by

Muhammadiyah Tiadakan Sholat Idul Adha di Masjid, Bukan Tanda Akhir Zaman

Kabar Damai I Senin, 12 Juli 2021

Jakarta I kabardamai.id I PP Muhammadiyah mengeluarkan surat edaran Nomor 05/EDR/I.0/E/2021 Tentang imbauan perhatian, kewaspadaan, dan penanganan Covid-19 serta persiapan menghadapI Idul Adha 1442 H.

Melansir Republika.co.id (11/7), surat yang ditandatangani oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan takbir keliling tidak disarankan dan sebaiknya dilakukan di rumah. Sholat Idul Adha di lapangan atau masjid atau tempat fasilitas umum sebaiknya ditiadakan atau tidak dilaksanakan.

“Sholat Idul Adha bagi yang menghendaki dapat dilakukan di rumah masing-masing bersama anggota keluarga dengan cara yang sama seperti sholat Id di lapangan,” kata Haedar dalam surat edaran tersebut.

Terkait ibadah qurban sebagaimana hukumnya sunah muakkadah, maka bagi Muslim yang telah memiliki kemampuan berqurban dapat dilakukan dengan tata cara sesuai tuntunan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Haedar menyarankan umat Islam yang mampu lebih mengutamakan bersedekah berupa uang daripada menyembelih hewan qurban.

Baca Juga: Muhammadiyah, NU dan MUI Sarankan Shalat Idul Adha di Rumah, Pemerintah Larang Salat Idul Adha dan Takbiran di Masjid

“Bagi mereka yang mampu membantu penanggulangan dampak ekonomi Covid-19 sekaligus mampu berqurban, maka dapat melakukan keduanya. Karena membantu dhuafa dan berqurban keduanya mendapatkan pahala di sisi Allah SWT,” terang Haedar.

Namun berdasarkan beberapa dalil, memberi sesuatu yang lebih besar manfaatnya untuk kemaslahatan adalah yang lebih diutamakan.

Menjadikan Rumah Tidak Seperti Kuburan

Suatu peristiwa selalu memiliki dua perspektif berbeda. Selain membawa musibah, kadang juga membawa hikmah. Demikian juga dengan pandemi Covid-19.

Di Indonesia, mengganasnya pandemi Covid-19 menyebabkan Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk sementara melarang aktivitas peribadatan di masjid guna mencegah terjadinya penyebaran virus.

Sebagai gantinya, melansir laman resmi PP Muhammadiyah, organisasi Islam yang kini dinahkodai  Haedar Nasher ini  menganjurkan semua peribadatan jamaah lima waktu termasuk salat Jumat dan salat Id dilakukan di rumah masing-masing.

Memperhatikan keputusan tersebut, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agung Danarto berpandangan bahwa masa pandemi adalah momen bagus untuk menjadikan rumah sebagai tempat ibadah.

“Ini kesempatan yang tepat sekali melaksanakan salat jamaah di rumah dengan membaca Alquran dan lain sebagainya sehingga menjadikan rumah kita berkah dan tidak seperti kuburan,” pesannya dalam Pengajian Bulanan PP Muhammadiyah, Jumat, 9 Juli 2021.

Agung membawakan hadis Nabi riwayat Muslim yang berbunyi, “Janganlah jadikan rumah kalian seperti kuburan karena setan itu lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al Baqarah.”

Warga Muhammadiyah sejatinya tak perlu merisaukan keputusan PP Muhammadiyah sebab Majelis Tarjih telah melibatkan para ulama dan berhati-hati dalam membuat keputusan.

“Begitu juga pengertian masjid barangkali dalam kondisi PPKM darurat ini, larangan pemerintah, fatwa dari Muhammadiyah, saatnya menengok hadis dari Abu Said Al Khudri bahwa bumi semuanya adalah masjid kecuali kuburan dan kamar mandi,” terangnya, dikutp dari laman muhammadiyah.or.id (10/7).

Agung kemudian menjelaskan arti kata memakmurkan masjid dalam At Taubah ayat 18. Memakmurkan masjid adalah memperbanyak peribadatan kepada Allah tidak terbatas di bangunan masjid saja.

“Rumah kita juga masjid. Sehingga ekspreisi mengungkapkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya tidak hanya di masjid sebagaimana yang kenal selama ini,” jelasnya.

Salah (Idul Adha) di Rumah sebagai Tanda-tanda Akhir Zaman?

Dalam acara yang sama, Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Hamim Ilyas menuturkan bahwa prosesi lebaran Iduladha tidak boleh hanya dipandang sebagai dimensi ritual tahunan semata.

Sayangnya, publik seringkali hanya menekankan aspek ritual dalam beragama, sehingga kalau ritual tidak seperti biasanya, mereka gusar seakan datang tanda-tanda akhir zaman.

“Ada satu grup di Whatsapp warga Muhammadiyah karena salat Iduladha di rumah, maka dia mengeluhkan di media sosial: akhir zaman, salat Iduladha di rumah, siapa khatibnya. Jadi, salat Iduladha di rumah saja dipandang sebagai akhir zaman,” tutur Hamim seperti dikutip laman muhammadiyah.or.id (10/7).

Karena itulah menurut Hamim, salat Iduladha dan kurban memiliki dimensi-dimensi dan makna yang fungsional untuk mewujudkan tujuan pewahyuan risalah Islam. Salat Iduladha hukumnya sunah muakkadah atau sunah yang sering dilakukan oleh Nabi Saw. Sebagai ibadah mahdlah-badaniyah, salat Iduladha tentu tidak dapat diganti dengan ibadah lain atau dikerjakan orang lain (tidak bisa diwakilkan).

Sementara terkait dengan tempat pelaksanaan, salat Iduladha idealnya dilaksanakan di tanah lapang. Apabila cuaca hujan maka dapat dilaksanakan di dalam masjid. Tidak hanya itu, Hamim turut menerangkan bahwa pada zaman Nabi, ketika sahabat Nabi Anas bin Malik tidak dapat salat Id di tempat yang semestinya, beliau memerintahkan keluarganya untuk ikut salat Id bersamanya di rumah.

Keterangan ini menurut Hamim—mengutip Ibn Rajab dalam kitab Fath al-Bari— diperkuat sejumlah ulama terkemuka seperti Hasan Al-Basri, Ibn Sirin, Abu Hanifah, Malik bin Anas, Idris al-Syafii, Ahmad bin Hanbal, dan lain-lain.

“Jadi menurut Ibn Rajab, empat Imam Mazhab itu membolehkan baik salat Idul Fitri maupun salat Iduladha di rumah. Pada masa pandemi Covid-19, salat Id ditiadakan itu tidak masalah atau dilaksanakan di rumah muslim masing-masing,” terang Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga ini.

Karenanya, Hamim menegaskan bahwa salat Id di rumah bukan fenomena baru ataupun tanda-tanda akhir zaman. Pengalihan salat Id ke rumah sejatinya salah satu terapi ampuh untuk menata benang kusut persoalan hidup karena datangnya wabah Covid-19 ini. Bukan hanya dalam rangka menyelamatkan nyawa tapi juga untuk menyembuhkan semua sektor-sektor kehidupan.

Hamim kemudian menjelaskan teknis prosesi salat Iduladha di rumah bersama keluarga. Menurutnya, salat Id di rumah dapat mengandalkan salah satu anggota keluarga untuk khutbah dan memimpin salat. Tidak perlu khutbah yang panjang atau menggebu-gebu, menurut Hamim, cukup dengan membaca QS. Al Fatihah dan terjemahannya, khutbah dapat diakhiri.

“Tidak perlu mendatangkan khatib dari luar!” tegas Hamim. [republika/muhammadiyah.or.id]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed