat ini; pandemik Covid-19. Menjadi wajar-wajar saja jika kita punya perasaan cemas atau khawatir dengan keadaan sekarang. Karena esensi jiwa manusia secara natural, mudah berubah-ubah. Akan menjadi tidak wajar, jika perasaan-perasaan tersebut berlarut dan berlebihan tanpa penyikapan apapun dari diri.

 Baca Juga: Sunan Kudus: Anjuran Tidak Menyembelih Sapi, Sebagai Bentuk Toleransi

Simtom-simtom Psikologi Menurut Abu Zayd Al-Balkhi

Abu Zayd Al-Balkhi mengungkapkan bahwa yang menjadi sumber dari segala simtom (baca: gejala) psikologis adalah kecemasan (anxiety). Kecemasan yang berlarut dan berlebihan akan melahirkan simtom-simtom emosional lainnya. Dan hal tersebut bukan hanya mempengaruhi jiwa manusia, tapi fisiknya juga akan terganggu (dalam istilah sekarang kita kenal dengan “psikosomatis”). Berikut ini sejumlah simtom-simtom negatif yang muncul akibat kecemasan.

Pertama, marah. Marah merupakan simtom emosional negatif yang akan mempengaruhi tubuh kita. Seperti, berubahnya suhu tubuh, warna kulit, sirkulasi darah akan meningkat, dan akan mengalami kegugupan. Orang yang dalam kondisi marah, biasanya tidak terkendali dan lebih ekstrimnya lagi, bisa tampak seperti orang gila. Melakukan tindakan-tindakan yang pada akhirnya, akan disesali oleh dirinya sendiri.

Kedua, rasa takut yang berlebihan. Ini merupakan kecemasan yang berlebihan. Al-Balkhi menganalisis bahwa warna kulit orang yang mengalami ketakutan berlebihan akan berubah menjadi kekuningan karena darah mengalir dari permukaan tubuh ke organ bagian dalam. Mengganggu cairan tubuh, serta tangan dan kakinya akan gemetar karena sulit berfungsi secara normal. Ketakutan ini juga akan mempengaruhi pikiran. Jadi ketika dalam kondisi takut yang berlebihan, orang akan sulit berpikir dan mencari jalan keluar. Ketakutan seperti ini biasanya muncul bahkan berkembang karena terlalu mengimajinasikan atau sekadar mendengarkan berita-berita yang buruk.  Agaknya ini sangat sering kita rasakan di masa pandemic sekarang.

Ketiga, kesedihan yang mendalam. Biasanya manusia sangat bersedih saat kehilangan sesuatu yang berharga atau seseorang yang sangat dicintainya. Duka yang mendalam bisa terus meningkat dan menjadi depresi. Yang lebih ekstrimnya lagi, bisa menjadi putus asa dan melukai dirinya sendiri.

Yang keempat adalah obsesi atau disebut juga dengan bisikan negatif. Ini bisa muncul dari batin dan pikiran. Bisikan negatif akan membuat seseorang terus berpikiran buruk—yang akan menimbulkan ketakutan sehingga terus menerus merasa tidak bahagia.

Itulah empat simtom yang semuanya berawal dari perasaan cemas yang berlebihan. Tidak dapat dipungkiri, dalam masa pandemi Covid-19 boleh jadi banyak yang mengalami hal-hal yang disebutkan tadi. Ketakutan yang berlebihan dengan virus Covid-19, marah-marah karena terkendala jaringan saat belajar atau kuliah online, hingga pikiran-pikiran negatif yang berkeliaran karena multidampak dari masa wabah. Berangkat dari situ, ada serangkum solusi dari Al-Balkhi untuk mengatasi simtom-simtom negatif tersebut.

 

Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi dalam Kacamata Al-Balkhi

Selain kesehatan fisik yang kita jaga saat pandemi, kesehatan mental juga patut untuk diperhatikan dan dijaga. Umpamanya dengan menjauhi simtom-simtom yang telah disebutkan. Lalu bagaimana caranya?

Ada dua strategi yang disampaikan oleh Abu Zayd Al-Balkhi, yakni strategi internal dan strategi eksternal.

Melalui strategi internal, kita dapat menjauhi keempat simtom tadi dengan cara menginternalisasikan belief. Maksudnya adalah percaya dan yakin bahwa diri kita mampu mengatasi permasalahan yang sedang dihadapi, dengan memunculkan pikiran-pikiran yang positif. Perlu diingat juga, bahwa berpikir positif ini alangkah baiknya diterapkan pada diri kita, terutama di saat jiwa berada dalam keadaan rileks dan tenang—agar tersimpan lekat dalam memori. Itu ditujukan agar saat menghadapi atau mengalami simtom psikologis, pikiran-pikiran positif tersebut bisa kembali dimunculkan. Hal ini biasa dikenal dengan terapi kognitif dalam psikologi Barat.

Adapun strategi eksternal bisa dilakukan dengan cara membatasi diri dalam mengkonsumsi berita atau informasi yang beredar. Hal ini dilakukan untuk melindungi jiwa dari elemen-elemen negatif di luar dirinya yang akan melahirkan simtom-simtom psikologis. Dengan begini, kita bisa lebih teliti dan bijak saat membaca berita atau mendengar informasi tentang Covid-19. Apabila seseorang sudah mengalami simtom psikologis, strategi eksternal yang bisa dilakukan adalah dengan berdiskusi, bercerita dengan teman, berbagi kisah, atau bahkan konseling untuk menenangkan jiwa yang gelisah.

Strategi-strategi tersebut bisa dilakukan dengan tetap melibatkan Ilahi dalam setiap langkah. Manusia perlu senantiasa menjalankan apa yang mampu dikerjakan dan menyerahkan hal-hal yang di luar kendali pada Yang Kuasa.

Penulis: Murniyati Djufri

Mahasiswa jurusan Interdisciplinary Islamic Studies (Konsentrasi Psikologi Pendidikan Islam) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed