by

Spiritualitas Dalam Bisnis

Judul Buku: Mindfulness-Based Business:  Berbisnis dengan Hati

Penulis: Sudhamek AWS

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2020

 

Oleh Budhy Munawar Rachman

Menjadi pengusaha bukan lagi dianggap sebagai kaum kelas dua, tetapi sudah menjadi tujuan utama banyak manusia sekarang ini. Maka dewasa ini buku-buku tentang entrepreurship, seminar kewirausahaan, training motivasi, terus menjamur dan diminiati oleh banyak orang. Meskipun demikian, perlu dipahami bahwa menjalankan usaha sebenarnya bukan sekedar mengejar profit atau keuntungan pribadi semata. Kalau orang menjalankan usaha hanya berorientasi pada keuntungan materi sebesar-besarnya sebagai tujuan utamanya, maka kalaupun usahanya berhasil, belum tentu menjadi berkah bagi dirinya. belum tentu menjadikan kebahagiaan sejati bagi dirinya, apalagi orang lain.

Berbisnis dengan hati nurani adalah suatu aktifitas bisnis yang dilandasi oleh nilai-nilai luhur transendental dengan menghidupkan potensi utama kemanusiaan, yaitu bisnis tidak hanya dilandasi oleh kepentingan materi semata yang bersifat sementara, melainkan nilai-nilai yang dapat mengantarkannya pada tingkat kesadaran tertinggi, sehingga mampu mendorong motivasi bisnis sebagai upaya membangun sejarah terbaik bagi diri dan kehidupan.

Chairman GarudaFood Group, Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto (AWS) melalui karyanya, “Mindfulness-Based Business (MBB): Berbisnis dengan Hati”, berbagi pengalaman berbisnisnya. Buku ini berisi gagasan Sudhamek mengenai pentingnya menjaga keseimbangan sisi spiritualitas dalam pengelolaan bisnis atau organisasi. Buku ini berisi delapan bab dan disertai dengan studi-studi kasus yang dapat memperlihatkan mindfulness practices kepada pembaca sehingga lebih mudah untuk dipahami.

“Apakah kita bisa berbisnis tanpa meninggalkan moralitas dan ajaran agama?” Itulah pertanyaan socratic yang dilontarkan orangtua Sudhamek AWS lebih dari lima dekade silam kepada putra-putrinya. Sudhamek kecil yang masih berusia 12 tahun kala itu (1968) masih belum memahami dunia bisnis. Ia tidak mengerti arah pertanyaan tersebut. Bukan hanya tak mengetahui jawabannya, bahkan tak terpikirkan olehnya penyebab munculnya pertanyaan tersebut. Jawaban itu akhirnya bisa ditemukan bertahun-tahun kemudian. Dan, itu semua dituangkan dalam buku ini. Menjawab pertanyaan socratic tersebut, Sudhamek menyatakan “bisa”. Bukan hanya “bisa”, menurutnya itu menjadi sebuah keniscayaan yang fundamental bagi keberlanjutan (sustainability) sebuah bisnis.

Buku ini menyajikan tiga kiat dalam mempertahankan kelanggenan bisnis di tengah persaingan yang semakin ketat. Salah satu kiat sukses dalam menjalankan bisnis ialah manajemen yang baik. Manajemen yang baik dapat meminimalisasi risiko masalah yang mungkin timbul di kemudian hari. Sudhamek mengatakan tanpa manajemen yang baik, perkembangan bisnis keluarga dapat diliputi berbagai masalah ringan hingga berat. Beberapa di antaranya ialah masalah status kepemilikan. Tanpa manajemen yang baik, hal-hal terkait hukum lain juga dapat menjadi akar masalah besar di kemudian hari. Oleh karena itu, melalui buku ini, Sudhamek menekankan pentingnya mengembangkan intrapreneurship dalam sistem manajemen.

Selain itu, kiat lain yang tak kalah penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis dan perusahaan ialah mengembangkan inovasi sekaligus melakukan perbaikan berkelanjutan melalui budaya belajar. Kiat yang diungkapkan Sudhamek ini ialah terkait manajemen yang terukur. Dalam menjalankan bisnis dan perusahaan, Sudhamek mengatakan perlu dibangun sistem kinerja manajemen yang bisa diukur.

Hal tersebut merupakan hal yang selalu ia terapkan agar dapat menjalankan perusahaan keluarga tetap langgeng. Ketiga kiat tersebut juga dapat membantu pelaku bisnis dan usaha untuk mampu bertahan dan berkembang di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di mana persaingan bisnis sangat terbuka. Dengan manajemen yang baik, Sudhamek mengatakan MEA tak hanya menjadi tantangan tetapi juga peluang. Salah satunya peluang untuk masuknya investasi yang menguntungkan bagi perusahaan.

Sudhamek, menyampaikan gagasan mengenai pentingnya menjaga keseimbangan sisi spiritualitas dalam pengelolaan bisnis atau organisasi.

“Pada prinsipnya praktik bisnis maupun nonbisnis dengan berbasis kebersadaran agung (mindfulness) adalah bahwa berbisnis, atau berorganisasi, juga menjalankan suatu profesi, bukanlah semata-mata demi menggapai profit atau keuntungan pribadi sebanyak-banyaknya, tetapi lebih dari itu, yakni demi menumbuhkan benih-benih kebaikan bagi kepentingan bersama,” tutur Sudhamek, dalam prolog buku ini.

Ia melanjutkan, “bahkan sejatinya bisnis pun berdimensi vertikal karena apa yang diupayakan, pada saatnya, akan dipertanggungjawabkan di hadapan Yang Mahakuasa. Itulah mengapa buku memberi imbuhan ‘agung’ dalam istilah mindfulness, “karena ada dimensi kebersadaran transendental pada Sang Mahaagung,” kata Sudhamek.

Gagasan mindfulness-based business dipetakan Sudhamek menjadi delapan bab dalam buku ini. Mulai dari proses tercetusnya pemikiran spiritualitas dalam bisnis, hingga langkah-langkah implementasi yang telah ia terapkan. Setiap bagian disertai dengan studi kasus yang dapat memperlihatkan mindfulness practices kepada pembaca sehingga lebih mudah untuk dipahami. Perjalanan Sudhamek yang memiliki latar belakang unik sebagai aktivis, pengusaha dan pejabat negara, semakin memperkaya isi buku ini.

Ia memperlihatkan bahwa mindfulness bisa diterapkan di empat dunia yang berbeda: komunitas bisnis, lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi keagamaan dan lintas iman, serta pejabat tinggi negara. Tren saat ini, semakin banyak perusahaan terutama di lingkup global, yang memperkenalkan praktik mindfulness namun masih terbatas teori dan praktik dalam program workshop dan sesi online kelas-kelas meditasi. Praktik ini diyakini mampu meningkatkan komunikasi, kolaborasi dan energi kolektif karyawan dalam organisasi. Namun, melalui buku ini, Sudhamek menyadarkan kita bahwa sesungguhnya bisnis dan spiritualitas ternyata sangat bisa berjalan beriringan.

Teddy P. Rachmat, Pendiri Triputra Group mengatakan, bahwa memadukan bisnis, prinsip etika dan kemanusiaan, ibarat memadukan api dengan air. Tak banyak entrepreneur mampu memainkan dua hal paradoksikal itu dengan baik dan berimbang. Sudhamek bisa. Cara berbisnisnya adalah cerminan jiwa yang mindful: yang tak henti mencari cara agar bisnis yang dijalani memberikan semakin banyak manfaat bagi makin banyak pihak.

Buku ini berjudul Mindfulness-Based Business (MBB). Bisnis berbasiskan kesadaran penuh. MBB pada dasarnya adalah praktik berbisnis yang menjadikan profesi atau mata pencaharian kita masing-masing sebagai ‘wahana’ untuk melakukan transformasi diri, menjadi a better person. Jadi, benar bila dikatakan ‘kerja itu ibadah’ (atau lengkapnya the duty is God, that work is worship).

Dalam buku ini, Sudhamek menjelaskan bahwa esensi MBB terpatri dalam 3 poin utama: Dari sisi paradigmanya: MBB itu dilandasi oleh paradigma ICA (interdependent co-arising) atau kesaling-bergantungan antar-fenomena di dunia ini). Esensinya adalah spirit Gotong Royong atau Ubuntu (I am because we are), seperti yang dikenal di Afrika. Jadi, intinya tentang bekerjanya the Law of Interdependency. Kedua, dari sisi ‘how to’-nya: membangun MBB itu terdiri dari 4 inisiatif kunci, dan ketiga dari sisi metode membangun manusianya: melalui latihan hening (mindfulness practices).

Tiga poin di atas diurai Sudhamek yang berangkat dari pengalamannya selama aktif di Garudafood Group, Global Sevilla School, Dharma Agung Wijaya (DAW) Group serta sebuah social enterprise yang digelutinya. Di organisasi-organisasi tersebut, Sudhamek berupaya mewujudkannya menjadi sebuah MBB. Gagasan mindfulness-based business dipetakan menjadi delapan bab dalam buku setebal 272 halaman. Mulai dari proses tercetusnya pemikiran spiritualitas dalam bisnis, hingga langkah-langkah implementasi yang telah dia terapkan. Setiap bagian disertai dengan studi kasus yang dapat memperlihatkan mindfulness practices kepada pembaca sehingga lebih mudah untuk dipahami.

Bab pertama dan kedua menjelaskan kegelisahan Sudhamek yang melihat praktik bisnis yang terlalu memburu profit dengan segala cara ternyata malah menjauhkan diri dari keberlanjutan bisnis. Kegelisahan inilah yang akhirnya mengantarkan pada eksplorasi dan pemahaman tentang arti penting MBB. Selanjutnya, bab ketiga, masuk pada esensi MBB, yakni ICA. ICA adalah cara pandang yang melihat bahwa “tidak ada satu fenomena pun di dunia ini yang dalam keberadaannya, pertumbuhannya dan kelenyapannya dilakukan secara sendiri”.

Dalam konteks kehidupan perusahaan, paradigma ini membuat pendiri, pemilik, pimpinan, karyawan, mitra, dan stakeholders lainnya melihat bahwa mereka sesungguhnya saling terhubung serta membutuhkan, sehingga harus saling menumbuhkembangkan dan bersinergi, bukan mengabaikan, mengecilkan, apalagi meniadakan atau menghisap satu sama lain.

Bab keempat, mindfulness practices dikupas sebagai kiat atau metode membangun manusianya sesuai dengan calling atau panggilan nuraninya, Paradigma ICA dan Tiga Ekspresinya (pengendalian diri, cinta kasih, dan belas kasih) sebagai sebuah integrated model dalam membangun MBB. Empat bab terakhir (5-8) merupakan jawaban ‘how to’ untuk pertanyaan “Bagaimana caranya membangun MBB?”, yang terdiri dari empat inisiatif—yang diuraikan pada bab kelima, keenam, ketujuh dan kedelapan.

Inisiatif pertama, yakni merumuskan apa ‘nilai-nilai inti’ yang ada dan dijunjung tinggi dalam perusahaan. Dalam bahasa yang umum, ini disebut sebagai nilai-nilai inti perusahaan (corporate core values/CCV). Inisiatif kedua, yakni “menyeleksi bisnis” (WBAWI, What Business Are We going to be In). Bab ini menjelaskan mengapa perusahaan yang ingin menjadi MBB harus menyeleksi bisnisnya agar selaras dengan CCV-nya. Bisnis yang dijalani sebaiknya tidaklah bertolakbelakang, apalagi mengabaikan CCV yang digali dari perusahaan sebagai nilai-nilai yang sudah lama termanifestasi. Mengurai inisiatif ketiga yakni membangun sistem manajemen yang kondusif. Sistem manajemen ini terdiri atas tiga komponen besar: strategic management system, process management system, dan improvement management system, yang disebut juga sistem manajemen pembaruan.

Baca Juga : Mengenal Stoisisme dengan Filosofi Teras

Inisiatif keempat, yakni membangun sumber daya manusia (SDM) dan pemimpin unggul. Mereka adalah orang-orang serta para pemimpin yang akan menjalankan tiga inisiatif sebelumnya (nilai-nilai dasar, pilihan bisnis, serta sistem yang kondusif). Untuk mencapai hal tersebut, Sudhamek mengambil kasus Garudafood yang berupaya mengembangkan manusia-manusia unggul, yang disebut noble people (pribadi pribadi yang unggul). Unggul di sini bukan hanya bermakna kompeten dan skillfull di bidangnya semata, melainkan juga memiliki kualitas jiwa yang searah dengan nilai-nilai spiritualitas. Pribadi-pribadi unggul adalah mereka yang memadukan sifat peaceful and dynamic (bijaksana dan kompeten).

Di sini setidaknya terjawab pertanyaan: bisakah berbisnis dengan hati? Dengan MBB yang tidak hanya konseptual tetapi sebagai praksis, Sudhamek dengan bisnisnya, berbisnis dengan hati bahkan menjadi keniscayaan; prasyarat sebuah kehidupan yang harmonis, yang berkeadilan, dan bukan kehidupan yang saling mematikan. Ketika nafsu serakah manusia sebagai homo techno–economicus tiba-tiba mentok karena wabah, di sana menunggu diselenggarakan gaya hidup yang serba berkeadilan. Kesadaran manusia terhentak sebab secara radikal sikap dan perilaku manusia berubah. Dimensi transenden dan dimensi imanen bertemu dalam satu kehidupan di sini dan saat ini (hic et nunc).

Di saat yang sama, pandemi berkontribusi pada kondisi kehidupan yang sedang menyiasati Revolusi Industri 4.0. Pandemi Covid tiba mendompreng kondisi disruptif digital. Dalam era demikian, pasca-pandemi, yang dibutuhkan adalah pemimpin dan kepemimpinan yang terbuka terhadap perkembangan teknologi, terbuka terhadap kerja sama pun dengan siapa pun termasuk yang berbeda pendapat, bukan membentak-bentak memaksakan kebenaran versi sendiri. Pemimpin masa depan adalah pembelajar yang bisa mempertanyakan kebenaran suatu pernyataan dan berefleksi kritis atau berkesadaran agung menurut istilah Sudhamek.

Perjalanan Sudhamek yang memiliki latar belakang unik sebagai aktivis, pengusaha dan pejabat negara, semakin memperkaya isi buku ini. Ia memperlihatkan bahwa mindfulness bisa diterapkan di empat dunia yang berbeda: komunitas bisnis, lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi keagamaan dan lintas iman, serta pejabat tinggi negara.

Sudhamek, yang mendapat sejumlah penghargaan nasional dan internasional ini, adalah sosok yang unik sekaligus multitalenta dan multiprofesi. Ia adalah seorang pengusaha, pejabat negara, aktivis LSM, pengurus ormas keagamaan, praktisi dialog antariman, altruis, atau edukator, sekedar menyebut sekelumit contoh. Kini, Sudhamek tercatat sebagai anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang diketuai oleh Megawati Soekarnoputri, chairman Garudafood & DAW (Dharma Agung Wijaya) Group, Ketua Dewan Pengawas Majelis Buddhayana Indonesia, Sekretaris Dewan Pertimbangan DPN APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia), pendiri Global Sevilla School, dan masih banyak lagi. Ia juga anggota Dewan Penasehat Nusantara Institute.

Buku ini hadir tepat waktu. Di tengah persaingan bisnis yang semakin sengit, buku ini menunjukkan kepada kita bahwa praktik mindfulness seperti yang dilakukan oleh Sudhamek selama berkiprah di berbagai organisasi yang dinaunginya, bukan hanya optimistis, tapi realistis. Ini tentu dapat menjadi referensi bagi komunitas dunia usaha dan profesi lainnya.

Lewat buku ini kita diajak melakukan perjalanan spiritual dan berefleksi: apakah sisa hidup akan dipakai membangun bisnis yang semata-mata mengejar profit, atau justru fokus utamanya adalah seberapa besar manfaat dan kebaikan yang dapat diciptakan dan dibagikan ke banyak orang?

Buku ini sungguh menginspirasi untuk membangun dunia yang lebih baik.

 

Budhy Munawar Rachman, pengajar STF Driyarkara Jakarta

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed