by

Abdul Mu’ti: Menghina Pancasila Sama Dengan Menghina Para Ulama

Kabar Damai | Kamis, 29 April 2021

 

Jakarta | kabardamai.id | Abdul Mu’ti mengaku heran dengn kelompok yang menganggap Pancasila sebagai produk Thoghut yang kafir dan bertentangan dengan ajaran Islam. Menurut Mu’ti, mereka yang menuduh seperti itu telah menistakan ijtihad para ulama.

Melansir laman resmi PP Muhammadiyah, Pancasila sendiri lahir sebagai kesepakatan dan ijtihad para ulama dan tokoh pendiri bangsa. Artinya, perumusan Pancasila memiliki dasar-dasar agama yang sesuai dengan kaidah dan syariat Islam. Bagi Muhammadiyah, Pancasila dianggap sebagai rumusan final yang tidak boleh diubah.

Penegasan itu dilakukan Muhammadiyah dengan meluncurkan dokumen resmi Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah (Negara Perjanjian dan Persaksian) dalam Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar pada tahun 2015.

“Sehingga Muhammadiyah menyebut Pancasila itu dasar negara yang Islami dan Negara Pancasila sebagai negara perjanjian,” ungkap Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti dalam forum diskusi Empat Pilar MPR RI di Gedung Nusantara III Senayan, Jakarta, Senin (26/4), seperti dikutip dari muhammadiyah.or.id.

Dalam diskusi yang bertema “Menangkal Penyusupan Paham Ekstremisme di Kalangan Kaum Muda” itu, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa tugas umat Islam terutama Muhammadiyah adalah melakukan persaksian dengan cara melakukan kerja bersama membangun bangsa.

“Jadi sudah Mabni, artinya nggak bisa berubah-ubah. Selain menjadi Darul Ahdi (Negara Perjanjian), adalah juga Darul Syahadah (Negara Persaksian),” ingatnya lagi.

Baca Juga : Pancasila di PP SNP: Pelajaran Baru atau Menggantikan PPKn?

Tak Bertentangan dengan Nilai Ajaran Islam

Senada dengan Mu’ti, Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah turut prihatin dengan lemahnya pemahaman kelompok ekstrimis di Indonesia terhadap sejarah bangsanya sendiri.

“Para alim ulama yang menurut saya keulamaannya, pengetahuan keilmuannya tentang Islam tentu sangat dalam, mau menerima Pancasila sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Bahwa Pancasila itu bukan nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam,” ujar Basarah.

Selain miskin pemahaman sejarah, kelompok ekstrimis dan radikal itu menurut Basarah juga bermasalah dalam mengimani takdir Allah yang menempatkan mereka hidup di bumi majemuk seperti Indonesia.

“Itu juga harus diyakini bahwa menjadi takdir Allah Subhanahu wa ta’ala, sebagaimana dalam rukun iman yang saya yakini bahwa percaya kepada takdir itu juga bagian dari iman. Sehingga barangsiapa yang ingin mengubah takdir Tuhan pada bangsa Indonesia ini sesungguhnya bertentangan dengan takdir dari Allah Tuhan Yang Maha Kuasa,” tandasnya.

 

Ma’ruf Amin: Pancasila bukan Thogut tapi Titik Temu

Sebelumnya, jauh sebelum menjadi Wakil Presiden, Kiai Ma’ruf Amin menandaskan bahwa Pancasila sebagai dasar negara sudah final. Itu telah disepakati sejak negara Indonesia diproklamirkan.

“Bagi nasionalis Pancasila kebangsaan yang religius. Bagi umat Islam Pancasila kebangsaan yang bertauhid karena ada sisi ketuhanan yang maha esa atas dasar Pancasila itu didirikan negara kesatuan republik indonesia,” jelas Ma’ruf, seperti dikutip merdeka.com, 3 Oktober 2018 silam.

“Jadi Pancasila itu bukan thogut tapi titik temu. Uud 45 itu kesepakatan nasional. Kesepakatan sama sama saudara sebangsa setanah air. NKRI negara kesepakatan,” imbuhnya.

Dia juga menjelaskan mengapa ideologi khilafah tidak diterima. Padahal, Ma’ruf pun mengakui bahwa khilafah itu Islami.

Kiai yang saat itu menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia itu menyebut alasannya Pancasila yang telah disepakati bersama.

“Republik juga Islami. Indonesia, Mesir, Turki, Pakistan. Cuma yang disepakati Indonesia negara yang bentuknya republik. Kan khilafah Islami juga? Iya islami cuma tidak sesuai dengan kesepakatan,” tandasnya.

 

Penulis: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed