by

122 Napiter Nyatakan Setia Kepada NKRI dan Pancasila

Kabar Damai I Rabu, 05 Januari 2022

Jakarta I kabardamai.id I Sebanyak 122 narapidana terorisme telah menyatakan ikrar setia pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sepanjang 2021. Hal itu disampaikan oleh Kepala Bagian Hubungan Masyarakat dan Protokol, Ditjen Pemasyarakatan, Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Rika Aprianti dalam keterangannya, Sabtu, 1 Januari 2022.

“Dalam sumpahnya, para napi berjanji setia kepada Pancasila dan UUD 1945, dan akan turut serta melindungi negara dari tindakan aksi terorisme. Dengan pernyataan ikrar setia kepada NKRI ini berarti warga binaan telah siap untuk mencintai NKRI dan bersama-sama menjaga Pancasila dengan menghargai perbedaan,” ujar Rika, dikutip dari damailahindonesiaku.com (3/1).

Melansir laman Pusat Media Damai BNPT, Kemenkumham mencatat dari 122 napi yang menyatakan setia, jumlah terbanyak berasal dari Lembaga Pemasyarakatan Narkotika (Lapas) Kelas IIA Gunung Sindur dengan 68 orang narapidana. Disusul 13 narapidana dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Batu Nusakambangan, dan 9 narapidana teroris dari Lapas Kelas II A Pasir Putih Nusakambangan.

Rika menjelaskan, ikrar setia NKRI merupakan implementasi hasil akhir program deradikalisasi. Dengan demikian, lewat sumpah itu, para napi terorisme telah siap kembali membangun kehidupan di tengah masyarakat.

Dia menyebut program deradikalisasi telah melibatkan aparat penegak hukum terkait seperti dengan BNPT, TNI, POLRI, Densus 88, BIN, Kementerian Sosial, dan pemangku kepentingan lain.

“Kami berharap hal ini mampu menjadi awal bagi saudara-saudara warga binaan untuk menjadi anggota masyarakat yang memiliki kesadaran terhadap hak dan kewajiban baik sebagai individu, masyarakat, dan sebagai warga negara,” terangnya.

Strategi Cegah Modus Terorisme Melalui Perempuan

Sementara itu, Anggota Komisi III DPR, Eva Yuliana, mengharapkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) harus segera mengatur strategi pencegahan modus operandi terorisme melalui para perempuan di Indonesia.

“Saya berharap BNPT segera mengatur strategi-strategi dalam pencegahan terorisme yang modus operandinya sudah kita tangkap melalui perempuan,” ujar dia, dikutip dari damailahindonesiaku.com (3/1)

Ia menyampaikan hal tersebut saat menjadi narasumber dalam podcast bertajuk “Bicara Eksekusi Mati Terpidana Terorisme” yang diunggah di saluran YouTube Humas BNPT dipantau dari Jakarta, Senin, 3 Januari 2022.

Baca Juga: Gerakan Pemuda Ansor dan Eks Napiter Tolak Pembubaran Densus 88

Menurutnya, berdasarkan pandangan psikologis, perempuan cenderung mengutamakan emosi atau perasaannya daripada logika.

“Dalam rentang nilai 1 sampai 10, perempuan itu dianggap logikanya 1 dan emosionalnya 9. Sementara itu, laki-laki kerap dianggap emosionalnya 1 dan logikanya 9,” tandasnya.

Eva menilai, konsep itu, bisa diterapkan pula dalam modus operandi terorisme. Para anggota kelompok teroris, menurut dia, memengaruhi perempuan dengan pendekatan dari sisi perasaan untuk memaparkan radikalisme sehingga mereka pun dapat terlibat dalam aksi terorisme.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, dia memandang tindakan berupa pencegahan menjadi hal yang perlu diutamakan agar para perempuan di Indonesia tidak terpapar terorisme.

Selama ini, salah satu strategi pencegahan yang telah dilakukan pemerintah, khususnya melalui BNPT, adalah membimbing generasi muda, terutama perempuan, untuk tidak melakukan aksi terorisme.

Ia merasa optimis pemerintah akan terus mengoptimalkan upaya itu. “Saya optimis pencegahan itu akan terus dilakukan, bahkan ditingkatkan oleh pemerintah karena yang harus kita jaga dan rawat adalah generasi muda sebagai aset bangsa,” kata dia.

Sebagai aset bangsa di masa depan, lanjut dia, generasi muda memang perlu dilindungi dari pengaruh hal-hal yang tidak diharapkan, terutama terkait radikalisme dan terorisme.

Upaya pencegahan yang difokuskan kepada generasi muda itu, menurut dia, dapat pula dilakukan melalui langkah kecil, seperti bimbingan dari pihak keluarga agar anak-anak mereka menjauhi hal-hal yang berkenaan dengan radikalisme dan terorisme.

“Saya berharap kedepan dimunculkan lebih banyak strategi pencegahan modus operandi terorisme terhadap perempuan,” tandasnya. [damailahindonesiaku.com]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed