by

Potret Toleransi di Bandar Lampung: Muslim Penjaga Vihara, Pemuda Katolik Jaga Salat Ied

Kabar Damai  | Senin, 21 Juni 2021

Bandar Lampung | kabardamai.id | Toleransi menjadi sikap cukup sering diperbincangkan belakangan ini. Dari sikap saling menghargai itu tentunya akan tercipta masyarakat rukun dan damai.

IDN Times menilik sebuah potret toleransi begitu kuat di salah satu tempat ibadah umat Buddha di Bandar Lampung. Adalah Vihara Thay Hin Bio yang terletak di Jalan Ikan Kakap Nomor 35, Telukbetung Selatan, Kota Bandar Lampung.

Toleransi itu terlihat dari sebagian petugas yang bekerja adalah umat beragama Islam.

Bahkan menurut Viriya, Rohaniawan Vihara Thay Hin Bio, meski para pekerja berasal dari umat muslim, mereka lebih mengetahui ritual-ritual yang harus dipersiapkan untuk ibadah. Sebab sudah puluhan tahun mereka mengabdi di Vihara tertua di Provinsi Lampung itu.

“Kami ada 10 pengurus, lima di antaranya umat muslim. Mereka yang dari umat muslim kami beri kebebasan menjalankan ibadah mereka,” kata Viriya, Sabtu, 5 Juni 2021.

  1. Tak pernah diajak pindah agama

Salah satu pengurus beragama Islam di Vihara Thay Hin Bio adalah Marto, sudah 27 tahun bekerja merawat vihara. Kegiatan dilakukannya seperti membersihkan tempat peribadatan serta mendekorasi buah-buahan atau membuat lilin untuk ibadah.

Baca Juga: Potret Toleransi Keluarga Lintas Agama di Kalimantan Barat

Selama bekerja, pria kelahiran Gorontalo ini mengaku tak masalah harus menjalani pekerjaan menyiapkan tempat beribadah agama lain. Ia bahkan tak pernah sekali pun diajak masuk ke agama Buddha.

“Malah kalau hari Jumat mereka (umat Buddha) negor kita nyuruh Jumatan. Kita sudah terbiasa, jadi tidak ada lagi membedakan agama, jalanin masing-masing sesuai keyakinan,” kata Marto, dikutip dari IDNTimes (5/6).

  1. Tak diperkenankan merawat patung

Marto juga menceritakan bagaimana para rohaniawan memberikan toleransi kepada pekerja beragama muslim untuk tidak ikut merawat patung Buddha. Menurut Marto, hal itu agar tidak menimbulkan salah paham.

“Kalau merawat patung-patung kita dibatasi, tetap yang agama Buddha yang ngurus. Dari pihak vihara tidak memperbolehkan karena untuk kenyamanan kita,” jelasnya.

  1. Sering dapat THR saat hari raya

Beberapa jemaat sudah paha sebagian pengurus di Vihara kebanyakan umat muslim. Saat hari raya Idul Fitri, Marto dan pekerja lain dari umat muslim kerap mendapat THR berupa sarung, sajadah atau baju koko.

Terkait fasilitas selama bekerja Marto mengaku tak pernah kekurangan. Sebab pihak vihara menanggung biaya kesehatan bagi pekerjanya.

“Di sini kita makan aman, kalau sakit gak pernah keluar biaya. Jam kerja juga longgar, berangkat jam tujuh pagi pulang jam 4 tapi itu gak mengikat harus jam segitu,” terangnya.

  1. Kekeluargaan yang erat membuat btah

Pekerja lain yang sudah lebih lama dari Marto adalah Sugiono. Pekerjaan merawat Vihara sudah dilakoninya selama 56 tahun. Sejak masih muda hingga saat ini sudah memiliki anak cucu.

Pria asal Jawa Tengah ini awalnya bekerja sebagai tukang bangunan di vihara. Setelah selesai, ia mendapat tawaran untuk menjadi pengurus vihara. Tawaran itu ia terima dengan senang hati.

“Kerjaan apa aja, kadang nyapu bersihin debu-debu sama bikin lilin. Suasana kekeluargaan di sini  yang bikin betah. Lagian mau kerja di mana lagi,” ujarnya.

Beragam Agama Jaga Salat Id

Tak hanya potret toleransi tersebut, sebelumnya, pemuda dan pemudi lintas agama terlibat dalam pelaksanaan Salat Id 1442 Hijriah di Lampung, Kamis, 23 Mei 2021.

Pemuda yang tergabung dalam Pemuda Katolik, Pemuda Buddha, GP Ansor dan pemuda setempat mengamankan Salat Id di masjid setempat Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung.

Selain terlibat dalam penjagaan, sejumlah pemuda juga ikut terlibat dalam pengawasan protokol kesehatan.

“Totalnya ada 35 pemua yang bergerak, tersebar dalam 4 masjid dan 4 musholla di Pesawaran,” kata Antonius Jumangkir, Ketua Pemuda Katolik Pesawaran.

“Seperti Masjid Nurul Huda dan Masjid Ar Rohman,” sambung dia, dikutip dari tribunnews.com (13/5).

“Dimana yang dijaga ialah daerah dengan ancaman sebaran covid-19 yang paling rendah,” ucapnya.

Hal tersebut dikatakannya seiring dengan imbauan pemerintah untuk tidak menyelenggarakan Salat Id di daerah berstatus Zona Merah dan Orange. Menurutnya, toleransi antar umat beragama di Pesawaran terjalin sangat baik.

“Dengan ini, diharap hubungan dan kerukunan antar umat beragama di Pesawaran bisa semakin erat,” ucap dia.

Untuk diketahui, pelaksanaan penjagaan tersebut terfokuskan di Desa Margorejo dan Desa Sidobasuki, Kecamatan Tegineneg, Kabupaten Pesawaran.

Selain di Pesawaran, contoh lain juga terdapat di kabupaten lain yakni Tanggamus.

“Masjid yang dijaga ada di Desa Tegal Binangun Kecamatan Sumberejo Tanggamus,” kata Tomas, pemuda setempat.

Pengamanan juga dibantu oleh aparat dan pamong desa setempat.

Pemuda Katolik Berjaga Saat Salat Id

Kerukunan sesama umat beragama juga di Sai Bumi Ruwa Jurai. Ratusan Pemuda Katolik di berbagai Kabupaten di Lampung mengamankan masjid saat umat muslim melaksanakan salad Idulfitri 1441 H.

Harmoni indah memang selalu terlihat nyata di Lampung. Dalam setiap moment pelaksanaan salad Id, Pemuda Katolik membantu mengamankan masjid agar pelaksanaan perayaan berlangsung damai, aman dan lancar. Tidak hanya itu, mereka juga membantu mengatur lalu lintas dan mengatur posisi sepeda motor dan mobil para jamaah.

“Ratusan Pemuda Katolik yang tersebar di berbagai kabupaten di Lampung, diantaranya di Pesawaran, Lampung Selatan, Tanggamus, Lampung Tengah, Pringsewu dan Way Kanan, membantu mengamankan masjid saat umat Islam melaksanakan salad Id,” kata Ketua Komda Pemuda Katolik Lampung, Marcus Budi Santoso kepada Altumnews.com, Jumat, 14 Mei 2021.

Marcus mengatakan bahwa orang muda adalah calon pemimpin masa depan bangsa. Mereka harus menjadi teladan dalam masyarakat.

“Kegiatan ini salah satu contoh moderasi beragama, kerukunan saling dukung antar umat beragama. Nilai ini kelak akan terwarisi ke anak cucu,” kata Marcus.

Marcus berharap apa yang dilakukan Pemuda Katolik dapat menginspirasi unsur pemuda lintas agama lain, menebarkan pilus-pilus kerukunan dan toleransi di tengah-tengah masyarakat.

“Semoga ini mengispirasi dan selanjutnya semakin banyak terlibat dari unsur pemuda lintas agama yang lain. Kader Pemuda Katolik akan terus menjadi pelopor, motor penggerak moderasi beragama di wilayahnya masing-masing,” pungkasnya.

Dihubungi terpisah, Moderator Komisi Bidang Politik Keuskupan Tanjungkarang, Romo Yohanes Kurniawan Jati mengapresiasi tindakan konkret Pemuda Katolik.

“Di tengah isu-isu sara yang mencuat akhir-akhir ini, baik nasional maupun internasional, generasi muda harus menumbuhkan sikap toleransi dalam kehidupan bersama dalam masyarakat,” kata Romo Jati.

Pluralisme: Sikap Mampu Memahami Perbedaan

Harmoni dalam pluralisme menurut Romo Jati, bukan diartikan menyeragamkan atau menyamaratakan prinsip masing-masing kelompok, namun sikap mampu memahami perbedaan, menemukan persamaan dan saling menghormati.

“Salah satu cara untuk membangun harmoni dalam pluralisme adalah ikut menjaga situasi yang aman dan damai pada hari raya keagamaan. Tindakan yang dibuat haruslah aktif, bukan sekedar pasif tidak saling mengganggu perayaan agama yang lain,” imbuhnya.

Keaktifan yang dimaksud menurut Romo Jati dapat dilakukan dengan bermedia sosial yang santun, saling mengucapkan selamat, dan tidak menebar kebencian.

“Atau lewat tindakan langsung di lapangan dengan cara ikut serta menjaga kenyamanan dan keamanan kelompok agama lain dalam menjalankan peribadatan,” kata dia.

Moderator Komisi Bidang Politik Keuskupan Tanjungkarang ini berharap Pemuda Katolik dan organisasi lainnya untuk terus menjalin komunikasi dan bersinergi dengan baik dalam kehidupan bermasyarakat.

“Para pemuda yang tergabung dalam organisasi masyarakat harus terus menemukan cara untuk membangun komunikasi dan kerjasama yang baik dalam bermasyarakat,” pungkasnya. [IDNTimes/tribunnes/altumnews]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed