100 Tahun Nahdlatul Ulama Membangun Bangsa

Opini57 Views

Gegap gempita satu abad Nahdlatul Ulama pada 16 Rajab 1444H atau 7 Januari 2023 terdengar di seluruh penjuru Indonesia. Satu abad merupakan jangka yang sangat panjang bagi sebuah organisasi keagamaan yang melewati banyak fase dan perkembangan zaman dengan beragam permasalahan kebangsaan yang memerlukan adaptasi luar biasa.

Kirprah 100 tahun merupakan salah satu pilar penting bagi bangsa Indonesia. Dilansir dari Goodnewsfromindonesia, pada 2021 jumlah pengikut Nahdlatul Ulama(NU) mencapai 95juta orang. Jumlah tersebut tidak hanya akumulasi dari anggota yang berada di Indonesia saja, namun juga dari seluruh dunia.

Jumlah ini menunjukan NU telah menjadi organisasi massa dengan jumlah pengikut atau anggota terbanyak di seluruh dunia. Kiprah ini tidak terlepas dari para pendiri NU, khususnya KH Hasyim Asy’ari yang pada awal kemunculan NU mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad melawan penjajah dan kolonialisme yang kemudian dikenal dengan Hari Pahlawan pada 10 November.

Kiprah ini berlanjut hingga periode kemerdekaan, KH Hasyim sebagai salah satu anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dalam mempersiapkan kemerdekaan dan dasar negara Republik Indonesia. Banyak tokoh NU yang terlibat langsung dalam perumusan pernyataan kemerdekaan RI. Ditetapkannya KH Hasyim Ashari sebagai Pahlawan Nasional menjadi bukti keterlibatan NU dalam kebangsaan.Sejak kelahiran, NU terus merespon perkembangan peradaban bangsa termasuk merebut kemerdekaan dari penjajah.

Baca juga: Cap Go Meh Merangkul Ribuan Warga Kota Padang dalam Semangat Keberagaman

Tiga prinsip dasar NU dapat dianggap sangat relevan bagi kehidupan berbangsa di Negara. Tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang, proporsional).
Pertama, at-tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan.
Kedua at-tawazun atau seimbang dalam segala hal, terrnasuk dalam penggunaan dalil ‘aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli (bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits). Ketiga, al-i’tidal atau tegak lurus.

Prinsip dasar NU mampu menjaga keseimbangan bangsa di tengah serangan paham radikalisme. Tokoh pluralisme dan toleransi yang dilahirkan NU, Gus Dur, juga merupakan Presiden ke-4 Republik Indonesia. Semangat toleransi dan keberagaman Gus Dur dibawanya dari prinsip dasar NU, sehingga tidak heran jika Gus Dur memiliki sudut pandang dengan tegas menolak segala tindakan dan pemikiran terbuka terhadap persaudaraan kebangsaan dan perbedaan agama diantara bangsa.

Konsep pemikiran pluralisme Gus Dur disebut juga nonindeferent, yaitu mangakui dan menghormati keberagaman agama. Anggapan ini diperkuat dengan tiga nilai universal dalam pluralisme agama yaitu; kebebasan, keadilan dan musyawarah untuk menciptakan kemaslahatan bangsa. Pemikiran ini tidak terlepas dari nilai dasar yang dimiliki NU, dimana Gus Dur besar dan tinggal dalam lingkungan dan ajaran NU yang juga disebut Islam Nusantara.

Selain KH Wahid Hasyim, KH Hasyim Ashari, Gus Dur, masih banyak lagi pemikir NU yang kian tahun bertambah jumlahnya, mereka semua lahir dan besar dari rahim NU dalam pondok pesantren yang tersebar hampir di seluruh pelosok Indonesia.

Seratus Tahun NU dalam kiprahnya dalam mencetak pemikir Islam dalam sejarah bangsa Indonesia tentu tidak hanya berkontribusi, namun NU mampu melahirkan banyak penafsiran baru terkait ajaran agama yang hari ini dianggap sudah tidak relevan bagi dunia.

Islam Nusantara yang dimaksud bukan yang normatif namun islam dengan wajah empirik yang terindegensasi, hal ini mencakup bahwa agama islam adalah hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, penerjemahan, vernakularisasi islam universal dengan realitas sosial, budaya dan sastra di Indonesia.

Dalam pemikiran islam, keseimbangan antara wahyu (naqliyah) dan rasio(‘aqliyah) sehingga mungkin dan memiliki potensi untuk menciptakan perubahan dalam masyarakat luas. Selain itu, NU juga mengembangkan tradisi beragama sendiri yang sesuai dengan kultur budaya dan ini memiliki makna penting dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Penulis: Amatul Noor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *