by

2022 Tahun Toleransi : Menjadikan Islam Indonesia Barometer Moderasi Beragama

-Opini-24 views

Oleh: Ernawati

Pada tahun 2022, pemerintah telah mencanangkan sebagai tahun toleransi. Di tahun toleransi tersebut, Indonesia harus mampu menjadi barometer Negera Islam dunia dengan sikap toleransi yang bisa menghargai perbedaan yang ada. Umat Islam harus mampu berislam dengan karakter dan khittah Islam yang berlandaskan pada pemikiran yang moderat (washati).

Pandangan Islam yang moderat bukan hal baru dalam Islam. Itulah salah satu ciri khas beragama yang diajarkan oleh Islam dengan berada di jalan tengah dalam segala hal baik dalam konsep, akidah, ibadah, perilaku, dan hubungan dengan sesama manusia. Sikap tengah atau moderat merupakan salah satu ciri khas Islam untuk tidak terjebak pada sikap ekstrem.

Sikap ekstrem ditunjukkan dengan  pandangan fanatisme dan radikalisme atau berlebihan dalam beragama. Dalam beragama, fanatisme adalah penyakit yang menyebabkan cara pandang keras dan kaku dalam berfikir.  Mereka yang mengidap fanatisme tidak akan membuka peluanguntuk berdiskusi dengan orang lain.

Sikap fanatic dalam beragama merupakan sikap yang berlebihan, sikap ini akan menumbuhkan keharusan dan mewajibkan sesuatu yang sebenarnya tidak wajib. Sebenarnya Allah tidak pernah memberatkan umatnya dalam hal apapun, Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran” (Al-Baqarah 2:185)

Sikap fanatik akan berkembang menjadi sikap ekstrim yang membuat orang mampu menggugurkan hak kehormatan orang lain. Mereka bahkan akan mampu menghalalkan jiwa dan harta atas nama keyakinan yang dibela secara buta. Mereka tak segan-segan menuduh orang lain kafir dan sesat. Padahal hak tersebut merupakan hak dan kuasa Allah kepada manusia yang diciptakannya, bukan hak manusia untuk menghakimi manusia lain.

Sikap-sikap ekstrem seperti inilah yang memicu munculnya kelompok radikalisme, terorisme, dan kelompok garis keras. Munculnya fenomena beragama yang berlebihan membuat Islam eksklusif ini menciptakan sistem kesetiaan umat terhadap agamanya secara negatif. Mereka hanya akan menganggap bahwa pendapatnya adalah yang paling benar dan yang lain salah.

Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 143, “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”

Baca Juga: Komnas HAM: Pekerjaan Rumah Toleransi Beragama di Indonesia

Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa umat Islam dijadikan umat pertengahan, yakni umat yang adil dan pilihan, karena mereka akan menjadi saksi atas perbuatan orang yang menyimpang dari kebenaran baik di dunia maupun di akhirat dan akan bersaksi di akhirat bahwa para Rasul telah menyampaikan risalah kepada kaumnya, sebagaimana Nabi kita Muhammad SAW akan menjadi saksi terhadap umatnya. Umat Islam harusnya mampu menjadi umat yang ideal, penuh keseimbangan dan menegakkan keadilan.

Islam jalan tengah berarti kondisi beragama secara proposional. Apabila umat Islam di Indonesia ingin mecapai persatuan umat, maka setiap individu harus mampu berislam secara moderat dan tidak terjebak dalam fanatisme dan ekstremisme. Bagaimana caranya?

Umat Islam harus benar-benar belajar lebih memahami esensi Islam tidak hanya pada aspek ritual dan formalitas belaka. Islam juga harus dipelajari dengan cara dan sumber yang benar. Tidak cukup memahami Islam dari media sosial, namun secara langsung melalui guru dengan proses pendalaman dan dialog yang memadai.

Islam sebagai agama mayoritas tidak boleh menampakkan diri sebagai umat yang arogan. Justru kesempatan menjadi mayoritas harus dimanfaatkan untuk menjadikan Islam sebagai pelindung dan pengayom terhadap minoritas. Islam harus mampu menampilkan diri sebagai umat yang tidak hanya bisa menerima perbedaan, tetapi menjamin yang berbeda untuk hidup nyaman.

Umat Islam Indonesia harus menjadi barometer Islam di dunia yang bisa menunjukkan karakter Islam yang sebenarnya. Bukan Islam yang disalahpahami oleh dunia Barat yang menyebabkan lahirnya islamophobia. Islam Indonesia adalah Islam yang ramah dan nyaman terhadap perbedaan. Islam yang menjadi semangat untuk membangun perdamaian dan kebaikan bersama.

Dengan seperti itu, umat islam akan mampu membuka ruang yang nyaman bagi siapapun termasuk mereka yang berbeda keyakinan. Islam merupakan agama yang mengajarkan kebaikan bukan ajaran kekerasan. Dengan berislam dengan jalan tengah maka akan mampu menciptakan suasana keagamaan yang kondusif dan damai di Negara yang kita cintai ini.

Pada saatnya nanti seluruh umat Islam di dunia akan belajar terhadap Indonesia bagaimana Islam menjadi semangat dalam melakukan moderasi beragama. Islam yang mampu menghargai perbedaan dan semangat untuk membangun peradaban maju di tengah keanekaragaman. [jalandamai]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed