by

Menghilangkan Insecure dalam Diri Perempuan Pesantren

-Kabar Puan-34 views

Kabar Damai I Senin, 12 Juli 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Hingga kini, peranan laki-laki masih banyak dianggap dominan sehingga perempuan banyak dinomor duakan. Hal ini membuat peran serta perempuan banyak terbatasi dan sulit membuatnya untuk berkembang.

Terlebih bagi perempuan-perempuan yang hidup di pesantren. Tuntutan dan pengamalan terhadap agama yang taat membuatnya dianggap sulit melakukan apa-apa. Namun, menurut Ustadzah Neng Imas Fatimatuz Zahra, seiring dengan perkembangan zaman dan memanfaatkan media sosial yang terus berkembang hingga kini membuat perempuan juga bisa berdaya dan memberikan kemanfaatan.

“Tentu karena eranya sudah digital, informasi sangat masif dan juga dinamis maka perlu disadari bahwa sosial media lebih ditingkatkan lagi supaya kebaikan dan kemanfaatan bisa lebih tersebar luas dan tidak hanya terbatas lingkup lingkungan saja,” ungkapnya.

Hidup dilingkungan pesantren cukup lama dan melihat beberapa praktik, ia berpendapat ada hal konservatif dalam perempuan disana. Kini, kampanye kesetaraan gender terus digelorakan.

Berhubungan dengan kesetaraan gender, menurut Neng Imas tidak diyakini secara sama, setara dapat diimplementasikan melalui memaksimalisasi peran dan kebermanfaatan.

“Tergolong konservatif sehingga kurang dapat dicerna oleh milenial sekarang, namun sebetulnya kesetaraan gender itu menurut saya pribadi bisa bisa diterima asal tidak diyakini sebagai sama, setara tidak selalu sama sehingga laki-laki dan perempuan punya peran dan kodratnya masing-masing,”.

Baca Juga: Problematika Perempuan Disabilitas di Indonesia

“Bukan untuk saling mengungguli tapi hendaknya dioptimalkan pada bidang serta kecenderungannya masing-masing secara optimal sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang signifikan serta bermanfaat untuk umat,” jelasnya.

Perempuan di pesantren dianggap sulit untuk berkembang dan memiliki tingkat insecure yang tinggi. Oleh karenanya menunjukkan peran sangat penting yang dimulai dari lingkup terkecil dari lingkungan yang ada.

“Memang ini PR sekali untuk para wanita, insecure itu hampir melanda keseluruhan bagi kaum kita. Namun cara yang paling penting dan efektif itu dengan belajar mengaktualisasikan diri, yaitu dengan pelan-pelan dari lingkup terkecil baru kemudian merambah ke lingkup yang lebih besar,”.

“Kemudian jika kita sudah berhasil melewati fase-fase dari bawah, insya allah bisa naik keatas dan memberikan kemanfaatan dan pembelajaran untuk diri sendiri dan orang lain,” bebernya.

Menurutnya pula, walaupun hidup di pesantren perempuan tetap dapat menunjukkan perannya.

“Sebetulnya dari semua faktor perempuan bisa masuk, seperti yang kita semua tahu penulis nover bergenre pesantren (sambal menyebutkan beberapa nama-red) semua berlatarbelakang pesantren dan memiliki kiprahnya pada kecenderungannya masing-masing,” tambahnya.

Lebih jauh, untuk perempuan yang pernah dan tidak lagi di pesantren, juga dapat memberikan kiprah dan berbagi ilmu kepada perempuan lainnya.

“Namun jika perempuan pesantren yang keluar dari pesantren salaf, bisa mengumpulkan kiprahnya pada bagian kewanitaan,”.

“Terutama fikih perempuan, sehingga memberikan manfaat secara masif kepada perempuan diluar sana yang mungkin tidak punya kesempatan langsung untuk belajar di Pondok Pesantren sehingga ilmu-ilmu tentang kewanitaan bisa sampai pada mereka dengan baik,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed