by

Persiapan Perempuan Sebelum Menikah

-Kabar Puan-14 views

Kabar Damai I Senin, 02 Agustus 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Belajar sejatinya dilakukan dimana saja dan kapan saja. Dengan belajar, banyak hal baik akan didapatkan dan kemudian dapat diimplementasikan dalam kehidupan. Termasuk salah satunya ketika seorang perempuan hendak menikah.

Ning Imaz Fatimatuz Zahra dalam program Suara Muslimah menjelaskan tentang persiapan perempuan sebelum menikah.

Ia menjelaskan bahwa dalam Islam seorang istri haruslah tunduk kepada suami. Namun dalam proses pengambulan keputusan, pendapat istri juga seharusnya didengarkan.

“Tentu sesuai dengan fitrah Islam bahwa istri harus menuruti perintah suami namun didalam Islam sendiri bahwa suami suami istri tidak hanya hak dan kewajiban namun disitu juga ada mu’asyaroh bil ma’ruf  sehingga ketika ada gesekan atau hal yang dua kepala hendak disatukan maka disitu akan baik sekali jika mengedepankan musyawarah serta kompromi,” ungkapnya.

Baca Juga: Peringati Hari ASI Sedunia, Ini Sejarah Hari ASI Serta Manfaat ASI Bagi Bayi

Ia juga menambahkan, tidak menempatkan istri dalam ketundukan mutlak dibawah suami adalan bentuk menghargai perempuan khususnya seorang istri.

“Sehingga suami disini bukan memberlakukan istri untuk memiliki ketundukan mutlak namun juga mengedepankan serta menghargai keberadaan istri sebagai individu yang boleh dan layak didengar pendapatnya dan juga layak untuk dihargai dengan cara-cara yang sesuai porsinya,” tambahnya.

Dalam hubungan pernikahan, Ning Imaz menjelaskan bahwa perempuan haruslah menjadi insan pembelajar dalam mengarungi bahtera ikatan suami istri.

“Sebelumnya kalau belajar ini memang kewajiban semua orang dan kita mengetahui bahwa tholabul immi minal mahdi ilal lahdi dari kita lahir sampai kita meninggal. Hendaknya itu terus diimplementasikan dengan baik bahwa pembelajaran itu tidak berhenti dan tidak berlangsung dari akademis saja,”.

“Kehidupan ini adalah pembelajaran yang tidak usai-usai sehingga sekalipun sudah menikah dan menjadi orang tua hendaknya tetap mengaktualisasi untuk belajar bagaimana sebetulnya orang tua yang baik serta langsung dipraktikkan jika sudah terjun langsung atau sudah memiliki momongan,” jelasnya panjang lebar.

Walaupun demikian, ia menggarisbawahi bahwa pembelajaran itu memang bisa sambil berjalan dan kesiapan dan kesadaran diri seorang perempuan itu sendiri dalam mengambil keputusan dalam hidupnya. Sehingga ketika dia melangkah ke jenjang pernikahan itu benar-benar ada kesadaran didalam dirinya bahwa pernikahan ini perjalanan yang panjang, berisikan tidak hanya senang-senang saja tapi juga ada tanggungjawabnya.

Menjadi perempuan haruslah realistis, tidak boleh terlena oleh buaian dan atau pandangan-pandangan manis semata tentang sebuah hubungan.

“Perempuan itu kadang terlena karena dari kecil disuguhi Cinderella, Snow White yang diselamatkan oleh pangeran berkuda putih itu sama sekali tidak terjadi di dunia nyata sehingga perempuan itu perlu menyadari dan memiliki kesadaran yang tinggi atas keputusan dan jenjang kehidupan yang akan dia lakukan,” tuturnya.

Terakhir, menurutnya melalui kesadaran yang baik maka akan berdampak baik dalam pelaksanaan berumah tangga nantinya.

“Jika orang memiliki kesadaran yang tinggi maka dalam pelaksanaannya maka ia akan memiliki kesiapan mental dan juga persiapan diri yang kuat sehingga akan menghasilkan rumah tangga dan keluarga yang baik,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed