by

Menjadi Barnabas di Tengah Pandemi

Pdt Edi Suranta Ginting

Pemirsa Mimbar Kristen Kementerian Agama dan seluruh umat Kristen se-Indonesia. Syalom dan salam damai sejahtera bagi kita semua.

Mengawali tulisan ini, saya mengundang semua kita untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan dengan berdoa: “Bapa kami yang bertahta dalam kerajaan sorga, segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan. Bila pada saat ini kami dapat bersekutu bersama-sama untuk memuji dan memuliakan nama Tuhan dan juga untuk mendengarkan firman Tuhan, Bapa berilah kiranya supaya hati kami terbuka dan hati kami dikuatkan dan diteguhkan dengan firman Tuhan yang akan kami renungkan bersama-sama pada saat ini. Dan biarlah hamba Mu juga yang Kau percayai untuk menyampaikan uraian firman Tuhan, Engkau kiranya juga yang memberkati, sehingga isi hati-Mu lah yang disampaikan kepada seluruh umat Mu pada saat ini, dan bagi-Mu lah segala puji, hormat  dan kemuliaan sampai selama-lamanya, Amin”

Bulan lalu, tepatnya 23 Mei 2021, kita sudah memperingati peristiwa pencurahan Roh kudus, yang menjadi awal lahirnya gereja Tuhan di tengah-tengah dunia ini. Masih dalam semangat peristiwa pencurahan roh kudus dan kelahiran gereja, saya rindu mengajak kita sekalian untuk melihat bagaimana gereja yang baru lahir tersebut menghadapi kesukaran dan tekanan yang mereka hadapi.

Untuk itu saya akan membacakan firman Tuhan dari Kisah Para Rasul pasal 4 : 31-37:

4:31 Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani. 4:32 Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. 4:33 Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. 4:34 Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa. 4:35 dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. 4:36 Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. 4:37 Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

Baca Juga: Dimensi Kemanusiaan dalam Bersedekah

Pemirsa Mimbar Kristen Kementerian Agama dan umat Kristen seluruh Indonesia yang saya kasihi. Ada dua konteks yang melatari perikop yang sudah saya bacakan barusan. Pertama, pelayanan para rasul. Di dalam Kisah Para Rasul pasal 2, di gambarkan oleh Lukas tentang para rasul yang mengalami pencurahan roh kudus dan mereka berbicara dalam berbagai bahasa asing. Setelah itu Petrus berkhotbah dan membuat 3000 orang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus dan memberi diri mereka untuk dibaptis, dan kemudian firman Tuhan memberikan kesimpulan di pasal 2 ayat 47 bahwa mereka semua disukai banyak orang.

Lalu di pasal 3, Rasul Petrus menyembuhkan orang yang lumpuh di gerbang bait Allah dan membuat banyak orang menjadi takjub. Petrus berkhotbah lagi di serambi Salomo dan menyatakan bahwa kesembuhan orang yang lumpuh itu adalah karena kuasa Tuhan Yesus Kristus. Oleh karena itulah juga dia kemudian menantang orang banyak untuk percaya dan menerima Tuhan Yesus dan dampak dari khotbahnya itu ialah banyak orang menjadi percaya dan jumlah mereka pada waktu itu sudah menjadi 5000 orang yang dituliskan dalam kisah rasul pasal 4 ayat yang ke-4.

Kedua, sikap para rasul dan ancaman para pemimpin agama. Di pasal 4, ditunjukkan reaksi para pemimpin agama terhadap khotbah-khotbah dan perbuatan para rasul. Para pemimpin agama sangat marah karena ajaran di dalam nama Tuhan Yesus dan juga ajaran tentang kebangkitan. Kemudian mereka menangkap rasul-rasul itu.

Para pemimpin agama dipimpin oleh imam besar Hanas dan Khayafas dan kemudian menyidang para rasul. Mereka ditanya dengan kuasa apa mereka membuat mukjizat? Lalu para rasul menjawab bahwa mereka membuat mujizat dengan kuasa Tuhan Yesus Kristus. Kemudian Petrus juga menegaskan bahwa tidak ada keselamatan selain dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Hal itu membuat para pemimpin agama menjadi lebih marah lagi dan mengancam mereka untuk tidak lagi berbicara tentang Tuhan Yesus. Lalu  para rasul menjawab, bahwa mereka akan lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Pemimpin agama menjadi semakin marah. Mereka tidak melihat alasan untuk menahan para rasul lebih lama lagi. Mereka juga gentar terhadap orang banyak yang bersimpati kepada para Rasul. Itulah sebabnya mereka kemudian melepaskan para rasul tetapi dengan pesan supaya para rasul dan para pengikutnya tidak lagi meneruskan ajaran tentang apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus kepada orang banyak.

Saudara – saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Bagaimana jemaat merespons keadaan yang sulit ini, keadaan yang mengancam dari para penguasa, penguasa yang juga punya kekuasaan politik pada waktu itu. Menarik untuk kita perhatikan bahwa respons terhadap ancaman dan tekanan para pemimpin agama Yahudi yang disampaikan oleh para rasul disikapi dengan iman oleh jemaat.

Bila pada pasal sebelumnya kita melihat yang berperan dalam berbagai peristiwa ialah para rasul, tetapi dalam perikop ini yang berperan adalah anggota jemaat. Ada dua respons anggota jemaat terhadap tekanan dan ancaman dari para pemimpin agama yang bisa kita lihat.

Respon yang pertama, keberanian untuk bersaksi. Tertulis dalam kisah rasul pasal 4 ayat 31 setelah mendengar cerita Petrus dan Yohanes tentang ancaman dari imam dan tua-tua kepada para Rasul, maka yang dilakukan oleh jemaat adalah berseru berdoa kepada Tuhan dan meminta tiga hal kepada Tuhan, yaitu: meminta kuasa keberanian memberitakan firman Tuhan, meminta kuasa untuk menyembuhkan orang, dan yang ketiga meminta kuasa untuk mengadakan mujizat.

Menarik untuk kita perhatikan doa jemaat ini. Mereka tidak minta supaya musuh mereka disingkirkan, dan juga tidak minta supaya mereka dibebaskan dari ancaman dan dari tekanan. Mereka melainkan meminta keberanian, kuasa menyembuhkan, dan doa untuk bisa mengadakan mujizat. Tuhan mendengarkan doa mereka ketika mereka sedang berdoa goyanglah tempat mereka berkumpul dan mereka semua kemudian penuh dengan roh kudus dan memberitakan firman Tuhan dengan berani.

Apa yang dialami oleh jemaat ini memiliki dua kesamaan dengan apa yang dialami oleh para rasul yang dicatat dalam kisah rasul pasal 2.  Pertama, tempat mereka berdoa bergoyang sama seperti yang dialami oleh para rasul dan kemudian mereka penuh dengan roh kudus sama seperti yang dialami oleh para rasul. Kedua, mereka berani memberitakan firman Tuhan seperti yang dilakukan oleh Rasul Petrus.

Saudara-saudara, pastilah tidak secara kebetulan kalau Lukas kemudian menggambarkan ada dua persamaan antara yang dialami oleh para rasul dan yang dialami oleh jemaat Tuhan. Yang artinya dapat kita simpulkan ialah bahwa Tuhan tidak membeda-bedakan untuk memberi kuasanya, tidak hanya memberikan kuasa kepada para rasul, tidak hanya memberikan iman kepada para Rasul, tetapi juga jemaat bisa mengalami kuasa Tuhan dan juga bisa mengalami kepenuhan roh kudus dan juga dapat melakukan seperti yang dilakukan para rasul.

Para Pemirsa Mimbar Kementerian agama dan juga umat percayaan di seluruh Indonesia. Apa yang dialami oleh jemaat adalah sesuatu yang menarik untuk kita renungkan dan pertimbangkan. Kita harus ingat bahwa keberanian yang mereka miliki ketika mereka bersaksi adalah karena kasih karunia Tuhan. Mereka berdoa, mereka meminta dan Tuhan menganugerahkan keberanian itu kepada mereka. Atas dorongan roh kuduslah dan atas roh kudus yang menguasai hidup mereka, maka mereka berani menjadi saksi Tuhan.

Respon yang kedua adalah, mereka berani berbagi. Ini yang tertulis pada kisah rasul pasal 4 ayat 32 sampai dengan ayat 37. Berbagi bukanlah sifat bawaan manusia. Yang menjadi sifat bawaan adalah dorongan untuk menyelamatkan diri dan mencari, serta mengumpulkan untuk dinikmati sendiri atau dinikmati oleh keluarga sendiri. Akan tetapi, jemaat yang dipenuhi oleh roh Kudus ini menunjukkan satu tanda, yaitu adanya persekutuan atau adanya komunalitas yang saling berbagi satu dengan yang lain.

Rasul Lukas menyebut mereka sehati dan sejiwa. Ini dijelaskan dengan sifat setiap pribadi yang tidak memagari milik pribadinya melainkan menempatkannya untuk kepunyaan bersama. Kepunyaan bersama tidak dalam arti kepemilikan, melainkan kepada pemakaian atau pemanfaatan apa yang ada. Apa yang mereka perbuat berdampak pada, tidak ada seorangpun yang berkekurangan. Itu yang dilaporkan oleh Rasul Lukas.

Tidak ada seorangpun di antara mereka yang berkekurangan karena selalu ada orang yang menjual harta bendanya dan hasil penjualannya diserahkan kepada rasul-rasul untuk dibagikan kepada orang sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.

Ada dua peran rasul yang disebutkan dalam perikop ini. Pertama, rasul yang bersaksi tentang kebangkitan Tuhan Yesus, itu di ayat 33. Kedua, rasul yang menerima hasil penjualan harga benda dari jemaat untuk kemudian dibagikan kepada orang miskin.

Dan itu selipan, tetap saja peran utama dalam perikop ini ialah jemaat yang saling berbagi satu dengan yang lainnya.

Salah seorang dari anggota jemaat yang menjual harta bendanya ialah Yusuf orang Lewi. Ia kemudian diberi nama Barnabas yang artinya ialah orang yang suka menolong atau orang yang suka membuat orang susah menjadi senang atau menjadi terhibur dengan pertolongannya. Dia menjual tanahnya dan kemudian menyerahkan hasil penjualannya kepada para Rasul untuk dibagikan kepada orang miskin.

Jadi, dalam perikop ini dijelaskan bahwa jemaat yang dipenuhi oleh roh Kudus ialah jemaat yang hidup dalam persekutuan dengan saling berbagi. Sehingga, tidak ada di antara mereka yang berkekurangan satu dengan yang lainnya.

Pemirsa Mimbar  Kristen dan umat Kristen seluruh Indonesia. Dari bagian firman Tuhan yang sudah diuraikan secara sederhana, saya melihat ada dua hal yang dapat kita terapkan dalam kehidupan kita pada masa sekarang. Kita perlu berdoa meminta kepada Tuhan Yesus agar kita pun dan gereja kita pun dapat meneladani apa yang dilakukan oleh jemaat mula-mula ketika mereka menghadapi situasi yang sukar dan bahkan situasi yang mengancam dan situasi yang menekan.

Dua  hal yang dapat kita teladani ialah, yang pertama berani bersaksi di masa pandemi. Tema renungan kita hari ini, saya ambil roh Kudus memberikan keberanian untuk bersaksi dan berbagi dengan sub tema gereja yang bersaksi dan berbagi pada masa pandemi.

Pandemi yang melanda dunia telah berlangsung selama 1 tahun. Pandemi belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti dan malahan sekarang kita melihat di negeri kita terjadi lagi peningkatan atau bahkan mungkin ledakan sebagaimana yang diprediksi oleh banyak ahli-ahli epidemiologi. Oleh karena itu ada tiga hal yang diakibatkan oleh pandemi ini.

Pertama, penyebaran yang demikian cepat, luas, dan sudah menimbulkan banyak korban yang meninggal dunia. Dalam laporan yang terakhir sudah ada lima puluhan ribu orang yang meninggal di Indonesia. Mereka yang meninggal dunia itu bisa saja adalah saudara kita atau teman segereja kita, tetangga kita, atau orang yang kita kenal. Tentu berita kematian karena covid berdampak pada banyak orang yang melahirkan rasa takut dan bahkan juga bisa menjadi paranoid.

Tidak jarang kita mendengar bahwa kalau ada orang yang batuk maka kemudian dikaitkan jangan-jangan batuknya itu adalah tanda bahwa dia sudah kena virus covid. Atau ketika orang mulai demam, maka kemudian mulai takut bahwa dia bisa kena covid. Ini menunjukkan suasana hidup dalam ketakutan-ketakutan virus Corona yang bisa melanda siapa saja dan bisa mematikan siapa saja. Karena itu yang sering kita dengar orang-orang yang meninggal karena covid19.

Kedua, berubahnya pola hubungan sosial. Sebelum covid budaya bangsa kita ialah budaya silaturahmi dengan saling berkunjung dan saling berkumpul; membuat acara dengan mengundang semua keluarga dan kenalan. Akan tetapi sekarang, hal itu tidak bisa lagi kita lakukan. Di hari raya misalnya, kita tidak lagi dimungkinkan untuk berkumpul, karena berkumpul bisa membuat virus semakin menyebar.

Bila kita membuat hajatan seperti pernikahan atau ulang tahun atau bahkan kemalangan kerabat, yang diundang pun hanya boleh dalam jumlah yang sangat terbatas. Tentu hal ini menjadi tekak, pembatasan yang menekan. Belum lagi para ibu dipaksa untuk menjadi guru privat bagi anak-anak mereka, padahal mereka tidak pernah mendapatkan pelatihan atau kursus untuk menjadi seorang guru. Tentu hal seperti ini menjadi sumber stress.

Ketiga, merosotnya pendapatan dan kehilangan pekerjaan. Dampak pandemi yang tidak dapat dihindarkan ialah aspek ekonomi. Ekonomi yang mengalami resesi. Banyak pengusaha yang kekurangan atau bahkan kehilangan income. Bila sebelum pandemi setiap hari mereka menghitung pendapatan dan keuntungan tapi sekarang mereka menghitung kerugian dan kehilangan harta benda yang harus dijual untuk membayar biaya operasional. Banyak orang yang kehilangan pekerjaan sehingga mau tidak mau mereka harus mengusahakan cara lain supaya hidup bisa terus berjalan.

Sebagai orang percaya, bagaimana kita menyikapi pandemi Covid 19 dengan berbagai dampak yang diakibatkannya sesuai dengan teladan jemaat mula-mula ketika mereka menghadapi tekanan dan ancaman. Maka kita pun perlu memohon doa kepada Tuhan Yesus dengan meminta keberanian untuk bersaksi, kuasa untuk menyembuhkan orang sakit dan kuasa untuk membuat mujizat.

Apa artinya? Artinya ialah keberanian bersaksi dicerminkan dalam perkataan dan sikap bahwa kita percaya Tuhan Yesus tetap dapat diandalkan pada masa pandemi ini. Kita menunjukkan sikap percaya dan ketabahan pada kuasa Tuhan yang sudah bangkit dari antara orang mati dan dengan sikap itu, kita harapkan bisa meneguhkan hati banyak orang yang mulai putus asa, atau bahkan sudah mengalami ganguan emosi selama masa pandemi.

Roh Kudus akan memampukan kita, tidak hanya memperhatikan dan memperdulikan diri kita sendiri, melainkan juga saudara-saudara di sekitar kita yang membutuhkan sesuatu yang barangkali ada pada kita. Marilah kita berharap bisa menjadi seperti Barnabas, orang yang suka menolong dan mengubah kesedihan orang menjadi kegembiraan. Mungkin untuk menjadi seperti Barnabas, kita dapat mengurangi kenikmatan kita sendiri, mengurangi konsumsi kita sendiri, supaya sebagian bisa kita bagikan menjadi kenikmatan dan kebahagiaan bagi orang lain.

Kita percaya apa yang firman Tuhan katakan dalam kisah rasul pasal 20 ayat 35, ada kenikmatan yang lebih ketika memberi, daripada kenikmatan ketika kita menerima. Bila kita membuka diri maka akan ada banyak kesempatan yang bisa kita dapatkan untuk memberi kegembiraan atau pertolongan kepada orang-orang yang membutuhkan. Mari kita beranikan diri kita untuk memberi, Amin.

 

Pdt. Edi Suranta Ginting, M.Div., M.Th., D.Th. (Ketua Sinode GIKI-Gereja Injili Karo Indonesia)

Sumber: https://www.kemenag.go.id/read/menjadi-barnabas-di-tengah-pandemi-q9qvx

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed