by

Abdul Kadir Raden Temenggung Setia Pahlawan: Pahlawan Nasional Pertama dari Kalbar

-Kabar Tokoh-205 views

Oleh: Rio Pratama

Abdul Kadir Raden Temenggung Setia merupakan pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Kalimantan Barat. Beliau lahir pada tahun 1771 di Sintang, Kalimantan Barat. Beliau lahir dari keluarga Oerip ayahnya dan Siti Safariyah ibunya. Ayah Abdul Kadir bekerja sebagai hulubalang atau pemimpin pasukan kerajaan Sintang.

Sejak muda Abdul Kadir mengabdi sebagai pegawai kerajaan Sintang, dia dikenal dapat melaksanakan tugasnya dengan sangat baik sehingga Raja Sintang memberikannya tugas untuk mengamankan kerajaan Sintang dari gangguan pengacau dan perampok.

Abdul Kadir dapat  menjalankan tugasnya dengan sangat baik sehingga beliau diangkat menjadi pembantu ayahnya menjabat sebagai Kepala Pemerintahan kawasan Melawi. Setelah ayahnya wafat, pada tahun 1845, ia diangkat sebagai kepala pemerintahan Melawi menggantikan kedudukan ayahnya. Karena jabatannya itu Abdul Kadir mendapatkan gelar Raden Tumenggung yang diberikan oleh Raja Sintang.

Dalam perjuangannya beliau dikenal dengan pemimpin yang bijak dan cinta damai, Abdul Kadir sukses mempersatukan suku-suku Dayak dengan Melayu serta dapat memperkembangkan potensi ekonomi kawasan Melawi. Namun demikian, beliau juga berjuang keras menghadapi ambisi Belanda-datang di Sintang pada tahun 1820-yang mau memperluas wilayah kekuasaannya ke kawasan Melawi. Dalam menghadapi Belanda, ia memakai strategi peran ganda selama tujuh tahun (1868-1875).

Strategi perang ganda yaitu setia kepada Raja Sintang dan pemerintah Belanda namun secara diam-diam menghimpun kekuatan rakyat dan membentuk kesatuan bersenjata di daerah Melawi dan sekitarnya untuk menghadapi pasukan Belanda. Pada tanggal 27 Maret 1866, Belanda memberikan hadiah uang dan gelar Setia Pahlawan untuk Abdul Kadir Raden Tumenggung supaya sikapnya melunak dan mau bekerjasama dengan Belanda. Namun demikian Abdul Kadir tidak mengubah sikap dan pendiriannya.

Dia tetap memainkan persiapan untuk melawan pemerintahan Belanda. Pada kesudahannya di kawasan Melawi sering terjadi gangguan keamanan terhadap Belanda yang dilakukan oleh pengikut Abdul Kadir Raden Tumenggung.Pada tahun 1868, Belanda yang marah dampak sering mendapat gangguan keamanan kemudian melancarkan operasi militer ke kawasan Melawi.

Pertempuran pun tidak bisa dihindari selang pasukan Belanda melawan pengikut Abdul Kadir Raden Tumenggung. Dalam menghadapi Belanda, Abdul Kadir tidak memimpin pertempuran secara langsung, melainkan dia hanya mengatur strategi perlawanan. Sebagai kepala pemerintahan Melawi, dia bisa memperoleh berbagai informasi tentang rencana-rencana operasi militer pemerintah Belanda.

Baca Juga: 28 Juni: Hari Berkabung Daerah Kalbar

Berkat informasi itulah, para pemimpin perlawanan dapat mengacaukan operasi militer Belanda.Namun, akhirnya pemerintah Belanda mengetahuinya dan kemudian menyerang ke Pusat Perlawanan. Raden Tumenggung mempersiapkan perang melalui pertemuan di Krueng dengan para pemimpin Kawasan Melawi, dan keputusannya antara lain perlawanan dilanjutkan yang berkesinambungan setiap ada peluang, setiap waktu dan tempat, merekrut rakyat untuk dilatih dan di ikut-sertakan dalam perlawanan, dan membangun sistem perlawanan sesuai dengan situasi.

Pada tahun 1871, Laskar Perlawanan menyerang konsentrasi pasukan Belanda di Selik (Wilayah Batu Butong) tempat persediaan persenjataan, amunisi dan perbekalan pasukan Belanda dihancurkan, serta sejumlah serdadu dibinasakan.  Tahun 1871 – 1873, untuk mencairkan suasana yang agak membeku dari kegiatan konfrontasi, agar perang makin marak, maka lascar perlawanan melancarkan serangan melalui aksi-aksi terbatas di sekitar benteng-benteng Belanda sambal melaksanakan sabotase, penghadangan atau serangan hit and run terus menerus di berbagai tempat dan kesempatan.

Tahun 1875, pasukan Belanda menyerang ke Pusat Perlawanan di Natai Mangguk Liang. Dalam serangan ini Belanda menangkap Raden Tumenggung Setia Pahlawan dan merampas barang-barang berharga. Beliau dipenjarakan di benteng Saka Dua milik Belanda di Nanga Pinoh. Tiga minggu kemudian beliau berpulang dalam usia 104 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Natali Mangguk Liang kawasan Melawi.

Abdul Kadir Raden Temenggung Setia Pahlawan adalah satu satunya pahlawan yang meninggal dunia pada usia di atas 100 tahun. Tokoh pejuang yang mampu menghimpun serta menggerakkan rakyat untuk melawan Belanda. Pemikirannya untuk melawan penjajah Belanda menjadi model perlawanan rakyat terhadap Belanda di Sintang hingga tahun 1913. Atas jasa-jasanya dalam perjuangan menghadapi penjajah Belanda,  pemerintah Indonesia menganugerahkan Abdul Kadir Raden Temenggung Setia Pahlawan sebagai Pahlawan Nasional. dengan diterbitkannya Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 114/TK/Tahun 1999 tertanggal 13 Oktober 1999.

Sejak muda Abdul Kadir bahkan sudah mengabdikan dirinya pada daerah asal nya. Karakternya yang ulet dan mau berusaha membuat Raja Sintang percaya untuk memberikan  tugas yang lebih sulit lagi pada Abdul Kadir. Tugas yang sulit tersebut mampu dikerjakannya dengan baik sehingga Raja Sintang mengangkatnya menjadi pembantu ayahnya yang menjabat sebagai Kepala Pemerintahan kawasan Melawi. Bahkan setelah ayahnya wafat Abdul Kadir diberikan mandat untuk menggantikan tugas ayahnya, sebagai kepala pemerintahan dan mendapat gelar  Raden Tumenggung oleh Raja Sintang. Abdul Kadir mampu memimpin Melawi dengan sangat baik terbukti dengan menjadi kawasan perekonomian pada saat itu.

Namun, Belanda yang ada pada saat itu ingin juga menguasai daerah Melawi, menjadikan Abdul Kadir harus berperan secara bijak dan strategis. Kecintaannya terhadap daerahnya dapat dilihat saat Belanda yang memberikan hadiah berupa uang sebagai sogokan kepada Abdul Kadir, tidak membuatnya luluh dan menyerahkan Melawi kepada Belanda, bahkan beliau secara diam-diam mempunyai rencana untuk menyerang dan mengalahkan Belanda dengan strateginya yaitu Peran ganda.

Meskipun pada akhirnya Abdul Kadir harus ditangkap dan wafat dalam masa tahanannya, perannya bagi Kalimantan Barat khususnya Sintang sangat besar karena strategi peran gandanya, terus dilakukan rakyat Sintang dalam perjuangan melawan Belanda hingga tahun 1913. Berdasarkan kisah diatas dapat kita lihat rasa cinta tanah air yang dimiliki oleh Abdul Kadir sampai pada akhir hayatnya, sekalipun  dibayar dengan imbalan uang tidak membuatnya luluh dan jatuh di tangan musuhnya Belanda.

 

Penulis: Rio Pratama

Diolah dari berbagai sumber

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed