by

Abdul Hakim: Memahami Ayat Secara Tekstual Penyebab Kekerasan atas Nama Agama

Kabar Damai | Senin, 19 April 2021

 

Sumatera Utara I Kabardamai.id I Lingkar Studi Sumatera Utara (Litera) mengadakan kegiatan webinar dengan tema Agama dan Kekerasan Multidiciplinary Perspective yang dilaksanakan via zoom meeting pada Sabtu, (17/4/20201).

Diskusi ini membahas kasus kekerasan yang tejadi atas nama agama. Sebagai narasumber Amroeni Drajat, Guru Besar Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara Berbicara tentang kekerasan dan agama telah ada sejak munculnya filsafat khususnya filsafat Islam.

Filsafat dan Agama

“Filsafat Islam merupakan terobosan baru dalam merespon filsafat itu sendiri. Apakah filsafat itu sesuai dengan ajaran islam atau tidak. Dalam menghadapi filsafat itu sendiri umat islam terbagi dua, ada yang mau mengakui dan mempelajari dan ada yang menganggap sebagai musuh,” papar Amroeni, Sabtu (17/4/2021).

Amroeni melanjutkan, usaha dari filsuf awal adalah untuk mensejajarkan agama itu sendiri. Namun, beberapa filsuf berusaha agar filsafat ini dapat sejajar dengan Islam. Pada dasarnya, filsafat memiliki banyak ragamnya. Begitu pula dalam Islam, oleh karena itu Amroeni Drajat mengutip Al-farabi menyaakan bahwa filsafat yang paling baik ialah apabila filsafat tersebut bersumber dari kebenaran.

Baca Juga :“Islam Alternatif”  dan “Islam Aktual”: Memberikan Pemikiran Alternatif yang Sangat Aktual

“Berbagai ragam jenis filsafat itu yang dicari adalah kebenaran. Oleh karena itu Al-farabi mengatakan hanya ada satu filsafat yaitu filsafat kebenaran,” tambahnya.

Lebih jauh, ia menuturkan bahwa walaupun pertentangan atas filsafat khususnya filsafat Islam sudah ada sejak dulu dan menyebabkan perpecahan. Namun para filsuf tetap mengedepankan dialog dalam permasalahan yang ada.

“Jika dilihat ketertarikan umat Islam pada filsafat itu jauh sesudah lama Muhammad wafat. Dalam dunia filsafat Islam dulu sudah ada konflik perihal yang setuju dan tidak dengan filsafat Islam. Saat itu juga telah ada muncul tokoh-tokoh yang kontra namun juga tetap mengedepankan dialog dan serta disikapi dengan bijak lainnya oleh filsuf yang lain pula,” tutupnya.

 

Makna Agama dan Kekerasan Saat Ini

Abdul Hakim Wahid, Dosen Hadis UIN Syarif Hidayatullah manambahkan, umat beragama harus bersama mengkaji apakah benar agama adalah sumber dari kekerasan yang terjadi.

“Kalau ada yang melaksanakan kekerasan atas nama agama maka ia belum benar melaksanakan pergaulan. Kemudian tujuan agama adalah untuk menghidari kekacauan, jadi jika ada yang membuat kekacauan atas nama agama bukan agamanya yang salah namun orangnya,” jelas Abdul Wahid.

Dalam beberapa dekade terakhir, banyak tindakan kekerasan berlatar agama, yang terdekat seperti serangan Zakiah di Mabes Polri dan Bom di Makassar, lalu ada bunuh diri di Surabaya dan pemenggalan guru Perancis karena menunjukkan karikatur nabi, dan masih banyak lagi. Dalam kasus Zakiah, ia meninggalkan surat dan isinya ia merasa ini jihad yang fisabilliah, akan menyelamatkan dirinya dan keluarganya. Berdasarkan dari contoh tersebut, sudah sangat jelas ini didasari oleh agama.

Banyak hal yang menyebabkan seseorang melaksanakan aksi kekerasan berlatar agama, misalnya saja memahami ayat dengan hanya secara tekstual dan tidak menyesuaikan dengan kondisi zaman.

“Jika ada perdebatan apakah benar agama menyebabkan kekerasan, dalam teks agama ada pemicu. Namun bukan karena agamanya yang salah, tapi mereka yang salah dalam menafsirkannya, Oleh karena itu, tidak boleh memahami hanya dalam arti nya saja, harus ditanyakan kepada ulama misal apakah ada pembandingnya atau sebagainya.”

Lebih jauh, Abdul Hamid menyungkapkan bahwa agama bukan satu-satunya faktor seseorang melakukan kekerasan. Terdapat faktor-faktor lain yang harus diperhatikan sehingga dapat mengidentifikasinya.

“Jika kita lihat dalam sejarah ada yang merasa paling benar atau memaksakan kehendaknya atau ikut pasangannya, bahkan ada juga yang motifnya ekonomi yang kemudian menyebabkan terjadinya kekerasan berlatarbelakang agama tersebut. Jadi banyak motifnya,” tutupnya.

 

Penulis: Rio Pratama

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed