by

10 Oktober 2013: Malala Raih Penghargaan Tertinggi HAM Uni Eropa

-Kabar Puan-30 views

Kabar Damai I Minggu, 10 Oktober 2021

Jakarta I kabardamai.id I Sejumlah peristiwa  menghiasi panggung sejarah nasional maupun internasional. Salah satunya adalah pemberian penghargaan tertinggi untuk hak asasi manusia kepada Malala Yousafzai oleh Uni Eropa.

Malala adalah gadis Pakistan yang nyaris tewas setelah ditembak Taliban karena upayanya memajukan pendidikan bagi perempuan.

Dilansir dari VOA Indonesia (11/10/2013), anggota parlemen Uni Eropa mengumumkan pemenang penghargaan tertinggi untuk hak asasi manusia “Sakharov Prize for Freedom of Thought” di Brussels, Kamis (10/10). Malala Yousafzai, pemenang anugerah HAM tersebut memperoleh hadiah uang $ 65.000.

Malala berusia 11 tahun saat ia menjadi aktivis untuk pendidikan perempuan, kebebasan, dan penentuan nasib sendiri di Lembah Swat Pakistan, di mana perempuan dilarang bersekolah oleh Taliban pada tahun 2009. Dia mulai menulis blog dengan nama samaran, dan dengan cepat menjadi suara terkemuka bagi hak-hak perempuan.

Dia selamat dari upaya pembunuhan Taliban saat naik bus sekolah pada tahun 2012 dan menjalani beberapa operasi di Inggris untuk membuang peluru dari lehernya dan mengurangi pembengkakan otaknya.

Sejak itu, tulis voaindonesia.com, dia tinggal di Inggris dan melanjutkan aktitasnya dengan menyampaikan pidato di PBB pada bulan Juli dan menerbitkan memoar minggu ini, pada ulang tahun pertama serangan terhadap dirinya.

Pemenang Penghargaan Sakharov sebelumnya termasuk ikon anti-apartheid Afrika Selatan Nelson Mandela, mantan Sekjen PBB Kofi Annan, dan pemimpin demokrasi Burma Aung San Suu Kyi.

 

Biografi Malala Yousafzai

Malala Yousafzai adalah anak sulung pasangan Ziauddin dan Tor Pekai Yousafzai. Ia memiliki dua adik laki-laki.

Malala lahir pada 12 Juli 1997 di Mingora, kota terbesar Lembah Swat, provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan.

Mengutip Kompas.com 12 Juli 2018, masa kecil Malala Yousafzai sangat menyenangkan karena tempat tinggalnya adalah destinasi wisata populer, dan dikenal dengan festival musim panasnya.

Akan tetapi, semua itu berubah ketika Taliban mencoba menguasai daerah tersebut. Usia Malala Yousafzai masih 10 tahun ketika Taliban mulai mengendalikan Lembah Swat dan menjadi dominan di bidang politik dan sosial.

Baca Juga: Malala Yousafzai, Aktivis Perempuan yang Berani Menentang Taliban

Taliban lalu melarang perempuan bersekolah dan kegiatan budaya seperti menari, bahkan menonton televisi juga tidak diperbolehkan.

Melansir Kompas.com, 21 Agustus 2021, serangan bom bunuh diri menyebar, dan hingga akhir 2008 Taliban telah menghancurkan sekitar 400 sekolah. Sebelum lolos dari percobaan pembunuhan Taliban, nama Malala Yousafzai sendiri sudah menggema berkat keberaniannya menyuarakan perlawanan terhadap kelompok tersebut.

Malala Yousafzai mendesak agar perempuan diperbolehkan memperoleh pendidikan. Pada September 2008 contohnya. Setelah Taliban menyerang sekolah perempuan di Swat, Malala berpidato di Peshawar dengan mengangkat judul “Betapa Beraninya Taliban Merampas Hak Dasar untuk Bersekolah”.

Malala Yousafzai juga aktif menulis di blog untuk BBC Urdu, tetapi identitasnya disembunyikan. Ia memakai nama samaran Gul Makai.

Blog Malala berisi cerita dirinya hidup di bawah ancaman Taliban, yang melarang perempuan mengenyam pendidikan. Dia mengungkapkan bahwa Taliban memaksanya untuk tinggal di rumah sehingga mempertanyakan motif kelompok itu.

 

Kencang Suarakan Hak Perempuan untuk Lawan Taliban

Perang Pakistan melawan Taliban meletus pada 2009, dan Malala menjadi pengungsi di negaranya. Dia dan keluarganya harus meninggalkan rumah untuk mencari lokasi aman yang jauhnya ratusan kilometer.

Ketika kembali ke rumah beberapa pekan kemudian, Malala menggunakan sarana media untuk melanjutkan kampanye hak bersekolah. Suaranya makin nyaring sehingga dia dan ayahnya menjadi dikenal seantero Pakistan.

Kegiatan aktivisnya berbuah manis dengan masuknya Malala Yousafzai sebagai nominasi penghargaan Nobel Perdamaian Anak Internasional pada 2011.

Pada tahun yang sama, dia mendapat penghargaan Pakistan’s National Youth Prize. Setelah selamat dari penembakan, Malala Yousafzai makin gencar menyuarakan hak-hak perempuan untuk melawan Taliban.

Pada 2013, dia melakukan pidato untuk PBB dan menerbitkan buku pertamanya berjudul I am Malala. Setahun kemudian, Malala Yousafzai menyabet Penghargaan Nobel Perdamaian saat dia berusia 17 tahun.

Malala menjadi orang termuda yang meraih penghargaan tersebut.

“Penghargaan ini tidak hanya untuk saya. Ini untuk anak-anak yang terlupakan yang ingin menempuh pendidikan. Ini untuk anak-anak yang ketakutakan, yang menginginkan perdamaian,” kata Malala Yousafzai, dikutip dari Kompas.com (21/8).

“Ini untuk anak-anak yang tidak bisa bersuara, yang menginginkan perubahan,” imbuhnya.

Tahun itu juga, ia mendirikan lembaga amal Malala Fund dengan dibantu ayahnya. Sekarang lembaga tersebut memberdayakan anak perempuan untuk mengolah potensi diri sehingga mampu menjadi pemimpin kuat bagi negara.

Proyek pendidikan dari Malala Fund tersebar di enam negara dan bekerja sama dengan pemimpin dunia. Selanjutnya tahun 2014, Malala Yousafzai meraih penghargaan Nobel Perdamaian atas perannya dalam menyuarakan hak anak.

 

Diterima Kuliah di Oxford

Malala Yousafzai, peraih Hadiah Nobel termuda dalam sejarah, diterima kuliah di salah satu universitas paling bergengsi di Inggris, Oxford.

Seperti dilansir Guardian, Kamis 17 Agustus 2017, Malala mengambil jurusan filsafat, politik dan ekonomi di Lady Margaret Hall, Universitas Oxford.

Ini adalah salah satu jurusan populer dan biasanya diambil oleh mereka yang ingin menekuni dunia politik. Banyak anggota parlemen, menteri, dan perdana menteri Inggris yang lulus dari jurusan ini.

Malala, yang kemudian menetap di Birmingham, mengumumkannya melalui akun Twitter, seraya mengucapkan selamat ke seluruh siswa sekolah menengah di Inggris yang menerima hasil aplikasi masuk ke perguruan tinggi.

“Sangat senang bisa kuliah di Oxford!! Selamat juga untuk teman-teman yang diterima kuliah, tahun yang sangat berat. Semoga kita mendapat kehidupan yang lebih baik!”

Dia lulus pada Juni 2020 saat berusia 22 tahun. Melansir Sky News, Malala melalui akun Twitter-nya mengabarkan kepada publik bahwa dia baru saja menyandang gelar sarjana jurusan Filsafat, Politik dan Ekonomi dari Universitas Oxford, Inggris.

“Sulit untuk mengekspresikan betapa senang dan bersyukurnya saya saat ini telah menyelesaikan studi saya, di jurusan Filsafat, Politik dan Ekonomi di Oxford,” tulis Malala di Twitter.

Ucapan selamat pun mengalir dari berbagai pihak, seperti Wali Kota London Sadiq Khan hingga astronot NASA Anne McClain. [VOA Indonesia/Kompas/Guardian/Tempo]

 

Penyunting: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed