by

28 Juni: Hari Berkabung Daerah Kalbar

Oleh: D. Putra

 

Perang Dunia Kedua yang berkecamuk di Eropa sejak 1 September 1939 turut berkobar hingga ke Asia Pasifik dimana Kekaisaran Jepang memulainya dengan menyerang Pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour, Hawaii, 14 Desember 1941.

Sedikit demi sedikit Jepang menaklukkan negara-negara di Asia, khususnya bagian Tenggara yang kaya akan hasil bumi dan tenaga kerja untuk kepentingan perang mereka. Pada 2 Februari 1942 Pasukan Jepang berhasil menguasai Pontianak dan disambut dengan tangan terbuka oleh rakyat.

Kedatangannya menjadi angin segar terbebasnya rakyat dari belenggu penjajahan bangsa barat (Belanda). Jepang begitu mengincar Pulau Kalimantan secara umum karena kaya akan hasil tambang yang berguna agar mesin-mesin perang Jepang tetap berjalan.

Sedangkan hasil hutan seperti kayu sangat dibutuhkan untuk membangun berbagai infrastruktur perang. (Usman, 2009: 22)Dimasa awal kedatangannya, Jepang melakukan mobilisasi terhadap rakyat untuk kepentingan mereka. Salah satunya dengan merekrut para pemuda bergabung ke organisasi militer semi-militer seperti Heiho, Seinendan maupun Keibodan. Anak- anak diwajibkan untuk sekolah dan menerima pengajaran gaya Jepang yang efektif sebagai penetrasi budaya.

Dalam bidang politik, Jepang membubarkan semua organisasi politik dan menggantinya dengan Nissinkai. Jepang mengizinkan organisasi ini karena dianggap organisasi yang mendukung Jepang.Pada tahun 1943 Jepang mulai menaruh curiga terhadap rakyat akan melakukan perlawanan.

Meskipun hanyalah sebuah desas-desus yang tidak pernah terbukti jelas. Akan tetapi Jepang mencegahnya dengan cara-cara yang sangat keji dengan melaksanakan pembunuhan massal terhadap puluhan ribu rakyat.

Mendalami kausalitas dalam Peristiwa Mandor ini menjadi hal yang menarik untuk diteliti. Agar dapat diketahui lebih jauh apa yang menjadi penyebab Jepang melakukan pembantaian terhadap rakyat dan apa dampaknya bagi kehidupan di Kalimantan Barat. Peristiwa Mandor adalah catatan sejarah kelam bangsa ini, namun tidak mendapatkan perhatian dalam pengajaran Sejarah Indonesia.

Pecahnya Peristiwa Mandor 28 Juni 1944 Pembunuhan massal yang dilakukan tentara Jepang berawal dari sebuah desas desus yang terdengar oleh pihak Jepang. Semua karena sebuah kecurigaan dimana Tokkeitai (Polisi Rahasia Kaigun) mencium adanya suatu persekongkolan untuk melawan Jepang.

Tentunya upaya perlawanan ini berangkat dari kondisi kehidupan yang kian susah dan perlakuan kejam Jepang terhadap rakyat. Berdasarkan informasi yang beredar pada April 1942, Sultan Pontianak Syarif Muhammad Al-Kadri mengundang seluruh kepala swapraja, dalam hal ini Sultan dan Panembahan di seluruh Kalimantan Barat ke Keraton Kadriyah. Inti dari undangan ini sebenarnya membicarakan kondisi kehidupan terkini.

Secara bulat para pemimpin kesultanan ini akhirnya satu pendapat bahwa satu-satunya jalan untuk mengakhiri penderitaan rakyat itu ialah dengan mengenyahkan Jepang. Jepang kemudian mendirikan Nissinkai, semacam organisasi politik yang mendapatkan restu dari SyuutizityoMinseibu Izumi dan Letnan Kolonel Yamakawa.

Organisasi ini sebagai satu-satunya wadah yang legal menurut Jepang untuk menyalurkan ide-ide politis yang tentu saja harus sejalan dengan kepentingan mereka. Akan tetapi sekuatapapun Jepang mencoba menyetir organisasi ini agar menjadi pendukung mereka, namun di dalamnya justru berhimpun orang-orang yang mengidamkan kebebasan.

Dikemudian hari kelompok aristokrat yang ingin melawan Jepang sebagaimana disebutkan sebelumnya semakin besar dengan bergabungnya sejumlah tokoh-tokoh politik Nissinkai. Orang-orang tersebut antara lain J.E Pattiasina (Kepala Urusan Umum Kantor Syuutizityo), Notosoedjono (tokoh Parindra), dan Ng Nyap Sun (Kepala Urusan Orang Asing/Kakyo Toseikatyo).

Operasi Pembantaian yang dilakukan Jepang sepanjang bulan Oktober 1943 hingga bulan Juni 1944 menghasilkan dampak luar biasa bagi tatanan kehidupan rakyat. Setidaknya ada tiga dampak akibat peristiwa ini, yaitu: (1) hilangnya generasi kaum cerdik pandai,(2) terganggunya pemerintahan feodal lokal, (3) terjadinya perlawanan etno-gerilya hebat terhadap Jepang.

Ketiga hal ini akan dibahas satu persatu, akan tetapi perlu diketahui lebih dahulu berapakorban sebenarnya dari peristiwa keji ini.Menentukan angka jumlah korban yang valid memang cukup sulit. Hal ini dikarenakan minimnya sumber tertulis dan tidak tercatat dengan baik. Jika adacatatan/dokumen mengenai jumlah korban pun, kemungkinan sudah dimusnahkan oleh tentara Jepang.

Pemerintah Provinsi KalimantanBarat secara resmi menggunakan angka korban sebanyak 21.037 jiwa. Angka tersebut berdasarkan hasil penelitian dengan mengumpulkan berbagai data baik tertulis maupun lisan. Munculnya angka demikian sebenarnya berasal dari pernyataan Kiyotada Takahashi, mantan Opsir Syuutiztyo Minseibu di Pontianak yang berkunjung ke Mandor pada Maret 1977. Ia menyebutkan memiliki catatan tentang jumlah yang ditangkap dan dibunuh secara massal sebanyak 21.037 orang.

Keterangan dari Takahashi ini dikutip oleh Alm. Mawardi Rivai (jurnalis). Meskipun angka tersebut masih menjadi perdebatan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mengklaim telah melakukan pencocokan dengan angka yang tercatat pada dokumen perang di Tokyo. Angka di atas 20.000 jiwa juga bersumber dari sumber lisan pada orang-orang yang hidup sezaman kala itu dan mendasarkannya setelah membaca lengkap koran Borneo Shinbun tanggal 1 Juli 1944.

Di koran tersebut jumlah korban yang Jepang musnahkan sekitar 20.000 orang dan terdapat di halaman ketiga, akan tetapi bukti tertulis dari Koran Borneo Shinbun yang disimpan di Kantor Arsip Provinsi Kalimantan Barat hanya terdiri dari halaman pertama dan kedua.

Baca Juga: Peristiwa Mandor: Hilangnya Satu Generasi Terbaik di Kalbar

Sebaliknya Jepang baik pemerintahnya maupun Minseifu tidak pernah secara resmi mengeluarkan berapa jumlah korban yang telah mereka bantai. Akan tetapi dalam persidangan Mahkamah Militer Sekutu terhadap para petinggi Jepang di Pontianak pada 1946, mereka hanya mengaku membunuh 1000 jiwa saja.

Berbagai kalangan baik dari pihak keluarga korban maupun saksi meragukan Jepang hanya membunuh sekitar 1000 orang saja. Hal ini semakin dikuatkan dengan kesaksian Soichi Yamamoto, mantan komandan Tokkeitai, dalam persidangan Mahkamah Militer Sekutu di Pontianak.

Dalam keterangannya target penangkapan yang direncanakan sebenarnya adalah 50.000 orang namun belum sempat terlaksana penuh karena kekalahan Jepang. Pembantaian tidak hanya terjadi di Mandor, namun juga terjadi di wilayah lain di luar Kalimantan Barat seperti Sambas, Singkawang, Landak termasuk di Pontianak.

Akan tetapi jumlah korban terbanyak ditemukan berada di Mandor. Di Kalimantan Barat sendiri penyiksaan kepada rakyat juga dilakukan oleh para mandor perusahaan Jepang yang tentusaja di topang oleh militer mereka. Pengerahan romusa untuk kepentingan ekonomi Jepang menyedot tenaga rakyat yang sangat banyak jumlahnya.

Sebagai contoh, lokasi pertambangan Petikah yang terletak di sekitar hulu Sungai Bunut, Kapuas Hulu, memperkerjakan sekitar 70.000 pekerja yang sebagian besar adalah orang Dayak. Para pekerja ini tidak diupah dan tidak mendapatkan asupan makanan yang layak. Alih-alih sejahtera, mereka yang terlihat malas bekerja akan dipukuli oleh tentara, sedangkan yang tidak bisa bekerja akan dipukuli sampai mati.

Tidak ada catatan pasti berapa jumlah pekerja tambang yang gugur di Petikah. Akan tetapi masa kerja pertambangan ini mulai dari awal tahun 1942 hingga tahun 1945 dan diperkirakan lebih dari 1000 pekerja telah menjadi korbannya. Pertambangan dan tempat kerja yang kondisinya sepertiPetikah juga tersebar di seluruh Kalimantan Barat. Usman, Din, 2009:

82-84)Sebagaimana dampak pertama yang telah dituliskan di atas, kaum cerdik

pandai yang dihilangkan Jepang sepanjang tahun 1943-1944 telah membuat daerah ini kehilangan generasi orang-orang terpelajar dan berpengaruh. Dari kalangan tenaga kesehatan.

Perlakuan Jepang yang kejam dan tidak mengenal belas kasihan akhirnya  benar-benar mendorong terjadinya perlawanan di Kalimantan Barat. Akan tetapi perlawanan ini tidak ada sangkut pautnya dengan “Kelompok Enam Sembilan”, melainkan suatu perlawanan bersenjata oleh etnis Dayak.

Peristiwa Mandor tidak terlalu berpengaruh bagi orang-orang Dayak, sebab tidak ada keluarga aristokrat, kaum cerdik pandai, atau aktivis politik dari Suku Dayak. Sehingga tidak ada peran sosial-politik atau pengaruh dari Suku Dayak yang menjadi tantangan bagi penjajahan Jepang.

Perlawanan ini awalnya disebabkan karena perkelahian Osaki, Kepala Perusahaan Kayu Nitinan di daerah Meliau yang hendak membunuh tokoh berpengaruh Dayak karena tidak disetujui untuk menikahi seorang putri Dayak. Osaki justru tewas setelah berkelahi dengan Pang Linggan dan Pang Suma.

Tewasnya Osaki merupakan suatu klimaks dari kondisi romusha yang amat memprihatinkan akibat bekerja di perusahaan kayu Nitinan pimpinannya. Masyarakat Dayak sudah muak dengan perlakuan kasar darinya, namun belum berani melawan.

Melalui suatu mufakat adat, diputuskan untuk terus berjuang mempersiapkan perlawanan terhadap jepang. Untuk itu diedarkanlah Mangkok Merah untuk menggalang persatuan seluruh suku Dayak Mangkok Merah merupakan sebuah alat konsolidasi dan mobilisasi pasukan lintas sub-suku Dayak yang efektif dan efisien.

Mangkok Merah merupakan simbol dimulainya peperangan. Mangkok Merah diedarkan dari kampung ke kampung. Kampung yang dilewati harus siap sedia untuk perang dan membantu saudara-saudara mereka yang disakiti atau dibunuh. Pasukan-pasukan Dayak ini kemudian lebih dikenal dengan Angkatan Perang Majang Desa (APMD) yang dikomandoi Pang Suma.

Perlawanan dimulai dengan menyerang perusahaan-perusahaan milik Jepang yang mendapatkan perlindungan dari tentara Jepang.Berita perlawanan ini terdengar Jepang hingga ke Pontianak dan mengirimkan ekspedisi untuk menghabisi pasukan Pang Suma yang terdiri dari tentara Kaigun reguler, tentara Kaigun Heiho, dan Keibeitai (Polisi Militer) yang dipimpin oleh Letnan Takeo Nakatani.

Sesampai di Desa Kunyil Nakatani mendapatkan perlawanan dari pasukan Pang Suma. Seketika dalam suatu kesempatan terjadi pertempuran yang sebenarnya tidak seimbang. Pertempuran berhasil dimenangi pasukan Dayak dan Letnan Takeo Nakatani berhasil dipancung kepalanya oleh Pang Suma.

Dalam pertempuran itu, turut berhasil ditewaskan pula Kaisu Nagatani seorang Keibeitai pengelola perusahaan ekspedisi Jepang di Meliau. Tewas pula Yamamoto pada 13 Juni 1945, kepala perusahaan Sumitomo Shokusan Kabushiki Kaisha (SSKK). Ia diberi gelar sebagai Tuan Pentong karena terkenal dengan sikap buruknya yakni suka “mementung” kepala para pekerja.

Orang Jepang lain yang berhasil dipancung ialah BunkenKanrikan daerah Tayan, Miyagi. Pada 24 Juni 1945, Pasukan Dayak pimpinan Pang Suma berhasil membebaskan daerah Meliau dan menjadi simbol kemenangan Pasukan Dayak melawan Jepang.

Meliau hanya dapat dipertahankan hingga tanggal 17 Juli 1945 lewat ekspedisi kedua Jepang. Pang Suma, Pang Linggan dan Pang Ape dan banyak pasukannya gugur ditembak Jepang dalam pertempuran ini. Gugurnya Pang Suma, Pang Linggan, dan martir perjuangan lainnya, nyatanya tidak membuat perlawanan terhadap Jepang surut.

Memasuki bulan Agustus 1945 perlawanan terhadap Jepang justru makin menjadi, dari perlawanan secara sporadis berkembang menjadi perang gerilya. Perlawanan etno-gerilya ini makin menjadi setelah orang-orang Dayak mengetahui para Sultan/Panembahan, sosok yang cukup dihormati bagi mereka, juga telah dibunuh Jepang. Gencarnya perlawanan ini menyebar dari Sanggau, Sekadau, Sintang, Kapuas Hulu, Landak hingga Ketapang.

Aksi pembunuhan massal atau Peristiwa Mandor menjadi luka sejarah yang sulit dilupakan bagi generasi setelahnya. Berdasarkan hasil pembahasan di atas maka dapat ditarik beberapa kesimpulan yang dapat digunakan sebagai jawaban seputar permasalahan yang telah ditetapkan di awal.Pertama, Pasukan Jepang mulai memasuki Pontianak pada tanggal 2 Februari 1942 dan diterima dengan baik oleh segenap rakyat dan kesultanan.

Di masa awalnya Jepang melakukan propaganda-propaganda agar dapat mengundang simpati rakyat. Anak-anak diwajibkan bersekolah, budaya-budaya Jepang di ajarkan, pemuda terpilih dimasukkan dalam Kaigun Heiho, Seinendan, dan Keibodan.

Singkat kata rakyat wajib mendukung mobilisasi Jepang untuk memenangkan Perang Asia Timur Raya.Akan tetapi kehidupan di masa Jepang kian hari kian terasa sulit. Sembako susah didapatkan, Jepang menutup akses distribusi antar daerah. Kebebasan berbicara atau berpolitik benar-benar ditutup.

Tindak tanduk Jepang juga mulai melakukan kekasaran dan kekejaman yang justru membuat rakyat antipati. Perlahan rakyat mulai sadar bahwa janji-janji kemerdekaan yang Jepang propagandakan hanya suatu kebohongan.Kedua, Peristiwa Mandor dilatar belakangi kecurigaan Jepang akan adanya pemberontakan rakyat.

Hal ini semakin menguat tatkala Jepang berhasil menumpas komplotan eks Gubernur Borneo masa Hindia Belanda, Bauke Jan Haga dan ratusan pengikutnya di Kalimantan Selatan. Kecurigaan itu dibalas Jepang dengan melakukan upaya pencegahan, penangkapan terhadap tokoh penguasa swapraja seperti Sultan/Panembahan, kaum terpelajar, cerdik pandai, hingga rakyat biasa.

Penangkapan yang berujung eksekusi itu terus terjadi rentang Oktober 1943 hingga akhirnya Jepang mengumumkannya dalam koran Borneo Shinbun tanggal 1 Juli 1944.

Jumlah korban yang gugur masih menjadi perdebatan, namun pemerintah Provinsi Kalimantan Barat meyakini secara resmi sebanyak 21.037 jiwa telah dibantai Jepang. Ketiga, aksi pembunuhan massal Jepang ini berdampak luas biasa bagi kehidupan masyarakat Kalimantan Barat bahkan bagi beberapa tahun setelahnya.

Wilayah ini kehilangan generasi emas dari kalangan terpelajar dan tokoh politik yang sedianya menjadi bekal untuk pembangunan provinsi ini setelah kemerdekaan. Peristiwa ini juga menyebabkan terbunuhnya dua belas Sultan/Panembahan pemimpin swapraja Pontianak, Sambas, Mempawah, Kubu, Tayan, Sanggau, Sintang, Sekadau, Ngabang, Ketapang, Sukadana, dan Simpang.

Kekejaman Jepang juga mengakibatkan perlawanan etno-gerilya oleh Suku Dayak pimpinan Pang Suma yang berhasil menewaskan sejumlah pejabat dan komandan militer Jepang. Perlawanan suku-suku Dayak terhadap Jepang terus berkobar meluas hingga menjelang proklamasi Indonesia.

 

Sumber:

Prabowo, Rikaz. 2018. Revolusi Oktober 1946 di Kalimantan Barat, Pontianak:

Enggang Media.

 

Soedarto, dkk. 1979. Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Kalimantan Barat, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

 

Aju. 2017. Kalimantan Barat: Lintasan Sejarah dan Pembangunan dari Era Kolonial Belanda. Pontianak.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed