by

10 Kota Jadi Kota Paling Toleran, Apa Indikatornya?

Kabar Damai I Rabu, 10 Maret 2021

 

Jakarta I kabardamai.id I Kota Salatiga memeroleh gelar sebagai Kota Paling Toleran di Indonesia tahun 2020. Predikat ini diberikan berdasarkan riset yang dilakukan Setara Institute.

Jika pada tahun 2018 Singkawang menempati urutan pertama, pada tahun 2020 giliran Kota Salatiga yang menempati urutan teratas sebagai kota paling toleran di Indonesia.

Direktur Riset Setara Institute, Halili Hasan, mengatakan bahwa riset ini didasarkan pada asumsi bahwa semua masyarakat Indonesia memiliki sifat toleran.

“Indeks Kota Toleran itu didasari keyakinan bahwa masyarakat Indonesia itu toleran, tinggal yang membedakan satu kota dengan yang lain itu mengenai tata kelola,” ujar Halili, dikutip dari Kompas.com, Rabu awal Maret (3/3) lalu.

Lantas, apa yang membedakan Kota Salatiga dengan kota lainnya dan indikator apa saja yang digunakan? Yuk, simak uraian di bawah ini!

 

Indikator Kota Paling Toleran

Setara Institute menggunakan beberapa indikator penilaian dalam riset ini. Setiap indikator tersebut pun memiliki bobot peniliaian yang berbeda.

Berikut adalah indikator penilaian Kota Paling Toleran versi Setara Institute:

  • Rencana pembangunan 10%;
  • Kebijakan diskriminatif 20%;
  • Peristiwa 20%;
  • Dinamika masyarakat sipil 10%;
  • Pernyataan pejabat publik pemerintah kota dan tindakan nyatanya 15%;
  • Heterogenitas agama 5%;
  • Inklusi sosial keagamaan 10%.

Baca Juga: Bekasi Nomor 10 Kota Paling Toleran

Dalam penilaian indeks kota toleran, Setara Institute menggunakan skala dengan rentang nilai 1 sampai 7 untuk setiap indikatornya.

Angka 1 adalah angka paling rendah atau menggambarkan situasi paling buruk. Sementara, angka 7 adalah nilai paling tinggi dan menggambarkan situasi paling baik.

Berikut adalah daftar kota paling toleran berdasarkan riset Setara Institute:

  1. Salatiga (6,717).
  2. Singkawang (6,450).
  3. Manado (6,200).
  4. Tomohon (6,183).
  5. Kupang (6,037).
  6. Surabaya (6,033).
  7. Ambon (5,733).
  8. Kediri (5,583).
  9. Sukabumi (5,546).
  10. Bekasi (5,530).

Kota toleran adalah kota yang memiliki rencana dan kebijakan pembangunan yang kondusif bagi praktik dan promosi toleransi. Selain itu tindakan pejabat di kota tersebut juga harus kondusif bagi praktik tolerasi.

Di samping itu kota toleran memiliki tingkat pelanggaran kebebasan beragama atau berkeyakinan yang rendah atau tidak ada sama sekali dan kota toleran harus menunjukkan upaya yang cukup dalam tata kelola keberagaman identitas warganya.

Setara menetapkan empat variabel dengan delapan indikator. Misalnya variabel regulasi pemerintah kota memiliki indikator yakni, RPJMD dan produk hukum pendukung lainnya.

Variabel kedua adalah tindakan pemerintah indikatornya terdiri dari pernyataan pejabat kunci dan selanjutnya regulasi sosial dengan indikator peristiwa intoleransi serta dinamika masyarakat sipil. Terakhir, demografi agama mencakup indikator heteregonitas keagamaan penduduk dan inklusi sosial keagamaan.

 

Sukabumi Urutan 9

Pemerintah Kota Sukabumi meraih penghargaan indeks Kota Toleran tahun 2020 dari Setara Institute. Hal ini menunjukkan komitmen pemkot dalam mendukung kerukunan antar umat beragama.

Setara Institute melakukan penilaian berdasarkan penelitian persoalan toleransi di berbagai kota dan kabupaten yang terfokuskan pada keberagaman di masing-masing daerah tepatnya di 94 Kota/ Kabupaten yang diriset.

” Alhamdulillah, Kota Sukabumi menjadi Kota Toleran tahun 2020,” ujar Wali Kota Sukabumi, Achmad Fahmi kepada wartawan, Jumat (26/2), kutip republika.co.id.

Pencapaian ini, rilis Republika, merupakan hasil kerjasama seluruh elemen masyarakat yang telah menjadikan Kota Sukabumi yang harmonis dengan tidak membedakan suku, bahasa, budaya dan agama. Prestasi tersebut terang Fahmi menunjukkan Kota Sukabumi berkomitmen mewujudkan visi Kota Sukabumi yang religius, nyaman, dan sejahtera (Renyah).

Makna religius dalam visi itu berarti sudah dapat membentuk masyarakat yang memiliki keshalehan pribadi dan keshalehan sosial. ” Dengan keshalehan sosial, maka dapat hidup berdampingan dengan toleransi yang tinggi dan saling menghargai agama dan keyakinan lain,” kata Fahmi, yang merupakan kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Intinya selaku kepala daerah ia ingin pemerintahannya menguatkan dan mewujudkan harmoni yang indah dalam konteks kerukunan umat beragama. [ ]

 

Penulis: A. Nicholas

Editor: –

Sumber: 99.co I kompas.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed